Yamaha NMax

Lika-liku Mendulang Uang dari Bisnis Jastip

  Sabtu, 24 Agustus 2019   Nur Khansa Ranawati
Komunitas pelaku jastip spesialis brand fesyen muslimah Kota Bandung, JastiperHitz.(Khansa/ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Bila Anda merupakan penggemar kegiatan belanja online atau sekadar aktif menggunakan media sosial Instagram, bisnis jastip alias jasa titip bisa jadi sudah terdengar sangat familiar. Kemunculannya belakangan ini semakin marak dijumpai, dan jasanya banyak dicari.

Bisnis ini kurang lebih mulai berkembang sejak dua tahunan lalu. Berdasarkan informasi yang dihimpun Ayobandung.com, salah satu yang mengawalinya adalah munculnya toko-toko merek tertentu yang hanya beroperasi di sebagian kota besar, namun peminatnya tersebar hingga ke sejumlah daerah lain di Indonesia.

Selain itu, tren penggunaan produk kecantikan dan kesehatan di kalangan wanita dengan merek-merek tertentu yang hanya terdapat di luar negeri pun menjadi salah satu hal yang menjadikan bisnis ini dipandang sebagai peluang besar.

Pasalnya, jastip berperan sebagai jembatan dari kebuntuan akses calon pelanggan terhadap merk-merk dambaannya. Imbalan didapat dari ongkos jasa titip beli yang dibebankan per-barang. Besarannya tergantung dari kebijakan masing-masing penyedia jasa, atau dari hasil negosiasi dengan pelanggan.

Salah satu pelanggan jastip asal Jakarta, Erica Putri mengatakan dirinya kerap menggunakan jastip ketika hendak membeli sejumlah barang yang hanya tersedia di luar negeri. Bila dibeli langsung dari negara asalnya, dia mengatakan, harga yang didapat bisa lebih murah. Sehingga, 'mark-up' harga yang ditawarkan pelaku jastip dirasa sama sekali tidak membebani.

"Jastip memudahkan saya untuk berbelanja barang yang dibutuhkan,. Kelebihannya tidak perlu banyak effort untuk mencari barang yang diinginkan, dan banyak barang-barang yang saya mau tidak ada di Indonesia. Harga barangnya juga bisa lebih murah dari yang dijual di Indonesia," ungkapnya kepada Ayobandung.com, Jumat (23/8/2019).

Selain peluang yang besar, bisnis ini terus berkembang salah satunya karena modal yang diperlukan bisa dimulai dari nol rupiah atau hanya bermodal koneksi internet. Pelaku jastip pada umumnya baru akan membelanjakan barang yang dicari pelanggan setelah pelanggan yang bersangkutan mentransfer sejumlah uang yang dibutuhkan.

Sehingga, banyak di antara pelaku jastip yang memulai bisnisnya dari 'iseng-iseng di waktu senggang'. Namun, siapa sangka, hari demi hari, bisnis jastip mereka dapat diandalkan sebagai mata pencaharian utama.

Seperti yang dilakukan pelaku jastip asal Kota Bandung, Meilenny Effendi. Dirinya mulai berbisnis di akun Instagram @mahirjastip sejak 2018 silam. Mei, sapaan akrabnya, merupakan pelaku jastip penuh waktu. Dirinya yang memiliki hobi belanja ini mengaku memulai jastip karena coba-coba.

"Kebetulan saat itu di Bandung ada event (bazaar produk pakaian lokal) besar, dan ada teman-teman saya yang tinggal di luar kota. Dari sana iseng saja bikin akun Instagram, post foto produk brand yang ada untuk menarik konsumen jastip," ungkapnya ketika ditemui di Jalan Ambon, Jumat (23/8/2019).

Iseng-iseng tersebut terus berlanjut karena dirinya memang memiliki hobi berbelanja. Selain itu, lingkaran pertemanannya yang dekat dengan para pemilik brand lokal juga menjadikan keisengannya tersebut lama-kelamaan dirasa potensial untuk terus diseriusi.

"Teman saya bilang, lumayan banget kalau diterusin. Mereka juga bantu promosi di akun-akun Instagram produk mereka yang followers-nya memang sudah banyak. Dari sana mulai berdatangan pelanggan," ungkapnya.

Saat ini, dirinya merupakan pelaku jastip spesialis produk fesyen wanita, terutama merk-merk pakaian muslim. Dalam satu hari, Mei dapat mengantongi keuntungan bersih mulai dari Rp200.000. Bila ada event fesyen, pendapatan tersebut dapat meroket berkali-kali lipat. Pekerjaan ini dilakoni setiap hari, sehingga dirinya mampu mengumpulkan pundi-pundi tambahan untuk menghidupi keluarga.

"Aduh lumayan banget lah, enggak nyangka bisa sampai segini. Bisa bayar biaya sekolah dan SPP anak, belanja kebutuhan keluarga juga. Ya, bisa enggak tergantung suami lah intinya," ungkapnya.

Menuntut Jeli dan Gerak Cepat

Meskipun tak memerlukan modal besar, bukan berarti bisnis ini berjalan tanpa tantangan. Sejumlah dinamika dan suka-duka yang terjadi di 'medan tempur' alias pusat perbelanjaan dan aneka bazaar menjadikan para pelaku jastip harus dapat menyesuaiakan diri, membangun pakem-pakem tak tertulis agar bisnisnya tak merugi.

Pasalnya, pelaku jastip dari hari ke hari terus bertambah. Alhasil, persaingan berburu barang yang tengah banyak dicari pelanggan atau diskon tertentu pun harus ditempuh dengan totalitas demi kepuasan pelanggan.

Mei mengaku pernah mengantre sejak pukul 4 pagi ketika ada pembukaan gerai produk baju muslim wanita di bilangan Dago. Ternyata, dirinya bukan pelanggan pertama yang hadir.

AYO BACA : Tips dan Suka Duka Memilih Jastip Terpercaya Ala Para Penggemar Belanja

"Orang yang antre pertama ternyata datang jam 3 pagi. Waktu itu tokonya ngasih voucher sampai Rp5 juta untuk pelanggan pertama. Lumayan banget itu buat yang bisnis jastip. Kalau pelanggan biasa kan, mereka bakal males ngantre dari subuh begitu," ungkapnya.

Tak sampai di sana, pelaku jastip asal Kota Bandung lainnya, Nurul Aisyah Zain lewat tokonya @jastipnyanurul mengaku pernah berebut produk diskon hingga berdesakan dan mengalami patah kuku. Pergi pagi dan pulang malam juga kerap dilakoni, meskipun tak setiap hari.

"Sampai pernah kuku saya patah, melenting, gara-gara tarik-tarikan. Badan saya juga pernah ketarik ibu-ibu yang lain," ungkapnya seraya tertawa.

Bahkan, Mei mengatakan, sejumlah toko menjuluki para pelaku jastip sebagai 'zombie' oleh karena kegigihan dan kegesitannya dalam berburu barang-barang pesanan pelanggan, terutama ketika diskon dan ketika ada peluncuran barang terbatas.

Hal tersebut bukan berarti buruk. Buktinya, banyak di antara pelanggan yang memang kerap mengandalkan pelaku jastip untuk membeli barang-barang diskon, karena info yang dimiliki para pelaku jastip sangat up-to-date. Meskipun, sama seperti konsumen pada umumnya, mereka tak memiliki akses khusus kepada para produsen sehingga 'bertempur di toko' adalah satu-satunya jalan.

Salah seorang pelanggan jastip, Yurizka Milantari mengatakan salah satu tujuannya rutin berbelanjan dengan memanfaatkan jastip adalah untuk mendapat barang yang diinginkan dengan harga miring. Selain itu, dirinya juga dapat menghemat waktu dari kegiatan berbelanja yang diakuinya cukup menyita tenaga.

"Karena jastip itu infonya update banget, baik update info barang, barang baru, diskon, dan lain-lain. Apalagi buat kita yang suka belanja, tapi males ke mall karena antre, susah parkir, apalagi kalau yang sibuk kerja," ungkapnya.

Bisnis Kepercayaan

Bisa dibilang, salah satu hal yang menjadi daya jual para pelaku jastip di mata pelanggan adalah rasa kepercayaan. Oleh karena itu, para pelaku jastip menjadikan kepercayaan pelanggan sebagai prioritas. Bagaimana tidak, mayoritas bisnis jastip memberlakukan sistem transfer uang di muka sebelum membelanjakan barang. Bila tidak amanah, pelaku jastip gadungan punya kesempatan besar untuk kabur membawa uang pelanggan.

"Konsumen langganan saya juga pernah ketipu bisnis jastip. Pelakunya pura-pura punya testimoni baik dari 'pelanggannya', ternyata nipu. Waktu itu konsumen saya beli sepatu, sudah transfer sampai Rp1 juta tapi pelakunya kabur," ungkap pelaku bisnis jastip asal Padang yang berdomisili di Kota Bandung, Melly Haryani.

Pemilik @jastip_mame ini mengatakan, unggahan testimoni pelanggan di akun Instagram memang dapat dijadikan salah satu bukti kredibilitas pelaku jastip, meskipun tak jarang juga ada oknum pelaku jastip yang memanfaatkannya untuk menipu.

Namun, tak hanya konsumen saja yang dapat dirugikan oknum pelaku jastip. Konsumen yang bertindak tidak sesuai persetujuan pun kerap menjadi hal yang membuat pusing para pelaku jastip. Misalnya, dengan meminta pelaku jastip untuk menalangi barang pesanannya karena berbagai alasan. Ketika dikabulkan, pelanggan yang merasa enggan dengan besaran ongkos jastip tiba-tiba memutuskan untuk membatalkan pesanan.

"Saya pernah beli 5 potong pakaian anak di salah satu mall di Bandung, dan pelanggan minta ditalangin karena kesulitan transfer dan diskon hanya berlaku hari itu. Setelah biayanya ditotal, dia marah-marah karena merasa terlalu mahal. Padahal, ongkos jastip itu sangat bisa dinegosiasikan dulu dengan penjualnya," ungkap Nurul.

Salah satu inovasi yang bisa menjadi jalan tengah dari dua potensi kerugian tersebut adalah munculnya sejumlah aplikasi jastip yang menjadi perantara pelaku jastip dengan pelanggan. Pelaku jastip hanya berbelanja ketika aplikasi tersebut menyatakan pelanggan telah mentransfer uang ke rekening aplikasi, dan aplikasi tersebut baru akan menyalurkan uang yang diberi pelanggan ketika barang sampai ke alamat yang dituju.

Beberapa contoh aplikasi jastip yang menerapkan sistem tersebut adalah Airfrov, HelloBly, BisTip, Prelo, dan sebagainya. Namun, bagi para pelaku jastip yang tidak ingin mengeluarkan dana besar di awal, aplikasi semacam ini dinilai belum terlalu dibutuhkan.

"Soalnya ujung-ujungnya tetap harus nalangin dulu. Modal kami belum sebesar itu untuk bisa menalangi banyak pesanan. Jadi belum pernah coba sih untuk pakai aplikasi," ungkap pelaku jastip asal Trenggalek yang juga berdomisili di Kota Bandung, Leslie Rosinasaputra.

Pesatnya permintaan jastip dari hari ke hari, diikuti pertumbuhan jumlah brand fesyen lokal yang semakin marak menjadikan bisnis ini semakin membuka ceruk rupiah yang menjanjikan. Apalagi, inovasi teknologi pun mulai perlahan mendisrupsi bisnis yang bahkan juga merupakan bentuk adaptasi baru dari sistem belanja konvensional ini.

"Saya sih yakin ke depannya bisnis ini bisa dijadikan pekerjaan utama, dan bahkan membuka lapangan pekerjaan baru buat banyak orang," pungkas Mei.

AYO BACA : 5 Aplikasi Jastip buat Si Hobi Belanja, Bisa Sampai Luar Negeri

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar