Yamaha Aerox

Sejarah RSHS, dari Rumah Sakit Militer hingga Jadi Rujukan Nasional

  Selasa, 27 Agustus 2019   Nur Khansa Ranawati
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). (Dok. Pemprov Jabar)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM—Pada masa pendudukan Belanda di Indonesia, tahun 1900-an, wabah pest dan malaria banyak menjangkiti penduduk, terutama di sejumlah daerah seperti Sumatera dan Jawa Timur. Kala itu, beberapa dokter dari kalangan pribumi memiliki andil besar memberantas virus-virus tersebut, sebagaimana yang dilakukan Dr. Sutomo dan Dr. Tjipto Mangunkusumo.

Agar wabah penyakit semakin terkendali, Belanda berupaya mencetak lebih banyak dokter, termasuk dari pribumi, salah satunya dengan mendirikan STOVIA atau School tot Opleiding van Indische Artsen (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia). Sejalan dengan hal itu, pembangunan sejumlah rumah sakit pemerintah maupun swasta pun turut digencarkan.

Di Kota Bandung, beberapa rumah sakit yang dibangun pada era kolonial Belanda di antaranya Het Algemeene Bandoengsche Ziekenhuis (RSHS) tahun 1917-1919, Instituut Pasteur (Laboratorium Kesehatan), Kinine Fabriek, RS Cicendo, serta sebuah sanatorium. Kala itu, Algemeene Bandoengsche Ziekenhuis berperan serupa Rumah Sakit Umum yang dapat menampung cukup banyak pasien dan diresmikan pada 15 Oktober 1923.

Beberapa tahun kemudian, rumah sakit dengan kapasitas 300 tempat tidur tersebut berubah nama menjadi Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana, guna menghormati Ratu Juliana. Rumah sakit ini tercatat sebagai salah satu rumah sakit tua dan terlengkap di Kota Bandung. F.J.I. Ghijsels diketahui sebagai seorang arsitek yang merancang bangunan rumah sakit ini, atas prakarsa Vereeniging Bandoengsche Ziekenhuis (Asosiasi Rumah Sakit Bandung).

Rumah sakit ini terus beroperasi dengan komposisi pekerja pribumi maupun warga Belanda.

AYO BACA : Rumah Singgah Gratis untuk Pasien RSHS Resmi Dibuka

Pada 1942, Perang Pasifik terjadi dan melibatkan Belanda sebagai salah satu koloni Eropa di kawasan Asia Pasifik. Akibat perang tersebut, Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana beralihfungsi menjadi rumah sakit militer Belanda.

Akibat perang tersebut, Jepang berhasil masuk ke Hindia-Belanda lantas menduduki Jawa. Karena itu, rumah sakit ini sempat jatuh ke tangan Jepang. Namanya pun diubah menjadi Rigukun Byoin. Perannya sama, sebagai rumah sakit militer di Kota Bandung.

Meski demikian, pemerintah Jepang diketahui tidak melakukan perubahan kebijakan apapun pada rumah sakit tersebut, termasuk untuk perbaikan sarana dan prasarana yang kala itu dibutuhkan.

Tak berselang lama, karena Jepang kalah dari sekutu, rumah sakit ini kembali jatuh ke tangan Belanda. Namanya sempat kembali diubah lagi menjadi Het Gemeene Ziekenhuis Juliana.

Pada masa itu, Hindia Belanda membutuhkan dukungan medis untuk mempersiapkan perang kemerdekaan. Peran rumah sakit tetap berlaku sebagai rumah sakit militer. Bahkan, selepas Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan, rumah sakit ini masih dikuasai Belanda selama tiga tahun.

Pada 1948, rumah sakit ini pun berada di bawah kepemilikan Indonesia, melalui Kota Praja Bandung dengan nama Rumah Sakit Rancabadak Dr. H.R. Paryono Suriodipuro. Ia tercatat berperan sebagai direktur pertama Rumah Sakit Rancabadak yang merupakan warga Indonesia.

AYO BACA : Peringati Hari Vitiligo, RSHS Bentuk Perkumpulan Viti-Hope

Kemudian, pada 1954, rumah sakit ini ditetapkan sebagai rumah sakit provinsi dan berada dalam naungan Departemen Kesehatan (sekarang Kementrian Kesehatan). Dua tahun berselang, kapasitas rumah sakit ini ditingkatkan dengan 600 tempat tidur dan dijadikan sarana pendidikan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran yang kala itu baru berdiri.

Perubahan nama dari Rancabadak menjadi Hasan Sadikin memiliki nilai historis sendiri. Nama Rumah Sakit Hasan Sadikin resmi digunakan sejak 8 Oktober 1967, berasal dari nama dr. Hasan Sadikin. Dirinya merupakan mantan direktur RS tersebut yang pertama, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Dr. Hasan Sadikin diketahui meninggal dunia saat bertugas.

Pada tahun ini pulalah, RSHS difungsikan sebagai Unit Pelaksana Teknis Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Jenderal Pelayanan Medik.

Pada tahun 1992-1997 RSHS ditetapkan menjadi unit swadana.

Pada 12 Desember 2000, status RSHS secara yuridis berubah menjadi perusahaan jawatan (Perjan). Kebijakan tersebut merupakan salah satu langkah strategis pemerintah memberikan otonomi lebih luas kepada unit-unit pelayanan tertentu untuk menyelenggarakan manajemennya secara mandiri. Bentuk ini terus diaplikasikan hingga RSHS ditetapkan sebagai Rumah Sakit Rujukan Nasional.

Saat ini, RSHS memiliki 944 tempat tidur, 3000 karyawan dengan 395 dokter spesialis dan subspesialis dalam enam layanan inti, terdiri atas Pelayanan Jantung Terpadu, Pelayanan Onkologi, Pelayanan Infeksi, Bedah Minimal Invasif, Transplantasi Ginjal, hingga Kedokteran Nuklir. 

AYO BACA : Dinilai Sempit, RSHS Diwacanakan Akan Dipindah

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar