Yamaha NMax

Berani Menuju Indonesia Unggul

  Senin, 19 Agustus 2019   Redaksi AyoBandung.Com
HUT ke-74 RI

Merdeka atau mati! Pekik para pejuang kemerdekaan pada zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia. Semboyan yang mampu membakar semangat para pejuang pada masa itu, hingga kini pun masih menggema dan menjadi salah satu tagline kemerdekaan Indonesia.

Merdeka atau mati adalah simbol ketidak-takutan masyarakat Indonesia terhadap penjajah. Masyarakat Indonesia memilih untuk hidup bebas merdeka meski nyawa taruhannya daripada harus menjadi budak kaum penjajah. Daripada hidup di tangan penjajah, baiknya mati berkalang tanah adalah prinsip hidup yang dipegang masyarakat Indonesia pada masa itu.

Atas kehendak Tuhan dan perjuangan dari para pejuang bangsa, lahirlah Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kini, 74 tahun sudah berlalu sejak proklamasi kemerdekaan dibacakan. 74 tahun Republik Indonesia telah mengalami jatuh bangun.

Dari sistem presidensial ke sistem parlementer. Hingga saat ini kita menganut sistem demokrasi dalam pelaksanaan pemerintahan. Dari sentralisasi pembangunan, kini menjadi desentralisasi pembangunan dengan pertimbangan bahwa pemerintah daerahlah, dan bukan pemerintah pusat yang lebih mengetahui potensi daerah.

Perjuangan kemerdekaan saat ini tidak lagi dengan mengangkat senjata. Perjuangan kemerdekaan saat ini lebih kompleks dan sulit karena musuh yang harus dihadapi bukan hanya dari bangsa asing, melainkan dari bangsa sendiri.

Seperti salah satu quotes Presiden Sukarno yang berbunyi “perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

Kompleksitas perjuangan dan penjajahan tidak hanya dalam ranah publik seperti ekonomi, politik dan hal-hal besar lainnya. Sadar atau tidak, penjajahan telah terjadi di  mana-mana. Bahkan dalam bidang pendidikan, sebagai satu lentera menuju ke alam beradab pun tak luput dari perilaku penjajahan. Hirarki dan legitimasi tugas atasan-bawahan masih sangat kental terutama di perguruan tinggi.

Ketika profesor atau dosen senior memiliki proyek penelitian bersama beberapa dosen muda, maka yakin benar yang paling banyak bekerja adalah para dosen muda. Jika ada mahasiswa terlibat di dalamnya, maka mahasiswa sebagai kasta terendah dari hirarki jabatan pun yang akan paling banyak bekerja. Dengan alasan sibuk atau memberi kesempatan pada yang muda untuk berkarya, hal seperti ini dianggap lumrah saja.

Tapi ketika presentasi atau klaim hasil penelitan, para dosen senior ini yang berada paling depan. Menikmati materi dan reputasi dari proyek penelitian “bersama”. Pembagian kue masih mengikuti standar lama.

Di mana yang paling atas mendapat bagian paling besar, semakin ke bawah semakin sedikit presentase pembagiannya. Padahal secara pekerjaan, kaum bawahlah yang paling banyak bekerja.

Bidang pendidikan pun tidak luput dari ketidakadilan. Sistem penilaian kita masih menempatkan dosen sebagai “atasan” dan mahasiswa sebagai “bawahan”. Sehingga mahasiswa seakan dimatikan langkahnya.

Jika dosen beberapa kali tidak masuk, cukup digantikan dengan pemberian tugas. Tapi ketika mahasiswa yang tidak masuk, maka tugas tidak dapat menjadi kompensasi ketidakhadiran mahasiswa.

Dosen akan berdalih bahwa aturan absensi (kehadiran) adalah kewenangan bagian tata usaha, bukan kewenangannya. Untuk hal ini, tidak semata-mata kesalahan sistem yang membuat posisi dosen menjadi “atasan”.

Mahasiswa seharusnya sadar dan berani memprotes jika ada dosen yang tidak mengajar dan “hanya” mengganti dengan tugas makalah. Bukannya atoh (baca senang) seperti yang terjadi selama ini.

Untuk menuju Indonesia Unggul seperti tagline kemerdekaan tahun ini, masyarakat Indonesia harus banyak berubah. Terutama dalam bidang pendidikan. Karena pendidikan adalah jembatan emas menuju masa depan yang lebih baik.

Ingatlah bahwa cikal bakal kemerdekaan Indonesia adalah era yang dinamakan dengan kebangkitan nasional. Ketika para pribumi mulai mengenyam pendidikan sebagai dampak dari politik etis, dari situlah timbul kesadaran dan keinginan untuk merdeka.

Maka untuk mewujudkan visi Indonesia Unggul, kita semua harus berani berubah. Mahasiswa harus lebih berani dalam memperjuangkan haknya memperoleh pengajaran dan tidak takut ketika diancam dengan nilai.

Jangan juga terbuai dengan dosen yang jarang mengajar tapi memberi nilai bagus. Karena ke depannya, dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN maka persaingan di dunia kerja akan semakin sengit. Kita tidak hanya bersaing dengan sesama anak bangsa, tapi juga dengan lulusan-lulusan perguruan tinggi dari negara tetangga.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengingatkan kembali pada pesan Bung Karno untuk meniru tiga suku yang ada di Indonesia. Berbicaralah dan berprinsiplah seperti orang Batak. Berpikirlah seperti orang Cina. Dan bekerjalah seperti orang Jawa. Di sini saya ingin menambahkan beranilah seperti orang Maluku, berpetualanglah seperti orang Makassar dan someah (ramah) seperti orang Sunda. Salam perubahan!

Nurul Ulfa

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar