Yamaha Mio S

10 Kecamatan di Kabupaten Bandung Barat Alami Kekeringan

  Selasa, 10 September 2019   Republika.co.id
Ilustrasi—Sejumlah anak bermain di lahan yang terdampak kekeringan di Jalan Terusan Derwati, Kota Bandung, Kamis (18/7/2019). (Kavin Faza/Ayobandung.com)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM—Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung Barat mengungkapkan, sebanyak 10 kecamatan mengalami kekeringan akibat kemarau.

Air bersih pun terus disalurkan kepada warga yang telah mengajukan bantuan penyaluran melalui tanki.

"Titik kekeringan yang dilaporkan camat ada 10 kecamatan di antaranya Cipatat, Sindangkerta, Cipongkor, Cihampelas, Padalarang, Cisarua, dan Batujajar. Tapi belum tentu mengajukan permohonan bantuan air," ujar Kepala Pelaksana BPBD Bandung Barat Duddy Prabowo, Selasa (10/9/2019).

AYO BACA : Kekeringan Persawahan Karawang Diperparah Pendangkalan Irigasi Tertier

Sejauh ini, ia mengungkapkan, pihaknya sudah mendistribusikan 22 tanki ke delapan kecamatan yang membutuhkan dan mengajukan permohonan air bersih.

Menurut dia, pihaknya fokus menyalurkan air bersih kepada rumah tangga.

BPBD pun, lanjutnya, telah menetapkan status siaga darurat sejak 1 Agustus hingga 31 Oktober 2019. BPBD sudah berkoordinasi dengan berbagai lapisan untuk melakukan antisipasi kekeringan.

AYO BACA : Kekeringan, Kementan Tak Akan Impor Beras Hingga Akhir Tahun

"Kita lakukan penyaluran air melalui quick respon atau langsung oleh BPBD maupun bekerja sama dengan ACT. Kami stand by bagi yang memerlukan bantuan air bersih," katanya.

Dia menyebutkan, telah mendistribusikan air ke wilayah Kecamatan Cisarua kurang lebih 2 tanki terakhir kali. Ia mengimbau masyarakat agar tetap berkoordinasi apabila kekeringan terjadi dan semakin meluas di wilayahnya.

Ketua RW 08, Kampung Sindangsari, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung, Asep Suhendar mengungkapkan, aktivitas pertanian di wilayah tersebut berjalan hanya 30 persen. Mereka yang bertani menggunakan air yang dikelola secara swadaya.

"Sekarang yang pertanian cuma 30 persen menggunakan air yang dikelola swadaya. Kalau yang enggak punya mah (air) nggak tani," katanya.

AYO BACA : Sumur Wakaf Dusun Grogol Alirkan Air ke Warga

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar