Yamaha NMax

Tantangan Sekolah dan Peran Guru Bahasa di Era Pendidikan 4.0

  Minggu, 25 Agustus 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi era industri 4.0 (Pixabay)

Dunia tanpa batas. Kehadiran internet telah mengubah cara pandang dan perilaku manusia. Inilah arus globalisasi. Teknologi berkembang semakin canggih. Dunia kini memasuki era revolusi industri 4.0, ditandai dengan pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan perkembangan lain dari manual menjadi serba digital. Inilah fenomena disruptive innovation.

Mengutip narasi Cak Nun (2016), bahwa kini hadir generasi milenial atau “putra langit”, bukan anak-anak yang dibesarkan oleh tata nilai kepengasuhan di bumi. Mereka di samping sangat IT-addict, sangat menonjol kecerdasan enterpreneurshipnya, tidak terlalu tersandera oleh kekuasaan politik, tidak menjadi pengemis di depan kantor kapitalisme industri, tidak termakan secara semena-mena oleh media massa, punya keberpihakan yang serius terhadap ‘kesalehan’, serta memiliki kebebasan otentik dalam kreativitas, termasuk dalam kesenian dan sastra.

Menghadapi situasi tersebut, bidang pendidikan pun dituntut untuk berubah. Kini muncul istilah pendidikan 4.0, sebuah program untuk mendukung terwujudnya pendidikan cerdas melalui peningkatan dan pemerataan kualitas pendidikan, perluasan akses dan relevansi memanfaatkan teknologi dalam mewujudkan pendidikan kelas dunia. Tujuannya tentu saja untuk menghasilkan siswa yang memiliki 4 keterampilan abad 21 yaitu kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis dan kreatif. 

Menurut catatan Kementerian Ristekdikti (2018), meski di bawah Singapura, Indonesia dianggap memiliki potensi tinggi dalam menghadapi pendidikan industri 4.0. Hal ini mengacu pada global competitiveness index pada World Economic Forum 2017-2018, Indonesia telah menempati posisi ke-36, naik lima peringkat dari tahun sebelumnya posisi ke-41 dari 137 negara.

Tetapi jika dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand, Indonesia masih di bawah. Beberapa penyebab Indonesia masih kalah, karena lemahnya higher education and training, science and technology readiness, dan innovation and business sophistication.

Tiga Hal Mendesak

Berkaitan dengan pendidikan di tingkat sekolah, setidaknya ada tiga hal mendesak yang perlu disiapkan. Pertama, kualitas guru. Kondisi guru Indonesia saat ini sendiri masih didominasi oleh generasi baby boomers dan generasi X yang merupakan digital immigrant. Sementara siswa yang dihadapi merupakan generasi millennial atau digital native.

Analoginya sederhana: siswa sudah berada di abad 21, sedangkan guru masih di abad 20 dan sarana parasarana sekolah masih di abad 19. Tentu ini menjadi tantangan bagi sekolah, utamanya  dalam upaya pemenuhan guru.

Profesi guru pun semakin kompetitif, sehingga perlu memilih guru yang memiliki kompetensi tambahan, meliputi (1) educational competence, kompetensi berbasis Internet of Thing sebagai basic skill di era ini; (2) competence for technology, punya kompetensi membawa siswa melek teknologi; (3) competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan national problem; serta (4) competence in future strategies, di mana dunia mudah berubah dan berjalan cepat, sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya, dengan cara kerjasama sekolah dengan berbagai lembaga, paham arah SDG’s (Sustainable Development Goals) dan industri, dan lain sebagainya.

Kedua, kegiatan pembelajaran. Perlu reorientasi kurikulum dan penguatan pembelajaran daring dalam bentuk hybrid atau blended learning. Kehadiran teknologi digital, dapat membantu siswa dalam beroleh pengetahuan, oleh karena itu guru harus mampu menciptakan proses pembelajaran yang multi-stimulasi sehingga lebih menyenangkan.

Dengan demikian, siswa akan mudah mengakses ilmu yang bermutu, brain circulation phenomenon, percepatan penguasaan iptek, belajar dari best practice, belajar menjadi lebih kontekstual, spektrum kecakapan yang meluas, serta distribusi keahliah antar-bangsa. Apabila demikian, jaminan mutu pembelajaran akan tetap terjaga.

Ketiga, kegiatan kesiswaan. Sekolah perlu melakukan berbagai kegiatan yang mendukung kreativitas dan inovasi di kalangan siswa berbasis teknologi. Tentu diperlukan pendampingan yang terus menerus terhadap siswa, sehingga kepribadian siswa tidak tergerus dan semakin tangguh.

Artinya, setiap kegiatan siswa harus melibatkan pendampingan orang tua, kearifan guru, dan kedewasaan masyarakat. Isu siswa kecanduan games online dan phubing, sedianya dapat dihindari sejak dini.

Memang bukan tanpa efek samping tiga solusi di atas. Perubahan besar di bidang pendidikan dan pembelajaran dalam era industri 4.0, berpengaruh besar pada mental dan karakter siswa. Penyebabnya, fungsi guru bergeser secara fundamental.

Oleh itu, guru perlu usaha keras untuk menanamkan dan mendidik nilai-nilai etika, budaya, kebijaksanaan, pengalaman hingga empati sosial karena nilai-nilai itu tidak diajarkan oleh mesin.   

Berangkat dari kenyataan itu, pada Forum Ekonomi Davos Tahun 2017, Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, mencanangkan Society 5.0 sebagai platform resmi kebijakan pemerintah Jepang.

Gagasan itu, pada hakekatnya merupakan keselarasan dalam proses integrasi antara teknologi digital dengan realitas kehidupan sosial. Hal yang bisa ditangkap bahwa Society 5.0 adalah konsep teknologi masyarakat yang berpusat pada manusia dan berkolaborasi dengan teknologi untuk menyelesaikan masalah sosial yang terintegrasi pada ruang maya dan nyata.

Demikian, derasnya perkembangan teknologi tidak mereduksi kepribadian manusia. Artinya, meski pembelajaran berbasis digital dan teknologi canggih, tetapi tidak melenyapkan sisi humanisme siswa.

Nilai Kearifan Lokal Sunda

Disinilah perlunya kembali pembelajaran yang mengedepankan menemukenali nilai-nilai kearifan lokal. Society 5.0 pintu masuk mengukuhkan kembali nilai-nilai kearifan lokal demi penguatan pendidikan karakter siswa. Bagi sekolah di wilayah Jawa Barat, tentu saja mengenalkan nilai kearifan lokal Sunda pada siswa menjadi amat penting. 

Dalam kegiatan pembelajaran, guru bahasa semestinya bisa goong nabeuh maneh. Maksudnya seperti ini, guru bahasa Indonesia dapat mengajarkan sastra yang isinya memuat nilai-nilai kearifan lokal Sunda.

Tidak berarti kedaerahan, tetapi upaya sungguh demi menguatkan nasionalisme. Apalagi guru muatan lokal bahasa Sunda, perannya lebih lagi. Selain mengajar bahasa dan sastra, mereka semestinya dapat mewarnai siswa dengan mengajarkan tatakrama Sunda. Ini demi membangun keseimbangan, bahwa pendidikan karakter memiliki derajat yang sama dengan pengetahuan teknologi.  

Akhirnya, saya pun perlu mengutip kembali pendapat Cak Nun (2016), bahwa “manusia perlu belajar kepada sastra untuk menjadi manusia dan mempertahankan kemanusiaannya.”

Deni Hadiansah

Dosen Bahasa Indonesia pada FKIP Universitas Bandung Raya dan Universitas Terbuka (UT). Esainya dalam bidang pendidikan pernah meraih Anugerah Budaya R. Soeria Diradja dari Paguyuban Pasundan (2004). Adapun dalam bidang sastra, pernah mendapat Hadiah Sastra LBSS (2012).  

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar