Yamaha Lexi

NPL BTN Cetak Rekor, Ekonom: Manajemen Kurang Hati-hati

  Rabu, 11 September 2019   Ananda Muhammad Firdaus
Logo BTN

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pencatatan rekor kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) PT Bank Tabungan Negara (BTN Persero) diduga dipicu kekurang hati-hatian manajemen dalam mengucurkan kredit kepada nasabah.

Total kredit bermasalah BTN sendiri per Juni 2019 mencapai Rp8,3 triliun dengan kredit macet alias kolektibilitas 5 sebesar Rp5,94 triliun.

Dari sisi rasio, NPL gross pada akhir Juni 2019 berada pada posisi 3,32% naik signifikan dibandingkan setahun sebelumnya yang tercatat 2,78%.

Adapun NPL net pada akhir Juni sebesar 2,42% meningkat dibandingkan setahun sebelumnya 1,8%. Sementara itu net interest margin (NIM) dari BTN pun terperosok jadi 3,53% dibandingkan setahun sebelumnya Rp 4,17%.

AYO BACA : Kredit Bermasalah Cetak Rekor, Ini Kondisi BTN Setelah Ditinggal Maryono

Ekonom dari Unpad Sulaeman Rahman Nidar mengatakan dalam pengucuran kredit semestinya BTN menerapkan prinsip 5C dengan baik antara lain pedoman character, collateral, condition economy, capacity, dan capital.

"Bila prinsip ini diimplementasikan dengan baik maka kredit bermasalah bisa ditekan seminim mungkin," ujarnya kepada Ayobandung.com, Selasa (10/9/2019).

Di samping itu, faktor perlambatan ekonomi global pun memicu kredit bermasalah tersebut.

"Kalau saya melihatnya, mungkin dari dulu dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat, kemungkinan besar akan terjadi NPL tinggi," katanya.

AYO BACA : Curhatan Mantan Bos BRI Suprajarto yang Menolak Jadi Dirut BTN

Namun, lanjutnya, saat ini terdapat beberapa cara untuk menanggulangi masalah NPL tinggi, salah satunya pembentukan lembaga Sarana Multigriya Finance (SMF) oleh Kementerian Keuangan.

Fungsi SMF sendiri untuk mensekuritisasi aset-aset perumahan yang dikredit. "Dari sekuritisasi itu, nanti bisa menanggulangi NPL yang di kredit perumahan," katanya.

Selain itu, Sulaeman menyoroti pencopotan Direktur Utama BTN Maryono dalam RUPSLB pada Kamis (29/8/2019) lalu.

"Saya melihat ada sedikit shock, jadi Pak Supra (Dirut BRI Suprajarto) ke BTN, pergantiannya secara tiba-tiba (diganti Maryono)," ujarnya.

Dari sisi aset BRI merupakan perbankan berkategori buku IV, sementara BTN masuk kategori buku III.

"Ya mungkin kaget juga kenapa beliau (Suprajarto) dipindah (ke BTN). Atau mungkin juga pemerintah ingin lebih hati-hati seperti BRI," katanya.

AYO BACA : BTN Belum Pernah Gulirkan Program DP 0%

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar