Yamaha NMax

Kina, Komoditas Menjanjikan yang Kurang Diminati

  Selasa, 20 Agustus 2019   Mildan Abdalloh
Direktur Pusat Penelitian Teh dan Kina Gamboeng, Dadan Rohdiana. (Mildan Abdalloh/ayobandung.com)

PASIRJAMBU, AYOBANDUNG.COM -- Puluhan tahun lalu Indonesia sempat merajai ekspor komoditas tanaman Kina. Bahkan di era 1940-an 90% kebutuhan kina dunia dipasok dari negeri ini.

Masuknya kina ke Indonesia tidak terlepas dari campur tangan Franz Wilhelm Junghuhn, ahli botani asal Prusia, bagian dari Jerman. Dia membawa kina ke Indonesia pada 1830 dan dipercaya oleh Belanda untuk melakukan riset.

Dalam perjalanan ke Indonesia, Junghuhn singgah di India untuk membawa kina. Tanaman tersebut kemudian ditanam di wilayah Kabupaten Bandung. Keberhasilan risetnya membuat Indonesia merajai kina di dunia.

AYO BACA : Meski Harga Cabai Tinggi, Kabupaten Bandung Justru Alami Surplus

Namun, seiring waktu produksi kina di Indonesia terus mengalami penurunan termasuk di Kabupaten Bandung yang menjadi tanah pertama yang ditanami kina. Penurunan terjadi karena luas lahan perkebunan kina terus berkurang. Alih komoditi ini yang menjadikan luas lahan kina menurun.

"Di Kabupaten Bandung hanya ada paling 1.000-an hektar kina, itupun 750 hektarnya ada di lahan milik PT SIL yang di Buktiunggul," tutur Direktur Pusat Penelitian Teh dan Kina Gamboeng, Dadan Rohdiana, Selasa (20/8/2019).

Masalah pola pikir yang instan kata Dadan menjadikan pertanian Kina di Indonesia terus merosot. Dia menjelaskan, sejak ditanam hingga bisa dipanen, kina membutuhkan waktu 7-8 tahun. Waktu yang lama jika harus menggantungkan penghasilan dari tanaman bahan baku obat-obatan tersebut.

AYO BACA : Ke China, Mendag Target Dongkrak Ekspor 3 Komoditi

"Karena waktu panennya lama, petani juga perusahaan kina sulit memperoleh keuntungan dalam waktu cepat. Memang bisa ditumpang sari, tapi kebanyakan orang berpikir instan, bagaimana menghasilkan uang dalam waktu cepat," ujarnya.

PTPN sebenarnya bisa menggarap perkebunan kina, karena dalam catatan BUMN yang bergerak dalam bidang perkebunan tersebut masih memiliki lahan perkebunan kina. Namun, lanjut Dadan ada kendala dalam menejemen BUMN. Dia menjelaskan, BUMN saat ini dituntut mendapat keuntungan dalam waktu cepat.

"Sirkulasi direksi BUMN itu sangat cepat. Di sisi lain dalam KPI (key performance indeks) mereka dituntut menghasilkan keuntungan. Misalnya ketika seorang direksi menjabat, kalau konses di kina, belum tentu bisa memperoleh keuntungan dari perkebunan kina yang ditanamnya, karena butuh waktu minimal 7 tahun untuk bisa dipanen," ujarnya.

Kondisi tersebut menjadikan kebanyakan direksi BUMN lebih memilih menanam tanaman lain, seperti teh. Padahal lanjut Dadan, pasar kina sangat menjanjikan. Dunia saat ini sangat membutuhkan falvonoid yang terkandung dalam daun kina.

Bahkan sebagian besar kebutuhan kina di Indonesia saja saat ini menggantungkan impor dari Afrika. "Pasarnya sangat menjanjikan. Di beberapa negara juga produsen kina banyak tumbang, jadi peluang untuk memperoleh pasar juga sangat tinggi," ujarnya.

Dengan banyak perbukitan dan gunung, Kabupaten Bandung kata Dadan merupakan daerah yang cocok untuk ditanami kina. "Kina itu pada dasarnya tanaman gunung. Cocok ditanam di ketinggian 1.000 mdpl ke atas," ujarnya.

AYO BACA : Kemarau, Petani Diimbau Ganti Komoditas Tanaman

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar