Yamaha Lexi

Demi Kesehatan Mental, Facebook Akan Hapus Jumlah Like di Unggahan

  Selasa, 03 September 2019   Republika.co.id
Simbol Like Facebook. (Pete Linforth/Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM—Facebook Inc sedang mengkaji rencana menghentikan tampilan jumlah suka (like) dalam unggahan para penggunanya.  Hal ini bertujuan guna mengurangi tekanan sosial di media sosial yang dapat memicu gangguan kesehatan psikologis.

Perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu menginformasikan hal tersebut, namun menolak membeberkan rincian rencana itu. Akankah kebijakan itu diuji coba secara masif kepada pengguna?

AYO BACA : Lindungi Kesehatan Mental, Selena Gomez Hapus Aplikasi Instagram

"Kami sedang mempertimbangkannya, namun masih terlalu dini untuk memastikan apakah kami akan menguji cobanya secara luas," tulis pihak Facebook, menurut laporan TechCrunch, dilansir Selasa (3/9/2019).

Melalui rencana penghapusan tersebut, pengguna lain hanya akan melihat nama teman bersama (mutual) yang menyukai pemilik konten atau kiriman. Tujuannya, mencegah pemilik membandingkan diri dengan orang lain dan berupaya menghentikan pengguna dalam menghapus konten yang menurutnya tak begitu disukai.

AYO BACA : Saudara Perempuan Pengaruhi Kesehatan Mental?

"Hanya orang pemilik kiriman yang bisa melihat jumlah penyuka kontennya, orang lain tak akan bisa lagi melihatnya (kecuali teman bersama/mutual)," jelas Peneliti Ahli Keamanan Siber, Machun Wong, yang mengidentifikasi prototipe wacana Facebook, mengutip Bloomberg.

Langkah yang sama sudah diterapkan dalam platform Instagram, dimulai dari uji coba di Kanada awal tahun ini. Kini, kebijakan itu telah berlaku di tujuh negara, termasuk Brasil dan tentunya Kanada.

Sayangnya, Facebook menolak membagikan hasil dari uji coba jumlah suka Instagram, menurut TechCrunch.

Jika memang tes dilanjutkan, Facebook agaknya akan mengimplementasikannya secara bertahap, lalu menghentikannya jika hal itu merugikan terhadap sisi penggunaan atau pendapatan iklan.

AYO BACA : Gawai Sebabkan Masalah Mental, Ini Kata Peneliti

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar