Yamaha Mio S

Perajin Tikar Mendong Pertahankan Kualitas dan Kembangkan Produk

  Selasa, 20 Agustus 2019   Irpan Wahab Muslim
Perajin tikar mendong di Desa Singkup, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya. (Irpan Wahab Muslim/Ayotasik.com)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM--Sejumlah perajin tikar mendong di Desa Singkup, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya harus memutar otak ditengah banyaknya produk tikar dari luar daerah. Salah satu upaya untuk mempertahankan eksistensi tikar mendong dipasaran yakni dengan mempertahankan kualitas.

Eje Jaenal (52) salah satu perajin tikar mendong di Desa Singkup menuturkan, jika kualitas menurun, maka bukan tidak mungkin konsumen akan beralih ke tikar produk lain. Selain kualitas mendong, kualitas benang serta kualitas penganyaman juga sangat berpengaruh terhadap persaingan tikar.

AYO BACA : Mengintip Sentra Produksi Tikar Mendong di Tasikmalaya

"Kalau kita tidak mempertahankan kualitas, kita akan kalah dengan tikar dari luar daerah seperti tikar berbahan plastik," papar Eje, Selasa (20/8/2019).

Selain kualitas, lanjut Eje, inovasi dan kreasi tikar mendong juga akan mengdongkrak nilai jual. Motif yang disajikan dalam tikar mendong harus terus berkembang agar konsumen tidak bosen dengan motif yang lama.

AYO BACA : Perajin Tikar Tenun Mendong

"Corak dan pola tikar juga harus terus berubah. Bermain warna, artinya penyelupan mendong harus bagus dan baik dan beraneka warna. Jadi bisa memadukan warna dalam tikar," tambah Eje.

Eje mengakui, persaingan usaha khususnya kerajinan berbahan mendong saat ini cukup ketat. Adanya teknologi yang pesat, membuat persaingan sudah tidak bisa dihindari. Untuk menyiasati agar tidak ketinggalan oleh roda perubahan pasar. Kerajinan miliknya selalu berinovasi dengan membuat beberapa produk berbahan mendong, seperti topi, tempat tisu, hantaran pernikahan, dan lainnya.

"Kalau kita tidak ada inovasi, artinya hanya bergantung ke tikar kita akan ketingglan. Makanya di sini saya buat beberapa kreasi, ada topi, ada juga tas dan lainnya," papar Eje.

Namun Eje menilai hal paling penting adalah regenerasi. Di mana saat ini, perajin tikar mendong sudah berkurang dan didominasi warga usia 38 tahun ke atas. Sementara remaja lebih memilih bekerja di perusahaan dan pabrik dikota besar karena menganggap usaha kerajinan tidak menjanjikan.

"Ini tugas pemerintah mulai dari pusat hingga daerah. Jadi regenerasi harus diterapkan," pungkas Eje.

AYO BACA : Mendong, Rumput Yang Dianyam Jadi Tikar

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar