Yamaha Lexi

Membaca sebagai Pekerjaan Serius

  Rabu, 04 September 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi membaca. (Congerdesign/Pixabay)

“MEMBACALAH jika ingin berpengetahuan,” demikian sepenggal kalimat yang terpampang di salah satu sudut sebuah perpustakaan.

Ya, kita pasti akan mengamini kalimat tersebut. Dengan membaca kita akan lebih berpengetahuan, lebih memiliki wawasan serta akan lebih bijak dalam menilai setiap hal. Karena itu, alangkah bagusnya jika bisa terus memupuk kebiasaan membaca kita.

Terkait dengan aktivitas membaca itu sendiri, paling tidak terdapat dua motivasi yang memicu seseorang untuk membaca.

Pertama, motivasi internal. Seseorang membaca karena didorong oleh keinginan, hasrat untuk mengetahui—dan mungkin juga—menguasai sesuatu hal. Jelas, dorongan untuk membaca seperti ini timbul dari dalam diri pembaca itu sendiri. Ia membaca atas kesadaran diri sendiri, bukan karena pengaruh atau paksaan dari luar.

Kedua, motivasi eksternal. Dalam hal ini, seseorang melakukan kegiatan membaca supaya dirinya memperoleh suatu hasil tertentu. Misalnya, seorang mahasiswa yang membaca buku teks semalam suntuk agar nanti bisa menjawab soal-soal ujian sehingga mendapatkan nilai yang baik.

AYO BACA : Buku Anak Elvis Presley Akan Ungkap Rahasia Michael Jackson

Terlepas dari motivasi apa yang dimiliki seseorang untuk membaca, idealnya kegiatan membaca memang harus senantiasa dilakukan di mana pun dan kapan pun.

Namun demikian, motivasi saja masih belum cukup untuk menjamin agar kita bisa benar-benar mengerti dan memahami apa yang kita baca. Untuk itu, selain motivasi yang kuat untuk membaca, kita pun perlu mengetahui teknik-teknik membaca yang efektif.

Dalam bukunya yang bertajuk The Brain Worker’s Handbook, Dr.Kurt Kauffmann mengemukakan sejumlah teknik yang perlu dipraktikkan saat melakukan aktivitas membaca.

Pertama, membacalah untuk memperoleh informasi, bukan untuk memperoleh aneka pendapat. Bersikaplah kritis. Mengapa? Sangat banyak orang yang membaca sesuatu dan lantas memercayai begitu saja apa yang dia baca. Tidak sedikit orang yang membaca demi hanya mendukung pendapat yang telah dianutnya. Pembaca yang demikian tidak mau berpikir lagi dan percaya begitu saja pada apa yang dibacanya.

Kedua, hendaknya kita membolak-balik terlebih dahulu buku yang akan kita baca sebelum kita memutuskan membaca buku tersebut hingga tuntas. Pertimbangkan apakah buku itu bermanfaat atau tidak bagi kita. Cermatilah apakah makna buku tersebut bagi kita. Lakukan hal yang sama pula saat kita akan membaca koran atau majalah.

AYO BACA : Biografi 'Sutopo Purwo Nugroho Terjebak Nostalgia' Resmi Diluncurkan

Ketiga, jika kita membaca buku ilmiah, kita harus membacanya dengan pikiran yang objektif. Akan tetapi, jika kita membaca buku yang mengemukakan suatu pendapat atau propaganda, kita harus membaca buku itu dengan kritis. Dalam hal ini, kita harus menempatkan diri kita laksana seorang hakim. Dengan demikian, kita harus menjadi orang yang tidak gampang percaya begitu saja.

Kempat, buatlah tanda-tanda khusus pada bagian-bagian penting dalam setiap bahan bacaan yang kita baca. Tanda-tanda khusus itu bisa berupa tanda silang yang mencolok pada tepi kiri bagian yang kita baca, bisa juga berupa garis bawah pada bagian-bagian penting bahan yang kita baca.

Kelima, buatlah ringkasan atau ikhtisar dari setiap pokok persoalan yang kita baca. Ringkasan atau ikhtisar itu bisa kita tulis dalam sehelai kartu atau dalam buku catatan khusus.

Hal terpenting

Seperti diungkap di muka, idealnya membaca itu sebaiknya dilakukan di mana pun dan kapan pun. Persoalannya seberapa banyak kita harus membaca?

Banyak atau sedikit bukan merupakan hal terpenting dalam soal ini. Hal utama dalam membaca adalah yang menyangkut keefektifan dan keefisienan. Membaca sedikit tetapi efektif dan efisien jauh lebih baik dibandingkan dengan membaca banyak tetapi justru tidak efektif dan efisien.

Sementara kalangan menilai, kegiatan membaca sendiri merupakan sebuah pekerjaan mental yang melelahkan otak. Karenanya, kegiatan membaca seyogianya dianggap sebagai sebuah pekerjaan serius dalam arti yang sesungguhnya dan bukannya sebagai sebuah kegiatan rekreatif yang bisa dilakukan sambil lalu dan asal-asalan.

Sebagai sebuah pekerjaan serius, sudah barang tentu, kegiatan membaca  selalu membutuhkan konsentrasi penuh serta menuntut kesiapan mental dan fisik. Jadi, senantiasalah menyiapkan mental dan fisik kita sebelum membaca sehingga kita mampu memahami apa yang kita baca dengan sebaik-baiknya.

Djoko Subinarto

AYO BACA : Laskar Pelangi Cetakan ke-50 Lebih Ringkas, Versi Asli Andrea Hirata

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar