Yamaha NMax

Mendidik Pengembang Gim Andal di Indigo Game Startup Incubation

  Senin, 09 September 2019   Rizma Riyandi
Bootcamp program Inkubasi Startup Gim Indigo di Gedung Bandung Digital Valley (BDV), Senin (9/9/2019). (Rizma Riyandi Rahman/ayobandung.com)

SUKASARI, AYOBANDUNG.COM -- Sebanyak 50 orang berpakaian rapi tampak fokus menyimak arahan Hoo Jia Ling, Program Directur Indigo Game Startup Incubation, di Lantai 5 Gedung Bandung Digital Valley (BDV), Senin (9/9/2019).

Mereka adalah peserta bootcamp program Inkubasi Startup Gim Indigo yang akan dilatih mengembangkan gim berkualitas selama 3 bulan, mulai dari 9 September sampai 6 Desember 2019.

Kebanyakan dari mereka berasal dari Jakarta dan Bandung. Namun ada pula yang berasal dari Yogyakarta, Semarang, Palembang, Lampung, dan Bali. Semuanya terbagi menjadi 10 tim dan satu tim terdiri dari lima orang.

Salah satu peserta dari Tim Aious, Reza Yudistira (26) mengaku beruntung dapat mengikuti program inkubasi gim pertama di Indonesia ini. Sebab program ini dapat memberikan banyak manfaat baginya. Salah satunya adalah mempertemukan para pengembang gim dengan publisher game.

"Harapannya setelah bertemu publisher, game kami bisa dipublikasikan agar lebih dikenal masyarakat," ujar pria yang juga berstatus karyawan di Universitas Pasim itu.

Menurutnya, para pengembang gim hanya mengetahui teknis pembuatan gim. Namun mereka tidak paham cara memasarkan produk yang telah dibuat. Hal inilah yang membuat industri gim di Indonesia seolah stagnan.

Reza berharap program pengembangan SDM serupa inkubasi gim ini terus berjalan sehingga jumlah pengembang gim juga akan bertambah dan memperbesar skala industri gim dalam negeri.

Pernyataan serupa juga disampaikan Hoo Jia Ling. Menurutnya pasar game di Indonesia sangat besar, namun skala industrinya sangat kecil. Bahkan jumlah pengembang gim Indonesia sangat bisa dihitung.

Hal ini dibuktikan oleh data statistik yang menunjukkan bahwa 99% gim yang dimainkan oleh penduduk Indonesia merupakan gim buatan luar negeri, di antaranya China, Amerika, dan Inggris.

Oleh karena itu, Telkom, Agate Entertaiment, dan PT Melon Indonesia membuat program Indigo Game Startup Incubation untuk mendidik dan melatih pengembang gim agar bisa bersaing dengan developer lain. Ling menuturkan, sebelumnya para peserta diseleksi terlebih dahulu.

Mereka mendaftar dan mengajukan game terbaiknya. Dari 29 tim yang mendaftar, panitia menyeleksi game yang paling bagus dan berkualitas. Sampai akhirnya tersaring menjadi sembilan tim, ditambah satu tim dari pendaftar perorangan.

Selama mengikuti program inkubasi para peserta akan didampingi oleh mentor yang sudah berpengalaman. Hingga saat ini ada lima mentor yang akan mendampingi para peserta, di antaranya dari Agate Entertaiment.

"Kegiatan utama program ini adalah mengembangkan game yang sesuai dengan keinginan pasar, mentoring dengan para mentor yang berpengalaman, dan diskusi tim," ujar Ling.

Tujuan akhirnya, para peserta mampu menciptakan gim yang bagus dan memasarkan produknya, baik gim yang berbasis PC maupun mobile. Di sini, kata Ling, peserta tidak perlu mengkhawatirkan soal pengeluaran. Pasalnya pihak panitia berkomitmen memenuhi akomodasi dan memberikan fasilitas berupa studio di Lantai 5 BDV.

Hal tersebut dibenarkan oleh Manager Incubation Management Divisi Digital Service Telkom, Johannes Adi Purnama Putra. "Semuanya gratis. Di sini kami menyediakan tempat, fasilitas, dan mentor. Uang harian pun kami berikan," papar pria yang akrab disapa Jojo itu.

Hal itu sengaja Telkom lakukan untuk memperbanyak SDM di bidang gim agar industri gim dalam negeri semakin berkembang. Bahkan tak tanggung-tanggung, Telkom sampai mengeluarkan dana miliaran rupiah untuk memuluskan program inkubasi ini.

Jojo menyampaikan, ke depannya, program inkubasi gim ini akan terus dilanjutkan. Ia menargetkan, setiap tahun pengembang gim dari Indigo Game Startup Incubation terus bertambah.

Jumlah pengembang gim Indonesia sangat jauh ketinggalan dari negara lain, bahkan masih di bawah Vietnam dan Malaysia. Oleh karenanya Jojo menargetkan, dalam satu tahun Indigo Game Startup Incubation bisa digelar sebanyak 2 batch. Sehingga selama setahun, paling sedikit pihaknya bisa melahirkan 100 pengembang gim baru.

Jojo menyampaikan, rantai bisnis inkubasi gim yang digagas Telkom ini sudah cukup lengkap. Mulai dari aspek keuangan, link industri, sampai saluran marketing. "Kalau untuk publisher kan ada Melon. Jadi ekosistemnya sudah lengkap, tinggal kontennya saja," ujarnya.

Dia berharap, Indigo Game Startup Incubation dapat melahirkan pengembang gim handal dan produknya dapat diterima banyak orang. Produk gim yang dihasilkan oleh peserta Indigo Game Startup Incubation rencananya akan ditampilkan pada Demo Day tanggal 12 Desember.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar