Yamaha Lexi

Mengapa Vietnam Sukses Menarik Investor Asing?

  Sabtu, 07 September 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi investasi. (Lorenzo Cafaro/Pixabay)

Vietnam Utara tengah diterpa musim gugur, sedang musim hujan melanda Vietnam bagian Selatan. Di tengah cuaca dingin dan basah, penduduk negara itu boleh jadi bangga dipuji Presiden Joko Widodo. Menurut Presiden, Vietnam berhasil menarik 23 perusahaan yang hengkang dari Cina akibat perang dagang Cina-Amerika Serikat. Sepuluh perusahaan lagi ke Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Indonesia tak satupun!

Lalu Joko Widodo pada 4 September lalu menambahkan, salah satu penyebabnya investor hanya perlu waktu dua bulan untuk merampungkan segala perizinan.

Vietnam yang kondusif bagi investor asing sudah menjadi cerita lama. Para pengusaha Indonesia yang pernah melawat ke negara tersebut pada periode 1990-an menyanjung etos kerja para buruh.

Almarhum Sjaiful Hamid dari Salim Grup menyatakan kepada penulis, buruh-buruh Vietnam itu rajin dan tak mengeluh. “Seusai bekerja mereka mengikuti kursus-kursus atau sekolah lagi di malam hari untuk meningkatkan pengetahuan.”

Dewasa ini upah buruh sebesar US$216 (sekitar Rp3 jutaan) per bulan, atau separuh dari upah buruh di Cina. Untuk industri, pemerintah memberi subsidi listrik hingga harganya US$0,07 per jam dibandingkan dengan Indonesia US$0,10 dan Pilipina US$ 0,19 per jam.

Menurut data dari Badan Investasi Asing Vietnam, investasi asing langsung dalam lima bulan pertama tahun 2019 mencapai US$16,74 miliar, tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kebanyakan dalam sektor manufaktur, pemrosesan, ritel, dan properti. Kecenderungan ini disebabkan adanya perang dagang Cina-Amerika Serikat.

Berkat Reformasi

Reformasi atau pembaruan atau Doi Moi dimulai tahun 1986 tujuannya membuat ekonomi pasar yang berorientasi sosialis tetapi tanpa pengawasan yang terlalu ketat. Berkat Doi Moi, swasta mendapat tempat dalam memajukan perekonomian nasional. Mereka diantaranya memperoleh izin mengelola lahan sebelumnya lahan dikelola secara bersama-sama.

Kemudian, dilakukan pula deregulasi yang membuka kesempatan buat investasi asing. Pemerintah juga membuat 16 perjanjian perdagangan bebas dengan Korea Selatan, Uni Eropa dan lain-lain. Berikutnya, menjadi anggota ke 150 Organisasi Perdagangan Dunia ( WTO) pada 2007.

AYO BACA : Jokowi Sesalkan Sepinya Investasi Cina dan Jepang di Indonesia

Berdasarkan data resmi laju pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu tahun 2008 -2018 termasuk yang tercepat. Berada pada 5,03 pada 2012, mencapai 6,81 pada tahun 2017, serta 7,1 pada tahun lalu. Jadi sejak 2008, pertumbuhan ekonomi tak pernah di bawah lima persen.  

Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Vietnam 6,8 tahun ini dan tahun depan 6,7 persen.

Pertumbuhan yang relatif tinggi dan cepat tersebut sejalan dengan target pemerintah, agar perekonomian mampu menyerap tenaga kerja, mengurangi angka kemiskinan atau meningkatkan pendapatan penduduk, kata Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc beberapa waktu lalu. Sejauh ini sudah 2,3 juta orang terangkat dari garis kemiskinan.

Ternyata pemerintahan Nguyen Xuan Phuc memberi pula insentif baru bagi dunia usaha. Pajak pendapatan perusahaan dikurangi menjadi 15-17%, dari sebelumnya 20-22 persen. Ini membuat negaranya lebih kompetitif dibanding negara lain di Asia Tenggara.

Jepang merupakan investor terbesar yakni 31,6% dari total investasi asing langsung. Korea Selatan berada diurutan kedua dengan 24,9% dan Singapura 11,8%. Perusahaan-perusahaan Indonesia seperti, Citra Westlake City Development Co. Ltd. (Ciputra Group), PT. Vietmindo Energitama, Thang Long Cement, Dynaplast Packaging Vietnam Co. Ltd., Japfa Comfeed, dan Akebono Brake Astra Vietnam Co. Ltd dan belakangan IML Technology Vietnam Co. Ltd yang memproduksi dua juta botol plastik.

Iklim Politik Ketat

Sejak PM Deng Xiaoping pada 1978 sukses membuat pertumbuhan ekonomi Cina mencapai rata-rata 12 persen per tahun, negara-negara lain turut melakukan liberalisasi pasar domestiknya. Ada yang berhasil, tetapi tak sedikit yang gagal.

Uni Soviet gagal karena menjalankan perubahan serentak di bidang politik dan ekonomi, glasnost dan perestroika, akibatnya negara-negara bagian yang tergabung dalam Uni Soviet berantakan dan pakta Warsawa bubar.

Hancurnya Uni Soviet juga berkat niat lama Amerika Serikat. Ia mencapai puncaknya pada periode Presiden Ronald Reagan, 1981-1989, yang menantang perlombaan senjata angkasa luar yang menimbulkan krisis keuangan. Presiden tertua dalam sejarah AS ini mendukung gerakan anti komunis diseluruh dunia.

AYO BACA : Tergoda Rayuan Maut Investasi Bodong

Reagan membantu Lech Walesa, tokoh pergerakan buruh galangan kapal di Gdanks, Polandia. Disamping itu, Paus Yohanes Paulus II yang sebelumnya bernama Karol Jozef Wojtyla, kelahiran Wadowice, Polandia tahun 1920 memberi dukungan terhadap Lech Walesa.

Indonesia juga melakukan reformasi di bidang politik dan ekonomi pada akhir pemerintahan Presiden Soeharto. Ternyata sistem politik yang demokratis tidak sepenuhnya menunjang kebijaksanaan ekonomi padahal politik dan ekonomi seperti matauang yang mempunyai dua sisi.

Pemerintah Cina berhasil memajukan perekonomian tanpa mengendurkan kebijaksanaan politik sekalipun negara-negara Barat mengecam. Demonstrasi di lapangan Tienanmen pada 1989 misalnya, ditumpas habis. Pemerintah juga tegas. Para koruptor tak peduli apapun jabatannya dijatuhi hukuman mati di siang bolong. Banyak juga yang dikenai hukuman penjara seumur hidup.

Para investor asing rupanya tidak pula keberatan jika politik dikendalikan sebab mereka menginginkan ketenangan dan kepastian dalam berbisnis.  

Pragmatis

Di dunia ini hanya ada tiga negara yang merdeka dengan darah dan air mata. Ketiganya adalah Vietnam dan Aljir yang berhasil merebut penjajah Prancis, sedangkan Indonesia merebutnya dari Belanda.

Vietnam, pada saat masih menjadi kerajaan, juga pernah berperang selama seribu tahun dengan kerajaan Tiongkok. Merebut kemerdekaan dari Prancis dan babak belur dalam Perang Vietnam mulai 1960-1975. Berikutnya adalah bentrok perbatasan dengan Cina pada 1979 dan baru berdamai sebelas tahun kemudian.

Berkaca pada gambaran di atas, kiranya kadar nasionalisme Vietnam tidak diragukan lagi. Kebencian pada Cina telah berurat berakar dan sampai sekarang saling curiga, tetapi ke 23 perusahaan dari Cina justru pindah ke Vietnam. Mengapa demikian?

Kemungkinan besar karena para eksekutifnya berkeyakinan pemimpin pemerintahan dewasa ini bersikap pragmatis. Bisa memilah antara kepentingan politik dengan ekonomi demi kepentingan rakyat. Mereka mengarahkan nasionalisme diarahkan untuk mensejahterakan rakyat.

Farid Khalidi

AYO BACA : Kerugian Masyarakat Akibat Investasi Bodong Rp88,8 Triliun

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar