Yamaha Lexi

Jejak Bermakna Persib Bandung

  Rabu, 04 September 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Skuat Persib Bandung. (Irfan Al-Faritsi/Ayobandung.com)

Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (Persib) dinasibkan menjadi rahmat untuk semua umat. Tak hanya di Bandung atau Jawa Barat, di kota-kota lain di nusantara kehadiran Persib membawa banyak manfaat.

Nama besar Persib kala bertanding kerap menyedot suporter klub setempat untuk berbondong-bondong datang ke stadion.

Sebab, saat awal musim Liga Indonesia diputar (1994-1995), ketika panggung sepak bola tanah air dirajai Persib dan Mastrans Bandung Raya (MBR), heroisme anak Jakarta dalam mendukung ‘Macan Kemayoran’ kalah membahana dan hanya terdengar sayup-sayup belaka ketimbang gemerlap fanatisme para pengagum ‘Maung Bandung.’

Beberapa tahun kemudian, mungkin belajar atau merasa terinspirasi oleh pemuda Bandung, dengan dipelopori oleh selebritas Gugun Gondrong, maka peminat Persija menyatukan diri dalam wadah The Jack. 

Itu dilakukan untuk mengimbangi nilai-nilai dan  semangat jutaan bobotoh Persib yang sebagian kecil tergabung dalam kelompok Viking, Rombongan Bobotoh Kopo (Robokop), atau Bobotoh Maung Bersatu (Bomber).

Lantas The Jack pun melakukan inovasi dan kreativitas untuk mendukung tim kesayangannya. Termasuk menerbitkan beragam majalah, jual-beli barang distro, atau asesoris lainnya. 

Bahkan, salah satu fan Persija meluncurkan film yang terinspirasi persahabatan The Jack dengan bobotoh. Sayang, film itu kurang berterima di hadapan para bobotoh, terutama Viking, karena film itu terkesan menyudutkan bobotoh Persib.

Dan sejak saat itu, ‘perang dingin’ bobotoh versus The Jack makin menguat dan mencuat. Padahal, dalam industrialisasi sepak bola modern, rivalitas antarsuporter mutlak dibutuhkan. 

Dengan rivalitas, fanatisme supoter untuk mencitai tim kesayangan akan tambah heroik, solid, serta loyalitas dan daya dukung semakin masif. Anda bisa berkaca kepada rivalitas antarsuporter di liga-liga Eropa.

Tentu saja rivalitas antarsuporter dianggap wajar dan populer dengan catatan memeluk teguh nilai-nilai moralitas dan semangat sportivitas. Sebab, fanatisme yang berlebih kerap berujung dengan tindakan negatif dan destruktif. Celakanya, aparat keamanan pun malah berlaku represif. Tidak melakukan cara-cara yang persuasif.

Beberapa tahun ke belakang, bobotoh Persib baik yang tergabung dalam wadah resmi seperti Viking atau Bomber, maupun bobotoh yang lebih suka sosoranganan dan bergerombol di jalanan, dikenal publik sebagai salah satu supoter yang arogan, hayang meunang sorangan, dan tidak berjiwa besar jika Persib mengalami kekalahan. 

Maka, ketika Persib hendak bertanding urang Bandung dan sekitarnya dirundung kecemasan karena nuansa yang mengancam dan mencekam.

Tapi itu baheula, bobotoh Persib ayeuna jauh lebih santun. Ketika tim kesayangan dipencundangi tim lawan, bobotoh jarang terlihat merusak fasilitas pribadi atau umum. Kemarahan kerap ditumpahkan kepada pemain atau manajemen tim. Beberapa pelatih dan pemain menjadi korban para bobotoh hingga lengser atau mengundurkan diri dari barisan Persib. 

Perubahan sikap bobotoh yang tetap kritis tapi etis ini perlu dirawat dan terus diarahkan kepada sikap-sikap yang lebih elegan. Sebab bobotoh adalah harta berharga. Persib dan bobotoh adalah investasi tak lekang zaman dan selalu menguntungkan.

Tak percaya? Ketika Liga Indonesia terhenti (dihentikan) oleh elite PSSI, keberadaan bobotoh dan Persib tetap menarik para investor untuk menjalankan roda usahanya. Sebab yang menjadi dasar pertimbangan adalah bukan status Persib yang dituduh ilegal-formal, akan tetapi lebih pada eksistensi komunal. Meskipun perjalanan Persib di Liga Indonesia makin miskin prestasi, nilai jual Persib saban tahun terus mininggi.

Nilai jual Persib tak hanya dirasakan para pengusaha bermodal besar. Persib dan bobotoh juga menguntungkan para pelaku ekonomi kecil dan menengah. Bukan suatu kebetulan para penjual kaos beratribut Persib di pinggir jalan saban musim selau meraup keuntungan yang cukup lumayan. 

Tentu saja para perajin pakaian pun merasakan hal yang hampir sama. Perputaran uang dari industri pakaian bernuansa Persib langsung atau tidak langsung turut memperbanyak pemasukan kas daerah. Otomatis, roda usaha berbasis Persib menyebabkan tingkat pengangguran makin berkurang.

Fenomena ini disadari betuk oleh awak media. Mereka memberdayakan dunia Persib pada halaman pertama dan utama. Bukan hanya media cetak dan elektronik terbitan Bandung yang menjadikan Persib sebagai market menarik, media terbitan Jakarta, khususnya cetak, menjadikan Persib sebagai liputan utama untuk rubrik sepak bola nasional.

Itu dilakukan karena Persib adalah ‘dagangan’ yang menggiurkan. Misal, salah satu agen dan lapak koran di sekitar pangkalan Damri, Jatinangor, Sumedang, sehari atau dua hari menjelang Persib bertanding, koran harian yang dijualnya mengalami lonjakan signifikan. 

Apalagi jika Persib melawan musuh bebuyutan macam Persija, PSMS, atau Arema, jualan koran yang biasanya saban hari menyediakan cadangan 200 koran lokal, menjelang hari prestisius sang agen itu berani mencadangkan koran lokal dua kali lipat. Sebab, 150 koran saja mah pagi buta juga sudah diborong para pengecer.

Ada yang unik dari agen sekaligus pengecer di Jatinangor bernama Iwan. Di setiap pagi atau siang, saat pengunjung atau calon pembeli koran menghampiri lapak dagangannya, dengan lantang Iwan selalu membilang, “Persib menang! Persib menang!”

Saya yakin, itu bukan semata strategi dagang agar koran dan majalahnya dicari dan diburu para pembeli. Dalam tataran ini Iwan berdagang tidak melulu mencari untung, akan tetapi ada rasa cinta kepada Persib yang selalu jadi berita utama dalam media massa.

Sebab ketika salah satu calon pembeli melontarkan lelucon, “Ah, éléhan Persibna ogé.” Dengan tangkas Iwan menjawab, “Sing meunangan atuh. Urang Bandung mah kudu ngaduakeun meunang.” Kata Iwan sambil tersenyum dan membereskan dagangannya, di dekat gerbang Unpad barat.

Itulah salah satu fenomena Persib. Perjalanan hidupnya didukung seluruh lapisan masyarakat. Dan Persib, sebagaimana kita tahu bersama, sejak baheula sudah menjelma jadi milik masyarakat Jawa Barat. Menjadi identitas urang Sunda. Bukankah bobotoh Persib menyebar di hampir seluruh penjuru dunia. 

Saking fanatiknya, salah satu bobotoh berani mengabar dan mengibarkan syal, bendera, dan jersey Persib di tanah Mekah di sela-sela menunaikan ibadah umrah atau haji. Tentu saja, selaksa doa untuk kejayaan Persib Bandung kerap dipanjatkan oleh para jamaah.

Akhirul kalam, modal sosial bernama suporter, khususnya bobotoh Persib, jika dikelola dengan baik dan benar turut menciptakan iklim usaha dan rasa persaudaraan di antara anak bangsa makin menguat dan bermakna. 

Djasepudin
Guru SMA Negeri 1 Cibinong Kabupaten Bogor

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar