Yamaha Lexi

Ikappi: Harga Cabai Naik Signifikan dalam Sebulan Terakhir

  Senin, 19 Agustus 2019   Republika.co.id
Komariah (58) menjual cabai di pasar tradisional Ujungberung, Kota Bandung, Rabu (17/7/2019). Menurut Badan Ketahanan Pangan (BKP), meroketnya harga cabai tersebut diakibatkan pengaruh kemarau. Harga cabai mengalami kenaikan dari Rp20.000 menjadi Rp70.000 per kilogram. (Kavin Faza/Ayobandung.com)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyatakan, terjadi kenaikan signifikan terhadap harga cabai dalam sebulan terakhir. Ikappi menilai, kenaikan tersebut diduga kuat dampak dari musim kemarau yang mengakibatkan keterbatasan pasokan air di sentra-sentra cabai.

Ketua Umum Ikappi, Abdullah Mansuri mengatakan, harga riil cabai rawit merah sudah mencapai Rp 100 ribu per kilogram. Sementara cabai jenis lain seperti cabai keriting merah dan cabai merah sekitar Rp 80 ribu.

"Sejak lima tahun terakhir harga cabai memang selalu naik saat musim kemarau. Ini contoh langsung dampak kemarau," kata Mansuri kepada Republika.co.id, Ahad (18/8).

Mansuri mengatakan, harga cabai pada saat Hari Raya Idul Fitri lalu cenderung terkendali karena bertepatan dengan musim panen. Namun, menjelang Hari Raya Idul Adha, harga cabai rawit merah secara perlahan terus melonjak. Dari segi permintaan, kata dia cenderung normal.

Namun, dari segi jumlah pasokan yang didistribusikan ke pasar mengalami penyusutan dari biasanya meskipun frekuensi pengiriman cabai dari setiap sentra tetap normal. "Komoditas lainnya bawang merah, sayur mayur juga harganya relatif tinggi," kata dia.

Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto, menuturkan, saat ini tidak terjadi gangguan produksi cabai dari setiap sentra di wilayah Indonesia. Kenaikan yang terjadi beberapa waktu terakhir imbas jatuhnya harga cabai pada enam bulan yang lalu hingga menyentuh Rp 5 ribu per kilogram (kg).

Hal itu membuat petani tidak melakukan kegiatan panen karena pendapatan dari penjualan cabai tidak mampu menutupi biaya panen. Dimana, pengeluaran terbesar digunakan untuk membayar tenaga buruh tani.

Sementara kegiatan panen dihentikan, petani mengganti tanaman dengan komoditas lain dan membuat produksi cabai terus berkurang.

Prihasto menyebut, rata-rata komoditas alternatif yang ditanam petani cabai yakni jagung, kacang tanah, dan sayuran. Saat ini, ia memastikan penanaman cabai telah kembali dilakukan dan diharapkan pada September-Oktober, produksi cabai kembali normal sehingga harga kembali stabil.

"Ini dampak dari kondisi enam bulan yang lalu. Kemarau tidak terlalu masalah karena cabai tidak membutuhkan banyak air. Sekarang yang penting air masih tersedia dan tidak perlu banyak," ujarnya.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar