Yamaha Mio S

Melankolia Bumi Manusia

  Minggu, 18 Agustus 2019   Ananda Muhammad Firdaus
(@mawar_eva/instagram)

Ketika dalam wawancara dengan CNN Hanung mengatakan bahwa cerita Bumi Manusia itu intinya hanya soal percintaan antara Minke dengan Annelies, sepertinya dia sedang “testing the water”. Hanung sedang memancing reaksi para pengagum Pram, lalu berharap timbulnya berbagai perdebatan yang ujung-ujungnya akan membikin orang semakin penasaran seperti apa filmnya nanti. Jika benar demikian, ini adalah sebuah strategi promosi yang lumayan jitu.

Namun ketika dia mengatakan bahwa membaca Ayat-ayat Cinta itu lebih berat ketimbang Bumi Manusia, dan mahakarya Pram itu bagi dia hanya sebuah novel yang sangat remaja, sepertinya dia sedang berseloroh, atau bisa jadi dia sedang menunjukan kejumawaannya. Dan menurut saya Hanung keliru besar.

Hanung memang kadang nampak terlalu percaya diri, sedikit arogan, dan ini sepertinya sah-sah saja karena memang dia merasa sudah diakui sebagai salah satu sutradara papan atas di republik ini. Pun sudah terbukti kalau film-filmnya selalu laris manis di pasaran.

Pram memang mewarnai Bumi Manusia dengan kisah percintaan antara Minke dan Annelies. Tetapi dalam bingkai yang tidak terkesan melankolis murahan. Pram sepertinya memang bukan orang yang romantis apalagi melankolis. Romantisme dua sejoli itu dituangkan Pram lewat daya tutur memukau, dalam balutan romantisme yang terasa begitu elegan.

Sayangnya, demi kompromi bisnis dan kepentingan pasar milenial, ekranisasi novel Bumi Manusia oleh Hanung ke dalam film berdurasi 3 jam itu, hanya menghasilkan sebuah drama percintaan yang romantis melankolis dan sungguh mengharu biru.

Saya harus mengakui bahwa selama durasi 3 jam itu, Hanung berhasil mengeksplorasi unsur-unsur dramatik dari novel Pram. Saya larut secara emosional ketika menyaksikan adegan-adegan di pengadilan, adegan di rumah pelesir Baba Ah Tjong, adegan terakhir ketika Annelies akan dibawa ke Belanda, dan tentu saja adegan yang membikin saya berdecak kagum adalah imajinasi Hanung ketika menggambarkan Annelies sedang diperkosa.

Saya juga mesti menjura kepada penulis skenario Salman Aristo—yang saya yakin menanggung beban yang sungguh berat, karena dengan bersusah payah berhasil memeras dan menuangkan narasi-narasi bernas Pram ke dalam gambar-gambar visual selama 3 jam dengan tidak membosankan. Wajar saja karena Salman memiliki jam terbang tinggi sebagai penulis skenario yang mumpuni. Meskipun banyak unsur lain dari film ini yang membuat kening saya berkerut, seperti “set decoration” dan penataan kostum yang menurut saya masih terasa kurang nyata dan mengena.

Saya termasuk yang kecewa dengan pemilihan pemain. Namun setiap pemain sudah berusaha maksimal memainkan perannya. Iqbal Ramadhan yang banyak diragukan sudah “satékah polah” menjadi Minke. Dialog dengan bahasa Belanda justru  memberi dia nilai tambah. Sha Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh cukup berhasil menguasai adegan, namun Ine terlalu cantik sebagai seorang nyai, dan bagi saya Sanikem yang sebenarnya tetaplah Happy Salma dengan wajah eksotisnya. Mungkin karena saya sudah kadung kagum kepada perannya yang ciamik dalam Bunga Penutup Abad. Akting Mawar Eva De Jongh sebagai Annelies menurut saya kurang greget, cenderung datar dan kurang mengolah emosi. Sehingga yang terbayang adalah akting manja dan ekspresif dari Chelsea Islan dalam Bunga Penutup Abad.

Yang justru menarik adalah akting dari para pemain pendukung senior. Mereka berhasil mencuri perhatian. Ayu Laksmi sebagai ibu Minke, Donny Damara sebagai ayah Minke, Dewi Irawan sebagai induk semang Minke, dan tentu saja Whani Darmawan sebagai Darsam, mereka semua tampil mengesankan. Dari barisan pemain milenial saya cukup terkesan dengan akting Jerome Kurnia sebagai Robert Suurhoff.

Film ini juga menjadi menarik karena menggunakan lima bahasa : Indonesia, Jawa, Madura, Belanda, dan Perancis. Justru hal ini membuat dialog terasa lebih cair dan plastis. Unsur dialog dengan bahasa selain Indonesia menambahkan kekuatan karakter kepada setiap tokohnya. Ini menjadi nilai lebih dari garapan terbaru Hanung tersebut.

Beruntung mereka yang belum sempat membaca novelnya, karena tidak akan terjebak di dalam perbandingan yang justru akan membikin rasa kecewa. Dan bagi mereka yang sudah menganggap novel ini sebagai babon sastra tanah air, kiranya harus memahami andekdot dari penikmat film di luar sana. “Bacalah segera bukunya, sebelum Hollywood akan merusaknya.” Akan sulit mengharapkan gambaran ideal dari karya sebuah novel yang diekranisasi ke layar lebar, karena masing-masing memiliki ruangnya sendiri-sendiri. Jadi biarlah sihir-sihir diksi Pram itu hanya ada di dalam wujud literasi.

Mari kita nikmati film ini sebagai sebuah karya mandiri, dan tak usah terlalu muluk-muluk jika ingin membandingkan dengan novelnya. Yang pasti ini tontonan yang menghibur, dan Hanung akan kembali mendulang sukses secara komersial. Seperti halnya Ayat-Ayat Cinta, kali ini pun Hanung memang piawai memancing air mata mengalir dari pelupuk mata. Apalagi penata musik punya andil mengaduk-aduk emosi, sehingga lebih memudahkan penonton menumpahkan air matanya. Karena itu jika anda akan menonton film ini, siapkanlah saputangan atau kertas tisu untuk menyeka air mata.

Hanung pun tetap bersetia kepada perkataan pamungkas Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia, yang menjadi mantra abadi yang terus digaungkan di sepanjang waktu.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Dan Sha Ine Febriyanti, mengucapkannya di penghujung film.

Dan Hanung pun telah berupaya, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, untuk Pram.

Budi Mugia Raspati
Pegawai Ditjen Pajak

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar