Yamaha Lexi

Tergoda Rayuan Maut Investasi Bodong

  Jumat, 06 September 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi investasi.(Pixabay)

Kerugian akibat investasi bodong dalam sepuluh tahun terakhir (2008–2018) ditaksir sekitar Rp 88,8 triliun. Demikian dikatakan Ketua Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan(OJK), Tongam L. Tobing di Medan, Kamis (5/9/2019), seperti dikutip ayobandung.com

Ini tentu memprihatinkan. Di zaman di mana informasi demikian terbuka, masih banyak masyarakat kita yang gampang tergoda rayuan investasi bodong. Ironinya, tidak sedikit korban investasi bodong adalah para pegawai negeri sipil (PNS) yang notabene berasal dari kalangan terdidik.

Melakukan investasi merupakan sebuah keharusan. Pendapatan yang kita tidak boleh habis hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rutin. Kita perlu menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi diri kita dan keluarga kita. 

Uang yang kita miliki dari sisa pengeluaran rutin rumah tangga sebaiknya tidak dibiarkan menganggur dan tidak produktif. Berinvestasi adalah salah satu cara memanfaatkan uang secara produktif danjuga salah satu cara menyiapkan masa depan.

Berbagai peluang investasi ditawarkan, baik secara offline maupun online, dengan skema keuntungan yang tidak jarang sangat menggiurkan saat ini. Namun, banyaknya tawaran untuk berinvestasi ini sering tidak dibarengi dengan sikap kritis para calon investor. 

Padahal, sikap kritis sangat dibutuhkan agar para calon investor benar-benar paham dan lebih berhati-hati mengenai sejumlah risiko yang terkait dengan produk investasi yang akan dipilihnya.

Tidak sedikit para calon investor yang cuma fokus kepada iming-iming keuntungan yang mereka bakal peroleh dari produk investasi yang mereka pilih. Mereka abai terhadap aspek-apek lainnya, seperti aspek legalitas maupun rasionalitas.

Buntutnya, mereka dengan mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, para spekulan oportunis. Cukup dirayu dengan iming-imingi keuntungan fantastis, para calon investor tanpa mau berpikir panjang langsung menyetorkan sejumlah uang. 

Tak jarang, uang yang dipakai untuj investasi itu hasil dari pinjam sana-sini. Mereka baru kelabakan dan pening tujuh keliling di saat keuntungan yang dijanjikan kunjung datang dan pengelola investasi tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi.

Calon investor, siapa pun dia, sebaiknya paham rumus dasar investasi bahwa keuntungan investasi senantiasa sebanding dengan risiko yang bakal kita tanggung. Istilah kerennya, high risk, high return. Makin besar keuntungan investasi yang dijanjikan, maka makin besar pula risiko finansial yang bakal kita hadapi.    

Rasionalitas harus menjadi pijakan utama calon investor. Jangan sampai karena pingin cepat meraup untung besar dan pingin cepat kembali modal, lantas kita mengesampingkan rasionalitas. 

Sebelum memutuskan berinvestasi, ajukan terlebih dahulu pertanyaan kepada diri sendiri, rasionalkah keuntungan yang dijanjikan pengelola investasi? 

Bila masih sulit menjawabnya, mintalah bantuan teman atau kenalan yang memiliki pengetahuan mumpuni seputar investasi. Bila keuntungan yang dijanjikan ternyata tidak masuk akal, sebaiknya hindari untuk berinvestasi.

Tak kalah pentingnya adalah mempelajari secara seksama siapa pihak pengelola investasi. Calon investor perlu tahu siapa mereka, apa bisnis utama mereka, bagaimana rekam jejak mereka, apakah usaha mereka legal atau ilegal dan lain sebagainya. 

Bila belum yakin, lakukan pengecekan langsung ke OJK untuk memastikan apakah perusahaan investasi yang mereka kelola terdaftar atau tidak di OJK.

Banyak calon investor yang buru-buru melakukan investasi gara-gara takjub setelah mendengar dan melihat testimoni atau kesaksian tentang kesuksesan dari sejumlah investor. 

Padahal, boleh jadi testimoni tersebut adalah palsu dan merupakan sebuah trik demi merekrut calon investor sebanyak-banyaknya. Pengelola investasi dapat saja bersekongkol dengan beberapa orang yang pura-pura menjadi investor dan memberi kesaksian demi memberi kesan positif atas aktivitas bisnis investasi yang mereka jalankan.

Melakukan investasi merupakan sebuah keharusan. Tapi, kehati-hatian wajib kita prioritaskan.

Rejeki WD
Alumni Program Manajemen Keuangan dan Perbankan, AKPI Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar