Yamaha Lexi

Jastiperhitz, Komunitas 'Emak-emak' Pebisnis Jastip Pertama di Bandung

  Senin, 26 Agustus 2019   Nur Khansa Ranawati
Anggota Komunitas Jastiperhitz. (Nur Khansa Ranawati/ayobandung.com)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Semakin maraknya minat masyarakat terhadap penggunaan jasa titip (jastip) dalam membeli berbagai produk mulai dari fesyen hingga kebutuhan sehari-hari, menjadikan pelaku bisnis jastip kian banyak bermunculan. Meskipun pebisnis jastip biasanya bertransaksi via media sosial terutama Instagram, namun kegiatan belanja yang mereka lakukan tetap berlangsung di lapangan.

Oleh karena itu, 'persinggungan' antar pebisnis jastip di gerai-gerai fesyen, kosmetik maupun makanan yang tengah banyak diminati pelanggan pun menjadi tak terhindarkan. Momen-momen seperti bazaar fesyen produk lokal, diskon pada gerai-gerai tertentu hingga peluncuran produk edisi terbatas seolah menjadi titik pertemuan para pebisnis jastip di lapangan.

Dengan ciri khas 'tentengan' kantung belanja yang menumpuk, smartphone yang selalu siaga dalam genggaman dan sesekali dipakai memotret produk, hingga adanya secarik catatan kecil yang menjadi pegangan dalam berbelanja membuat pebisnis jastip cukup mudah dikenali bila tengah berada di suatu gerai. Hal ini pulalah yang menjadikan mereka mulai 'ngeh' satu sama lain saat menjalani tugas. 

Beberapa pebisnis jastip di Kota Bandung menangkap momen-momen pertemuan tak sengaja tersebut sebagai kesempatan untuk berjejaring dan saling membantu kelancaran bisnis masing-masing, alih-alih dijadikan sebagai 'ajang bersaing'. Dari sanalah, komunitas jastip pertama di Kota Bandung--atau mungkin Indonesia, 'The Jastiperhitz' lahir.

Komunitas yang salah satunya diinisiasi oleh pebisnis jastip asal Kota Bandung, Wiwin Yulianti lewat tokonya @wieneyoeliantie ini memiliki 10 anggota aktif yang seluruhnya merupakan wanita. Jastiperhitz lahir pada Ramadan 2019, oleh karena intensitas bertemu yang cukup sering di antara para anggotanya.

"Dalam seminggu kita sering banget bertemu di tempat ini. Terbentuknya bulan puasa kemarin, seminggu sebelum Lebaran," ungkap Wiwin ketika ditemui bersama anggota Jastiperhitz lainnya di sebuah restoran sekaligus kumpulan gerai brand fesyen lokal, The Saparua Bandung, belum lama ini.

Dia mengatakan, salah satu hal yang mendasari lahirnya komunitas tersebut adalah agar para pebisnis jastip, terutama di Kota Bandung, saling mengenal satu sama lain ketika bertemu di lapangan. Lebih dari itu, komunitas ini juga berperan sebagai 'rumah' bagi para pebisnis jastip yang berasal dari kota lainnya. 

AYO BACA : Lika-liku Mendulang Uang dari Bisnis Jastip

"Komunitas ini dibuat agar saat ada event, kita saling kenal. Selain itu juga agar orang yang bukan dari Bandung tidak merasa sendiri," ungkapnya.

hal tersebut dirasa perlu karena tidak sedikit pebisnis jastip yang merupakan wanita asal luar kota yang mengikuti pasangannya bekerja di Kota Bandung. Bisnis ini kemudian dianggap sebagai salah satu kegiatan menghasilkan yang cukup mudah dilakukan di waktu senggang.

"Saya juga dari rantau, asal Padang. Ikut suami yang kerja di sini. Awalnya enggak ada teman di Bandung, tapi lewat komunitas ini jadi punya teman terutama untuk sharing bisnis jastip," ungkap anggota Jastiperhitz yang berbisnis di @jastipmame, Melly Haryani.

Selain Melly, ada pula Leslie Rosinasaputra (@bekostrenggalek), warga Trenggalek berdomisili di Kota Bandung yang memilih bergabung ke Jastiperhitz sebagai wadah untuk berbagai suka-duka berbisnis jastip.

Saling Membantu

Jastiperhitz saat ini mengandalkan aplikasi pesan singkat WhatsApp sebagai sarana berkomunikasi antar-anggotanya. Bukan sekedar kumpul-kumpul, grup tersebut juga dapat membantu kelancaran bisnis anggotanya apabila terdapat anggota yang tengah dirugikan konsumen, atau belum sempat berbelanja karena hal tertentu.

"Di komunitas ini kita saling sharing, atau juga saling ngejualin barang yang enggak laku. Buat anggota yang sedang belanja diskon di suatu tempat, kadang juga bisa dititipin," ungkap Wiwin.

AYO BACA : Tips dan Suka Duka Memilih Jastip Terpercaya Ala Para Penggemar Belanja

Terkadang, ada momen saat pebisnis jastip terpaksa harus menalangi barang belanjaan konsumen, namun tak kunjung dibayar. Atau, pebisnis melihat peluang dari suatu barang menjadi incaran, namun tak habis dijual sehingga menumpuk.

Pada masa-masa seperti itulah, Jastiperitz dapat diandalkan anggotanya untuk membantu melariskan dagangan. "Kita juga rencananya pengen sih kapan-kapan bikin garage sale, menjual barang baru yang enggak jadi dibeli pelanggan, atau belanjaan kita sendiri karena 'kalap', baru dipakai satu-dua kali," ungkap Melly.

"Kadang tuh kalau ada barang lucu kita borong 30 buah, 25-nya terjual, sisa 5 lagi ada yang dipakai atau dijual kalau suami sudah nyuruh jual," tambahnya seraya tertawa.

Tak lupa keluarga

Tak jarang pula dalam momen tertentu seperti akhir pekan, para anggota jastiperhitz berbelanja bersama dengan membawa keluarga masing-masing. "Kalau weekend kita belanja udah seperti family gathering. Suami jagain anak, kita belanja beli pesanan. Kadang juga suami diberdayakan, jadi bagian jemput barang, malah pernah sampai tidur di musala," ungkap salah satu anggota lainnya, Nurul Aisyah Zain (@jastipnyanurul).

Para anggota jastiperhitz hampir bertemu setiap hari, melakukan aktivitas belanja sejak pagi hingga sore atau malam bersama-sama, berkumpul di suatu tempat sembari beristirahat, juga sembari mengurus anak-anak.

"Kadang bisa sampai jam 10 malam. Sering juga berangkat belanjanya sehabis nganter anak sekolah. Yang jelas kita tetap mengutamakan tugas sebagai seorang istri," ungkap salah satu anggota, Merrida Valencia yang berbisnis di @mereinshop.

Ke depannya, komunitas yang anggotanya banyak berfokus pada jastip produk fesyen muslimah ini akan terus dijadikan tempat berkumpul, berbagi cerita antar pebisnis jastip Kota Bandung hingga menjadi tempat andalan untuk membantu kelancaran usaha para anggotanya. 

AYO BACA : 5 Aplikasi Jastip buat Si Hobi Belanja, Bisa Sampai Luar Negeri

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar