Yamaha Lexi

Media Siber dan Eksploitasi Konten Berita Konflik

  Minggu, 08 September 2019   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
ilustrasi. (Pixabay)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Kiwari, disinformasi seputar isu suku, agama, ras atau etnis dan antar golongan (SARA) menjadi konten informasi yang sangat cepat tersebar di era digital.

Praktis, di era ini pula menjamurnya berbagai media berbasis internet alias siber ini tidak bisa menghindar dari banjir berita. Padahal pada saat yang sama, masyarakat kerap mengeluhkan kualitas informasi yang disajikan.

Hal ini kerap terjadi dalam penyebaran berita terutama yang bernuansa SARA yang menjadi sumber persoalan atas berbagai dampak yang ditimbulkan. Imbasnya diskriminasi, persekusi sampai konflik dan polarisasi terkait isu SARA kerap mencuat di negeri ini.

Hal ini pun terangkum dalam penelitian yang dilakukan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara yang bekerja sama dengan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) yang didanai Kementrian Riset dan Teknologi di 2017-2018.

Penelitian ini menemukan sebagian besar media siber tidak menerapkan prinsip-prinsip dasar jurnalisme seperti proses verifikasi ketika memberitakan isu keberagaman. Berita-berita yang disajikan itu kemudian tak berimbang dan berpotensi salah, memojokkan pihak lain dan merugikan kelompok lemah, minoritas.

AYO BACA : Komite Keselamatan Jurnalis Kecam Pemukulan Polisi Bandung Terhadap Jurnalis

"Ini penelitian kedua, pertama di tahun 2017. Judul penelitian ini analisis media siber dalam isu keberagaman. Kami menggunakan metode konten analisis, dan FGD dengan para jurnalis. Di 2018, kami menganalisis empat daerah ini khususnya daerah rawan konflik terutama saat pilkada atau pilpres yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Barat," ungkap Direktur SEJUK Ahmad Junaidi dalam FGD di Bandung, Minggu (8/9/2019).

"Penelitian ini sebelumnya dilakukan pada empat media siber nasional yang isi konten beritanya masih banyak berasal dari satu sumber, senang dengan berita konflik, dan sebagian besar narasumber aparat pemerintah," tambahnya.

Karenanya di 2019 ini, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara kembali bekerja sama dengan SEJUK yang didanai Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) melakukan pendataan penelitian dengan menggelar FGD media siber daerah tentang konten isu keberagaman.

Diskusi ini untuk mendukung penelitian dalam memperoleh gambaran berita-berita terkait isu keberagaman di media-media siber di daerah.

Penelitian ini juga ingin mendapatkan gambaran bagaimana media siber menerapkan strategi konten atas berita-berita bermuatan keberagaman sehingga tetap menarik pembaca dengan tetap menerapkan prinsip-prinsip jurnalistik dan tidak merugikan kelompok rentan, minoritas.

AYO BACA : Media Siber Perlu Sinergitas dengan IT

"Karena pada penelitian yang dilakukan sepanjang 2017-2018 itu juga menemukan bahwa kecenderungan wartawan lebih menyukai berita-berita yang bernuansa konflik dan kekerasan daripada kerja sama dan peristiwa budaya," katanya.

"Penelitian terhadap berita-berita di empat media siber terbesar di Indonesia itu juga melihat persaingan di antara sesama media siber dalam menyajikan berita tercepat, akibatnya sering mengabaikan prinsip-prinsip jurnalistik seperti verifikasi dan keberimbangan," lanjut Junaidi.

Praktis di 2019, kegiatan FGD ini melibatkan berbagai peserta yang terdiri dari para jurnalis media siber di dua daerah, yakni Jaw Barat dan Jaw timur. Untuk temuan di Jawa Barat, Junaidi menyampaikan dari berbagai konten berita media lokal maupun media siber arus utama regional masih menerapkan strategi konten atas berita-berita bermuatan keberagaman, dengan tetap menerapkan prinsip-prinsip jurnalistik dan tidak merugikan kelompok rentan, minoritas.

"Tahun ini kami dua daerah yakni Jawa Timur dan Jawa Barat. Terutama bagaimana media di daerah-daerah ini memotret isu keberagaman di daerah. Rupanya yang kami peroleh untuk Jawa Barat, dari 50 berita media siber, 1 berita yang mendorong ke konflik. Dan 49 berita lainnya mendorong ke keragaman dan harmonisasi umat beragama," lanjut Junaidi.

Alhasil, Junaidi berharap dari diskusi yang dilakukan dengan berbagai jurnalis siber di Jawa Barat ini bisa mengetahui sejauh mana perspektif berita-berita yang disajikan media-media di daerah, khususnya Jawa Barat dan Jawa Timur yang berkaitan dengan isu keberagaman.

Bukan hanya itu, bagaimana strategi media-media siber di dua wilayah itu menyajikan berita-berita bernuansa SARA namun dengan tetap memegang prinsip-prinsip jurnalistik.

"Kami senang media di Jabar ini masih bisa mendorong keragaman. Tentu ini sangat bermanfaat untuk penelitian kami. Karena kami berencana akan melakukan penelitian tentang penyebaran konten media untuk isu keberagaman dengan penggunaan sosial media di tahun depan," ujarnya.

AYO BACA : Media Siber Boleh Adu Cepat Asal Tanggung Jawab

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar