Yamaha NMax

Distribusi Film di Bioskop Indonesia Dinilai Tak Sehat

  Selasa, 10 September 2019   Nur Khansa Ranawati
Head of Creative Development Ayo Media Network, Abdallah Gifar Abisena menjadi salah satu pembicara di kuliah umum Program Studi Film dan Televisi Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD UPI) bertajuk 'Potensi Perfilman Indonesia dalam Industri Kreatif' di Auditorium FPSD UPI Bandung, Selasa (10/9/2019). (Nur Khansa Ranawati/Ayobandung.com)

SUKASARI, AYOBANDUNG.COM--Pernahkah Anda berkeinginan menikmati film garapan sineas lokal di bioskop terdekat, namun film yang diinginkan keburu 'hilang' dari peredaran bahkan sebelum Anda sempat menentukan jadwal untuk menontonnya? Bila ya, Anda tidak sendiri. Kesalahan pun tak serta-merta terletak pada 'filmnya yang kurang bagus' sehingga seolah kurang diminati penonton bioskop.

Sebut saja film-film lokal seperti Kucumbu Tubuh Indahku (2018), Night Bus (2017), ataupun Ziarah (2016). Kesemuanya tak sempat mendapat panggung yang langgeng di bioskop Indonesia disinyalir karena harus berbagi lahan dengan film-film Hollywood yang tengah berjaya. Padahal, film-film tersebut berhasil menyabet berbagai penghargaan baik di taraf nasional maupun internasional.

Head of Creative Development Ayo Media Network, Abdallah Gifar Abisena yang juga merupakan pegiat film menilai, hal tersebut dikarenakan distribusi film di Indonesia masih banyak mengandalkan pemutaran yang semuanya bermuara di bioskop dalam mal. Alhasil, pola pikir masyarakat yang hendak menonton kerap kali menjadi sekadar mencari hiburan belaka alih-alih mengapresiasi karya seni.

"Semua muaranya ada di bioskop yang ada di mal. Ada satu hal yang enggak sehat dari pemutaran di bioskop, yaitu pola yang terbangun adalah film dijadikan hiburan semata," ungkapnya ketika menjadi salah satu pembicara di kuliah umum Program Studi Film dan Televisi Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD UPI) bertajuk 'Potensi Perfilman Indonesia dalam Industri Kreatif' di Auditorium FPSD UPI Bandung, Selasa (10/9/2019).

AYO BACA : Problematika Film Indonesia: Belum Dianggap Produk Ilmu Pengetahuan

Dia mengatakan, idealnya, ada bioskop-bioskop yang memang berfokus untuk menampilkan film sebagai karya seni, tidak terdistraksi dengan kegiatan hiburan lainnya seperti saat berada di dalam mal.

"Ada bioskop yang memang ditujukkan untuk pertunjukan seni, karena enggak semua yang menonton itu ingin hiburan, tapi juga mengkaji seni," ungkapnya.

Saat ini, dia mengatakan, film-film sineas lokal yang sebenarnya memiliki nilai artistiknya tersendiri terpaksa harus bersanding dengan film-film luar yang dibuat untuk menghibur, dimana teknis pengerjaannya juga tak sederhana serta berbiaya tinggi. Sehingga, bila disuruh memilih, film-film tersebut kerap lebih dapat menyedot perhatian publik.

"Dengan biaya nonton yang sama, Ziarah bersanding dengan Iron Man, ya akhirnya orang pun terbawa. Film yang bagus jadi tidak tertonton," ungkapnya.

AYO BACA : Bioskop Akan Tetap Eksis Dibanding Platform Digital

Hal ini, Gifar menilai, juga diperparah dengan dunia perfilman Indoensia yang bahkan masih sulit disebut sebagai sebuah 'industri'. Karena, acapkali realita yang terjadi di lapangan tidak menggambarkan adanya praktik kesinambungan dalam memproduksi dan mendistribusikan komoditas (film) sebagaimana layaknya sebuah industri berjalan.

"Film di Indonesia bahkan belum sampai level industri. Pertama, kalau mau bikin film, belum tentu orang tersebut bisa bikin film kedua. Selain itu, semuanya masih dikerjakan sendiri. Mulai dari produksi sampai dipasarkan ke bioskop," jelasnya.

Seharusnya, dia mengatakan, dalam sebuah industri terdapat pihak-pihak yang menjalankan perannya masing-masing seperti distributor hingga para asosiasi profesi. Di Indonesia, asosiasi profesi seperti asosiasi sutradara, penulis, dan sebagainya juga belum terbentuk lama.

"Banyak hal yang jadi indikator level industri itu, belum tercapai di dunia perfilman kita. Ditambah orang senangnya mencari (tontonan) hiburan terus," pungkasnya.

Untuk dapat lebih mempopulerkan film di luar genre 'hiburan' tersebut kepada masyarakat, perwakilan Bandung Film Commision, Malikkul Shaleh mengatakan kegiatan sosialisasi dapat mulai digerakkan.

"Jangan sibuk bikin film aja, bisa mulai berpikir gimana caranya ngajak nonton ibu-ibu yang bahkan mungkin ke bioskop pun belum pernah. Perbanyak bersosialisasi, bikin gerakan, dan sebagainya," ungkapnya.

AYO BACA : Jejak Bioskop di Kota Kembang

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar