Yamaha Lexi

Menikmati Dunia Hades

  Minggu, 01 September 2019   Dadi Haryadi
Salah satu adegan pertunjukkan teater multimedia berjudul Hades Fading di NuArt Sculpture Park, Bandung, Jumat (30/08/2019). (Foto : Godi & The Kantjutkundang's)

Seni peran itu adalah mengenang kembali emosi. Entah dari siapa datangnya pendapat itu. Apakah Stanislavski, Strasberg, atau Boleslavsky? Saya sudah lupa. Sebab saya hanya pernah membacanya sekali, waktu masih terobsesi menjadi seorang aktor panggung. Manusia-manusia teater pasti tahu nama-nama itu, dan pasti bisa menjawabnya.

Yang saya ingat, Stanislavski pernah punya pemikiran, dan menjadi teori peran yang disebut memori afektif. Menurutnya untuk menghasilkan sebuah peran yang wajar dan realistis, seorang aktor harus mengalami emosi-emosi dan perasaan-perasaan subyektif dalam dirinya. Dan menurut saya, Godi Suwarna sudah melakukannya sebagai Dewa Hades dalam pertunjukan teater multimedia yang berjudul Hades Fading. Produksi Mainteater Bandung yang bekerjasama dengan seniman dari Melbourne di NuArt Sculpture Park pada Jumat malam (30/8/2019).

Akting Godi Suwarna malam itu—apalagi saat membincangkan cinta dalam adegan bersimpuh di hadapan Persephone, seperti benar-benar datang dari kepedihan hati yang sesungguhnya. Barangkali memang seperti itu gambaran perasaannya saat ini. Dirundung rasa ngungun yang teramat dalam.

Malam itu saya sangat menikmati penampilan seluruh pemain. Pesona akting Heliana Sinaga sebagai Euridyce berhasil menyihir penonton. Heliana Sinaga bermain begitu rileks dengan gestur yang luwes, serta artikulasi dan intonasi suara yang nyaris tak ada cela. Dia pun sebagai pemain yang paling banyak porsi bermainnya, begitu tabah berada di atas panggung selama pertunjukan 1,5 jam itu berlangsung.

Begitu pula penampilan aktris teater kahot Kota Bandung Rinrin Candraresmi sebagai Persephone, selalu bermain konsisten seperti dalam Citraresmi, mempertontonkan olah suaranya yang sangat “bedas dan ngoncrang”. Penampilan Wawan Sofwan sebagai Orpheus tak usah diragukan lagi. Penikmat teater sudah tahu siapa dia. Malam itu Wawan Sofwan mempertontonkan penampilan olah tubuh dan suara yang begitu terkendali.

Hades adalah dewa dunia bawah yang suram dan berkabut dalam mitologi Yunani. Dunia gelap kematian, tempat roh manusia bergentayangan. Di sana Hades tinggal ditemani istrinya Persephone. Euridyce yang gelisah menghuni dunia bawah karena mati digigit ular berbisa di hari pernikahannya. Suaminya, Orpheus sang pemusik, mendatangi dunia bawah karena ingin istrinya itu hidup kembali. Karena kagum pada karya musik Orpheus, Hades mengabulkan permintaan Orpheus dengan satu syarat, yang malah dilanggar Orpheus akibat kegirangan.

Jalinan kisah itu yang coba disuguhkan oleh sutradara asal Australia Sandra Fiona Long dengan dukungan Safrina S. Noorman sebagai penerjemah naskah. Sandra Fiona Long memadukannya dengan konsep pasca apokaliptik yang sulit saya tangkap selama pertunjukan berlangsung. Namun sebagai tontonan yang utuh, pementasan ini berhasil memikat para penonton.

Pemahaman apokaliptik yang saya cerna sebagai kemerosotan keyakinan kepada wakil Tuhan di muka bumi, gambaran dari tanda-tanda akhir jaman seperti yang dinterpretasikan dalam film 2012  atau The Day After Tomorrow, serta unsur-unsur simbolik sebagai ciri apokaliptik, satu sama lain coba saya rangkaikan jalinannya selama pertunjukan. Sepertinya sajian visual multimedia dan video mapping dengan sederatan teks itu bisa dianggap mewakili simbol-simbol apokaliptik tersebut.

Saat ini sepertinya dunia teater telah menemukan pijakan baru dengan hadirnya perangkat multimedia serta video mapping. Menjadi solusi dari mandegnya kreativitas imajinasi dunia teater karena keterbatasan penuangan ke dalam tata panggung. Setelah Teater Koma mulai mencobanya dalam beberapa pertunjukan terakhirnya, kini Sandra Fiona Long menyuguhkan hal yang sama dalam Hades Fading.

Dunia Hades boleh saja memudar. Tetapi tidak dunia teater. Dengan mulai hadirnya alternatif pertunjukan teater modern dengan sokongan permainan multimedia, saya rasa imajinasi para sutradara teater tidak lagi terbelenggu. Justru hal ini akan merangsang kreativitas baru, dan pertunjukan seni panggung di tanah air akan kembali menggeliat.

Budi Mugia Raspati
Pegawai Ditjen Pajak

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar