Yamaha Lexi

Melempar si Kulit Bundar ke Lantai Bursa

  Selasa, 03 September 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi bola.(Pixabay)

Masuknya klub sepak bola ke lantai bursa merupakan langkah tepat dilihat dari kacamata bisnis modern. Sudah saatnya pengelolaan klub sepak bola profesional tidak melulu bergantung pada kucuran dana dari hasil sponsorship, penjualan tiket pertandingan maupun pembayaran hak siar pertandingan.

Bulan Juni lampau, Bali United berhasil menjadi klub sepak bola Indonesia pertama yang go public di Asia Tenggara.

PT Bali Bintang Sejahtera, perusahaan yang menaungi Bali United, telah melakukan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO).

Dalam IPO itu, perseroan telah melepas sebanyak dua miliar saham atau sekitar 33,33% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor, dengan harga penawaran yakni Rp175 per saham. Dengan begitu, perseroan memperoleh dana sebesar Rp350 miliar.

Rencananya, dana dari hasil IPO tersebut sekitar 19,1% akan dipakai untuk belanja modal, lantas sekitar 20,4% untuk memperkuat struktur permodalan anak perusahaan dan 60,5% akan digunakan sebagai modal kerja perseroan.

Apa yang dilakukan Bali United tampaknya akan segera diikuti oleh sejumlah klub lainnya. Salah satunya Arema, yang kabarnya sedang bersiap-siap untuk melepas sebagian sahamnya ke lantai bursa, sehingga klub asal Kota Malang ini bakal menjadi go public. Perwakilan manajemen Arema kabarnya sudah melakukan pertemuan dengan perwakilan Bursa Efek Indonesia.

Masuknya klub sepak bola ke lantai bursa tentu saja menjadi catatan penting bagi perjalanan industri sepak bola Tanah Air. Kita sama-sama tahu, sebagai salah satu cabang olahraga paling populer, sepak bola senantiasa mampu menyedot minat dan perhatian banyak kalangan, termasuk para kawula muda di negeri ini.

Tidak sedikit generasi muda kita yang kemudian menjadi pendukung fanatik tim/klub sepak bola, entah itu tim/klub sepak bola yang berasal dari luar negeri maupun tim/klub dari dalam negeri. Saking fanatiknya, segala macam cara dan upaya mereka lakukan demi bisa mendukung tim/klub kesayangan mereka.

Dalam tataran industri sepak bola, para suporter merupakan salah satu elemen krusial yang ikut berkontribusi menopang hidup matinya sebuah tim/klub sepak bola. Selain sponsor, loyalitas suporter menjadi salah satu andalan bagi mengalirnya pemasukan finansial sebuah tim/klub sepak bola sejauh ini.

Di sisi lain, tatkala tim/klub bertanding, suporter menjadi “pemain ke-12” yang dibutuhkan karena turut berperan penting dalam memompa mental serta semangat bertanding para pemain tim/klub pujaan mereka. Di Tanah Air, misalnya, sejumlah tim/klub sepak bola yang berkompetisi di liga nasional kita merupakan tim/klub besar yang memiliki banyak pendukung fanatik.

Dalam hal pembiayaan, selama ini, klub-klub sepak bola kita memang lebih mengandalkan pendanaannya terutama dari pihak sponsor dan penjualan tiket pertandingan, selain juga dari pembayaran hak siar pertandingan.

Problemnya yaitu tatkala dana dari hasil sponsorhip, penjualan tiket dan pembayaran hak siar sama sekali tidak mampu menutup biaya operasional, klub bisa langsung kelabakan.

Tidak sedikit klub sepak bola kita yang akhirnya terpaksa harus gulung tikar, atau dipindahtangankan, akibat raihan dana sponsorship dan hasil penjualan tiket pertandingan serta pembayaran hak siar tidak mampu mengimbangi besarnya ongkos operasional klub.

Seperti bisnis lainnya, pengelolaan klub sepak bola modern senantiasa menuntut pembiayaan yang tidak sedikit. Klub perlu memiliki stadion dan sejumlah fasilitas penunjang yang representatif, menggaji pengurus, mengontrak pemain dan pelatih yang berkualitas serta menggaji mereka secara layak dan tepat waktu. Itu semua memerlukan uang dalam jumlah besar.

Dana dari hasil sponsorship, penjualan tiket pertandingan serta pembayaran hak siar pertandingan mungkin saja tak selamanya mampu meng-cover pengeluaran bagi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Di sinilah pentingnya klub perlu mencari sumber-sumber pendanaan lain.

Melakukan IPO di bursa saham merupakan salah satu terobosan bagi klub sepak bola dalam upaya memperoleh suntikan dana segar secara cepat. Apa yang dilakukan Bali United dengan melempar sebanyak dua miliar saham ke lantai bursa merupakan sebuah hal tepat dilihat dari kacamata bisnis.

Bagaimana pun, sudah saatnya pengelolaan klub sepak bola tidak melulu bergantung pada duit hasil sponsorship, penjualan tiket pertandingan maupun pembayaran hak siar pertandingan.

Dengan mendapatkan sumber pendanaan dari penjualan saham ini diharapkan kinerja finansial klub menjadi semakin kuat dan semakin stabil sehingga klub tidak menemui kendala dalam hal mengontrak dan menggaji pelatih maupun para pemain yang berkualitas.

Pada saat yang sama, dengan kondisi finansial klub yang kuat dan stabil, pelatih maupun pemain tidak akan dipusingkan lagi dengan urusan gaji mereka sehingga mereka diharapkan dapat berkonsentrasi penuh untuk selalu tampil prima dalam setiap laga.

Di sisi lain, adanya sumber pendanaan dari penjualan saham ini juga diharapkan bisa turut berkontribusi bagi terciptanya sistem pengelolaan klub sepak bola yang lebih profesional dan lebih sehat.

Djoko Subinarto

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar