Yamaha Aerox

Tarumanegara Disebut Fiktif, Sejarawan Sarankan Debat Terbuka

  Selasa, 03 September 2019   Firda Puri Agustine
Peninggalan kerajaan Tarumanegara. (istimewa)

BEKASI, AYOBANDUNG.COM--Sejarawan Ali Anwar menyarankan agar dibuat acara debat atau sidang terbuka menanggapi pernyataan budayawan Ridwan Saidi yang menyebut Kerajaan Tarumanegara fiktif.

Dia menyatakan bahwa fiktif atau tidaknya kerajaan yang dimaksud harus dibuktikan secara keilmuan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Jika bisa membuktikan, maka penelitian sebelumnya dianggap gugur. Namun, jika tidak, maka harus diumumkan ke publik tentang kelemahan penelitiannya, kemudian meminta maaf.

“Makanya, bikin aja acara debat atau sidang terbuka. Dari situ akan terlihat siapa yang paling benar,” kata Ali kepada AyoBekasi, Selasa (3/9/2019).

AYO BACA : Kerajaan Tarumanegara Disebut Fiktif, Sejarawan Minta Pembuktian

Menurutnya, keberadaan Kerajaan Tarumanegara sudah diteliti oleh para ahli arkeologi dan ahli filologi seperti Slamet Mulyana dan Hasan Jafar. Ali juga tahu persis bagaimana Hasan Jafar nyaris bekerja sendiri pada saat peneliti lain meninggalkan Batujaya.

“Hasil penelitiannya (Hasan Jafar) jadi disertasi doktor dan diterbitkan. Siapapun yang membacanya akan mendapatkan sesuatu yang bernilai,” ujarnya.

Sebelumnya, budayawan Betawi Ridwan Saidi menyatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Tarumanegara adalah fiktif. Hal itu didasarkan adanya kekeliruan penerjemahan bahasa, sehingga tidak ada bukti kuat mengenai keberadaan Kerajaan Tarumanegara.

Untuk diketahui, Bekasi disebut-sebut pernah menjadi ibu kota Kerajaan Tarumanegara. Jejak sejarah  kejayaan Tarumanegara di Bekasi tercatat dalam Prasasti Tugu yang ditemukan di daerah Tugu, Cilincing, Jakarta Utara.

Prasasti itu menyebut perintah Raja Purnawarman untuk menggali Kali Candrabhaga atau Kali Bekasi yang bertujuan untuk mengairi sawah dan menghindar dari bencana banjir yang kerap melanda wilayah Kerajaan Tarumanagara.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar