Yamaha Lexi

4 Kontroversi Ridwan Kamil Selama Jadi Gubernur

  Jumat, 06 September 2019   Nur Khansa Ranawati
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum dalam Sidang Paripurna DPRD Jabar Penyampaian Pidato Visi dan Misi Gubernur Jawa Barat Masa Jabatan 2018-2023 di Ruang Sidang DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (6/8/2018). (Irfan Al-faritsi/ayobandung)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Hari ini, Kamis (5/9/2019) merupakan hari dimana pria yang banyak dikenal sebagai arsitek sekaligus mantan Walikota Bandung, Ridwan Kamil, genap satu tahun menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat. Dalam mengemban tugasnya ini, Emil, sapaan akrabnya berpasangan dengan mantan Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum sebagai Wakil Gubernur.

Dalam membangun provinsi dengan penduduk terpadat se-Indonesia tersebut, Emil-Uu memiliki motto menjadikan Jabar sebagai daerah yang "Juara Lahir Batin". Hal ini diejawantahkan ke dalam belasan program pembangunan, pariwisata, keagamaan hingga ekonomi kreatif meliputi Desa Digital, One Village One Company (OVOC), One Pesantren One Product (OPOP), Jabar Masagi, Jabar Quick Response, dan sebagainya.

Namun, dalam praktiknya, upaya yang dilancarkan dalam melaksanakan program-program yang dirancang bukan tanpa halangan. Dirinya tak luput didera sejumlah kontroversi. Mulai dari yang bersifat kritik objektif, hingga yang membuat geleng-geleng kepala.

Berikut sejumlah hal yang sempat menjadi isu yang dibincangkan masyarakat dan para pengamat selama satu tahun pemerintahannya :

1. Pembentukan TAP

Salah satu hal yang kerap digaungkan Emil terhadap para ASN Pemprov Jabar terkait pekerjaan adalah prinsip "ngabret" alias "ngebut". Guna mendongkrak hal tersebut, dirinya kemudian membentuk Tim Akselerasi Pembangunan (TAP) Jabar yang beranggotakan 19 orang. Emil mengatakan, kesemuanya memiliki spesifikasi dalam bidangnya masing-masing yang dianggap sesuai untuk membantu dirinya mengambil keputusan terkait program-program yang dijalankan.

Namun, hal ini sempat menjadi sorotan. Sejumlah anggota DPRD Jabar menilai bahwa tim tersebut dibentuk karena unsur-unsur kedekatan pribadi. Pemicunya adalah masuknya nama adik kandung Emil, Elpi Nazmuzzaman menjadi salah satu anggota TAP.

Emil kemudian membantah hal tersebut dilakukan karena dasar kedekatan belaka. Elpi dinilai memiliki kemampuan yang dibutuhkannya dalam pemerataan pembangunan.

"Untuk yang mempermasalahkan adik saya, beliau ini makhluk langka. Spesifikasinya ahli anti-monopoli, lulusan Australia dan dosen Unpad. Saya butuh input-input terkait pengembangan satu desa satu perusahaan, pengembangan pemerataan pembangunan, dan bagaimana ekonomi pancasila ini bisa dijaga," jelasnya ketika memberi keterangan pers di Gedung Pakuan, Senin (18/3/2019).

2. Pembangunan Pojok Dilan

Wacana pembangunan Pojok Dilan muncul di tengah histeria pemutaran film Dilan 1991. Emil meresmikan pembangunan Pojok Dilan secara seremonial bertepatan dengan pemutaran perdana film hasil adaptasi karya Pidi Baiq ini pada 24 Februari 2019. Hari itu juga diperingati sebagai Hari Dilan.

Saat pembukaan, Emil mengatakan Pojok Dilan akan menjadi salah satu ruang literasi dan film. "Jadi, dua dimensi ini kita harapkan akan terus muncul di masa-masa depan, sehingga nanti bisa dipakai untuk membaca novel, sastra, kegiatan-kegiatan yang sifatnya dalam dunia publikasi atau dalam dunia menulis. Juga tempatnya bisa digunakan untuk merefleksikan antara sastra juga dengan film," kata Emil kala itu.

Setelah peresmian, kritik deras muncul ke permukaan. Salah satu yang paling mengundabg perhatian adalah kritik yang dilayangkan seorang pegiat literasi, Gilly Prayoga yang menuliskan surat terbuka tentang sikap ketidaksetujuannya terhadap pembangunan Pojok Dilan.

Dia menilai sosok Dilan yang notabene merupakan tokoh fiksi dianggap kurang layak diabadikan namanya menjadi sebuah pojok literasi. Gilly menilai masih banyak sosok lain yang lebih representatif digunakan untuk menamai sebuah ruang literasi.

"Saya baca novel Dilan, ya ada beberapa yang kurang pas. Di sana dia digambarkan sebagai anggota geng motor, dan sudah berpacaran sejak SMA. Takutnya jadi role model yang seperti itu," ungkapnya.

Peresmian Pojok Dilan juga disebut Guru besar Universitas Parahyangan (Unpar) dan pengamat hukum tata negara Asep Warlan tidaak mewakili aspirasi publik. Dia menyebut tindakannya itu dilandasi preferensi pribadi Emil yang menyukai Dilan, bukan sebagai gubernur Jawa Barat.

"Ini kan sebenarnya sekadar ungkapan apresiasi Emil karena sambutan film ini di Bandung luar biasa terlebih dia sempat main di film itu, jadi lebih karena keterikatan subjektif, karena dia suka banget dengan Dilan. Ini tak terkait dengan kerja gubernur kalau menurut hemat saya," jelasnya.

Hingga saat ini, nampak belum ada perubahan bentuk signifikan di lokasi Pojok Dilan yang terletak di kawasa GOR Saparua, kecuali dua buah batu bata yang ditaruh pada saat acara peletakkan batu pertama.

3. 'Masjid Iluminati'

Rancangan bangunan Masjid Al Safar yang berada di rest area Tol Purbaleunyi ini menuai polemik setelah dituduh "menghadirkan simbol-simbol Illuminati" dalam karya arsitektural Ridwan Kamil tersebut. Tuduhan tersebut salah satunya dilayangkan Rahmat Baequni lantaran terdapat beberapa objek yang dianggap berbentuk segi tiga dan merepresentasikan simbol Illuminati.

Emil dan Rahmat akhirnya dipertemukan dalam sebuah forum terbuka di Masjid Pusat Dakwah Islam Jawa Barat, 10 Juni 2019. Forum ini ditengahi oleh Ketua MUI Jawa Barat, Rachmat Syafei.

Ridwan Kamil memberikan klarifikasi atas tudingan miring tersebut dengan mengatakan bahwa desain Masjid Al Safar terinspirasi bentuk alam di sekitar yang tidak beraturan.

"Masjid itu saya desain mengikuti bentuk alam di sekitar yang daerahnya perbukitan maka saya mengambil bentuk-bentuk alam yang tidak beraturan sehingga masjid itu menyatu dengan alam," terangnya.

Kendati demikian, eks wali kota Bandung ini juga meminta maaf jika memang desain arsitektur yang ia diaplikasikan dalam membangun sejumlah masjid dianggap kurang tepat.

"Tapi demi Allah tidak ada niat apa pun dalam benak saya dalam mendesain masjid khususnya Masjid Al Safar, kecuali ingin mendatangkan lebih banyak jamaah yang salat di situ," ujarnya.

Sebelumnya, Ustaz Rachmat Baiquni menjelaskan Yahudi akan menguasai dunia diawali dengan penyerapan dan penyebaran simbol iluminasi salah satunya lewat jalan arsitektur.

Dalam kesempatan itu, Ridwan Kamil juga mengomentari tuduhan yang menyebutkan bahwa dirinya agen yahudi, keturunan dajjal dan lain-lain sungguh menyakitkan dan tidak berdasar.

"Di sini hadir ibunda saya. Beliau menangis mendengar tuduhan itu. Tapi biarlah itu persepsi orang yang tidak tahu duduk permasalahannya. Kenapa saya banyak mendesain masjid dalam dan luar negeri karena amanah bapak saya almarhum supaya lebih banyak mendesain masjid untuk kepentingan umat," paparnya.

4. Pemindahan Pusat Pemerintahan Jabar

Hal teranyar yang menuai kontroversi dari keputusan dirinya adalah rencana pemindahan pusat pemerintahan Jawa Barat dari Kota Bandung menuju daerah lain. Wilayah Tegalluar, kawasan Walini dan Segitiga Rebana (Cirebon, Patimban, Kertajati) digadang-gadang menjadi tiga opsi pertama yang mengemuka.

Emil mengatakan, saat ini rencana tersebut tengah memasuki tahap pembahasan. Rencana untuk melakukan kajian disebut sudah masuk ke dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) Jabar hingga 2029.

Salah satu hal yang mendasari keputusan tersebut, Emil mengatakan adalah bahwa Kota Bandung dianggap sudah tak lagi representatif untuk menjalankan peran sebagau pusat pemerintahan Jabar.

"Pada dasarnya secara fisik Kota Bandung sama seperti Jakarta, sudah enggak cocok lagi melayani pusat pemerintahan karena kantor pemerintahannya (tersebar) di mana-mana, enggak produktif," ungkapnya di Gedung Sate, Kamis (29/8/2019).

Hal ini menjadi kontroversi karena selain urgensinya dipertanyakan, juga karena rencananya yang diungkap tak berselang lama dari pengumuman pemindahan ibukota negara Indonesia ke Kalimantan Timur sehingga  tak sedikit warga berkomentar hal tersebut hanya 'latah' belaka. Sejumlah anggota dewan pun tak merasa dilibatkan langsung dalam perencanaan wacana tersebut.

"Ini kemarin memang usulan Pak Gubernur, dimasukan ke recana anggaran perubahan RTRW. Tapi ini kan wacana dari gubernur sendiri. Kita sejak awal tidak diajak bicara, harusnya ngobrol dulu," ungkap Wakil Ketua Komisi IV DPRD Jawa Barat, Daddy Rohanady.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar