Yamaha Lexi

Yuk, Sayangi Anak-anak Kita

  Jumat, 06 September 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi anak-anak.(Pixabay)

Ada banyak seremonial di negeri dan dunia ini. Malah, sejumlah situs daring memajang daftar hari penting di Indonesia dan dunia. 

Termasuk perayaan terkait peran penting keluarga. Sebut saja ada: Hari Ibu, Hari Anak, Hari Perempuan, Hari Kartini, Hari Keluarga, dan di ujung bulan Juni ada Hari Keluarga Berencana Nasional.

Apa pun itu nama seremenoial, tujuan utama yang dikehendaki adalah peningkatan kualitas kewargaan sejak dini. Jika karakater baik dipupuk sejak dini maka ke depan kualitas kenegaraan ini bakal membaik.  

Sebab beragam fenomena dan masalah pada akhirya anak-anak pula yang menjadi korban. Anak-anak yang mestinya mendapat kecerian dan perlindungan dari tahun ke tahun malah dibiarkan menempuh jalan yang salah arah dan makin mengkhawatirkan.   

Seperti yang dialami kaum perempuan hak-hak anak Indonesia pun kerap dilupakan. Padahal, sebagaimana yang tercantum dalam Undan-undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002. "Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orangtua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak."

Namun, upaya menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpatisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi hingga kini belum dilaksanakan dengan baik dan penuh kesadaran.

Maka, ketika anak mendapat masalah, mereka bukannya mengadu atau setidaknya berkeluh kesah pada orang tuanya melainkan kepada teman-temannya. Syukur-syukur bila teman-temannya dapat dipercaya. Alih-alih mendapat solusi malah terjerembab pada pergaulan bebas dan narkoba, umpamanya.

Potensi masalah anak seperti inilah yang kini semakin menggejala di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Salah satu masalah sosial di perkotaan adalah perihal anak jalanan atau anjal.
 
Anak Jalanan

Keberadaan anjal paling tidak dibagi pada dua kategori. Pertama anjal yang mempunyai rumah. Saban selesai memperoleh pendapatan umumnya pulang ke tempat tinggalnya lalu 'setor' kepada orang tuanya.

Kedua, anjal yang sepenuhnya tinggal di jalan. Anjal tipe kedua inilah yang mesti mendapat perhatian lebih. Mereka merasa terasing di tengah gemerlap keramain kota. Anjal inilah salah satu obyek empuk untuk dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak merenungi fungsi hati nurani. Anak dijadikan komoditas yang diperjualbelikan.

Baik anjal tipe pertama maupun anjal tipe kedua --kemampuan ekonominya amat morat-marit. Dalam benak mereka sehari bisa makan sekali saja sudah terbilang untung. Perkara asupan gizi yang diperoleh tidak memenuhi standar kesehatan --mereka umumnya tidak menghiraukan.

Kini, tidak hanya anjal yang yang mendapat perlakuan tidak manusiawi, anak-anak dari keluarga berada pun hak-haknya dirampas oleh orang tuanya. Orang tua kerap menyalahartikan makna kasih sayang.
 
Nirkasih-sayang

Dalam mendidik anak-anak, umpamanya. Biasanya kita merasa cukup ketika sudah memberi beragam kemewahan materi. Terkadang kita merasa bangga dengan menyekolahkan anak pada sekolah yang dianggap favorit --yang jam belajarnya seharian penuh--.

Ditambah lagi dengan beragam kursus atau privat yang kudu dilakoni anak. Dalam tataran ini, disadari atau tidak, kita hendak membuat anak jadi robot-robot kecil. Sedang kondisi kejiwaannya diabaikan.

Inilah buah arogansi orang tua yang memaksa anak-anaknya dicetak sesuai dengan keinginan orang tuanya. Padahal masa kecil anak-anak sejatinya diberikan waktu lebih untuk bermain.
 
Ruang Bermain

Kondisi ini semakin diperparah dengan semakin sempitnya ruang terbuka untuk bermain. Memang untuk anak-anak di pedesaan masalah ruang bermain ini tidak terlalu menjadi masalah. Adapun di kota, ruang terbuka untuk bermain anak-anak kian mengkerut dan menyusut.

Di Bogor dan Bandung, umpamanya. “Mudahnya” perizinan pembangunan pusat perbelanjaan jadi salah satu penyebab kota makin penuh dengan bangunan menjulang. Lebih miris lagi mewabahnya alih fungsi kebun dan sawah menjadi pusat perniagaan dan properti.

Situasi dan kondisi ini lantas bagi kaum kapitalis dijadikan alasan untuk berbisnis dengan mendirikan pasar modern dengan ukuran super besar. Padahal sejarah 'Negorij Bandoeng' dan ‘Buitenzorg’ baheula sejatinya didirikan lebih sebagai kota taman dan peristirahatan.

Tentu, hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi geologis dan geografisnya. Kian menyusutnya lahan terbuka menyebabkan anak memilih permainan yang bersifat individual.

Untuk anak-anak yang kemampuan ekonominya menengah ke atas ruang bermain yang sempit bisa diatasi dengan jenis permainan elektronik semacam video game, PS (Play Station), dan telepon genggam multi aplikasi. Adapun bagi anak-anak yang kurang beruntung, mereka cenderung memilih permainan bersifat physically active dan dilakukan di luar rumah.

Karena lahan terbukanya kian berkurang maka dalam melakukan permainan sepak bola atau ucing-ucingan biasanya dilakukan di gang-gang sempit, jalanan, ataupun di emperan-emperan toko. Padahal permainan yang mementingkan kebersamaan seperti dalam sepak bola, ucing-ucingan, sorodot gaplok, sep dur, gatrik, bebentengan, atau sonlah bisa membentuk karakter anak.

Dari beragam permainan bersama, anak akan mengetahui situasi dan kondisi lingkungannya secara wajar. Anak akan lebih peka terhadap masalah yang dihadapinya. Anak akan menghargai aneka perbedaan yang ada pada teman-temannya, termasuk beda dalam berpendapat.

Permainan itulah yang dapat mendidik anak jadi manusia yang tidak egois, tidak manja, dan berjiwa kritis. Namun, upaya keluarga dalam menciptakan "Dunia yang Layak bagi Anak-anak" --seperti yang dideklarasikan PBB pada bulan Mei 2002-- nampaknya masih jauh dari menggembirakan.

Ironisnya, beragam momen keluarga, baik Hari Keluarga Nasional, Hari Anak Nasional, Hari Ibu, atau ritual hari-hari lainnya-- yang bertalian dengan anggota keluarga-- gema dan mafaatnya belum terasa benar. Seremonial macam itu malah kalah populer oleh peristiwa lainnya. Valentine Day, ngeprank, atau berselancar di situs Bigo dan main Tiktok umpamanya.

Kondisi macam ini satu di antaranya buah dari ketidakkonsitenan negara dalam mengelola anak-anak. Padahal negara kita telah memiliki UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Malah sanajan kita telah memiliki UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, perhatian negara terhadap anak di negeri ini masih jauh dari standar harapan.

Lantas sejauh mana pula implementasi dari kalimat "fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara?" Saya pikir, bukan sindirran yang mengada-ngada bahwa potret buram dan carut marutnya negeri ini, harus dibenahi dan diawali dengan melindungi hak-hak anak. Anak-anak Indonesia harus merdeka.

Maka, kembalilah pada anak-anak. Berilah mereka pendidikan dan ruang bermain yang lapang. Sebab, anak-anak bukanlah barang mainan. Mereka adalah titipan Tuhan dan ahli waris dunia. Oleh karena itu, yuk, sayangi anak-anak kita.

Neneng Ratna Suminar
Guru TK Alqi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar