Yamaha Aerox

Pakar: Mitigasi Bencana Kurangi Potensi Jatuhnya Korban

  Minggu, 18 Agustus 2019   Faqih Rohman Syafei
Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana Jabar Soma Suparsa memaparkan berkenaan pentingnya mitigasi kebencanaan dalam sebuah acara diskusi di Kota Bandung, Sabtu (17/8/2019). (Faqih Rohman Syafei/Ayobandung.com)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Kota Bandung termasuk daerah rawan bencana. Simulasi mitigasi bencana diperlukan untuk mengurangi potensi korban terdampak.

Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana Jawa Barat Soma Suparsa mengatakan bahwa adanya dua ancaman bencana alam yang mengintai Kota Bandung yakni Sesar Lembang dan Gunung Api Tangkuban Parahu. Keduanya pun sampai sekarang tergolong masih aktif.

"Kota Bandung ini diancam oleh dua yaitu Sesar Lembang dan Tangkuban Parahu keduanya aktif," ujarnya kepada ayobandung.com, Sabtu (17/7/2019).

AYO BACA : Mitigasi Bencana Kota Bandung 'Kepentok' Uang dan Tata Ruang

Dia mengatakan, berdasarkan catatan, gempa berkekuatan 3,3 skala richter yang diakibatkan Sesar Lembang pada tahun 2011 mengakibatkan puluhan rumah mengalami kerusakan atau hancur. Sedangkan erupsi Tangkuban Parahu sampai saat ini masih berlangsung dan berada di level II atau waspada.

Berkaca dampak bencana yang telah terjadi, masyarakat perlu diberikan edukasi terkait mitigasi bencana. Apabila tidak, dampak yang ditimbulkan akan semakin besar dibandingkan sebelumnya.

"Kalau masyarakat tidak siap memitigasi masalahnya akan lebih besar, ribuan orang akan bermasalah (terdampak). Jadi kata kuncinya kesiapsiagaan salah satu penyelamat diri," katanya.

AYO BACA : Rumah Tahan Gempa Tak Semahal Rumah Umumnya

"Berlatih dan belajar tentang bagaimana menyelamatkan diri, evakuasi sendiri, dan membangun infrastruktur yang siap bertahan terhadap gerakan Sesar Lembang dan erupsi Tangkuban Parahu," tambahnya.

Menurut Soma, masyarakat Kota Bandung sudah mengetahui potensi bencana yang mengintainya, namun dalam hal mitigasi bencana perlu digencarkan kembali. Pemerintah pun sudah melakukan edukasi terkait mitigasi, tapi belum menyentuh seluruhnya.

"Mungkin dalam hal berlatih dan menyiapkan dirinya yang perlu dirangsang. Mungkin dari pemerintah dan masyarakat lainnya belum kerja bareng karena penanganan bencana bukan milik pemerintah saja tapi semua unsur terkait memberikan pelatihan," terangnya.

Dia menyebutkan, terkait dengan persoalan bencana alam gempa, pada dasarnya tidak sampai membunuh manusia tapi reruntuhan bangunan dan kepanikan yang menjadi penyebab utamanya.

Sambung Soma, masyarakat pun perlu di dorong untuk mandiri dan pintar dalam bertindak ketika menghadapi bencana alam. Pasalnya diperlukan waktu untuk petugas penolong untuk sampai di lokasi, karena waktu krusial atau golden time setelah bencana yakni tiga jam.

"Yang perlu disiapkan oleh masyarakat diantaranya titik jalur evakuasi, adanya titik kumpul, early warning system. Itu saja yang paling mudah, kalau itu ada masyarakat sudah aman. Baru edukasi masyarakat, dan masyarakat harus pintar karena petugas hanya datang menolong, itu waktunya lama," pungkasnya.

AYO BACA : Mitigasi Gempa Minim di Daerah Terdekat Sesar Lembang

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar