Yamaha Mio S

Karnaval 17-an, Hiburan yang Mempersatukan

  Minggu, 18 Agustus 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Karnaval dalam rangka HUT ke-74 RI pada Sabtu (17/8/2019).

Karnaval adalah arak-arakan atau pawai yang dilakukan untuk merayakan suatu peristiwa. Biasanya para peserta karnaval mengenakan dandanan menarik dan bermacam corak menarik dari perayaan yang dirayakan itu. Seperti karnaval dalam rangka memperingati HUT RI yang dilaksanakan di Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya.

Karnaval 17-an merupakan salah satu kegiatan peringatan HUT RI yang paling ditunggu warga. Hal ini terlihat dari antusiasme warga yang telah memadati jalur karnaval bahkan sebelum karnaval dimulai. Biasanya warga masyarakat menyaksikan dengan bergerombol, baik dengan teman, keluarga atau tetangga.

Karnaval 17-an menjadi acara yang ditunggu karena para peserta karnaval menggunakan kostum unik yang mencerminkan kehidupan sehari-hari warga, tren yang sedang berlangsung dan juga menyoroti isu dan situasi sosial yang sedang terjadi. Seperti pada karnaval 17-an tahun ini, ada salah satu peserta karnaval yang mendandani kendaraannya menjadi rumah bilik dengan tulisan “belum dibedah”. Lengkap dengan seorang nenek yang digambarkan sebagai pemilik rumah tersebut. Bagian belakang kendaraan disulap menjadi rumah nenek tersebut dengan dipan, hau (tungku) dan patung ayam yang digambarkan sebagai peliharaan sang nenek. Hal ini menyoroti salah satu program televisi yang sedang naik daun saat ini yakni program Bedah Rumah.

Selain itu, beberapa dari peserta karnaval memakai toga (baju wisuda) dengan tulisan di dada “sarjana pengangguran”. Tidak dipungkiri bahwa pengangguran terdidik memang masih menjadi masalah dalam pembangunan nasional. Dimana lulusan universitas dan diploma adalah penyumbang terbesar pengangguran terbuka. Ada pula yang menyoroti kasus korupsi. Dimana parade mempertontonkan koruptor yang kaya, duduk di atas mobil dengan stelan parlente sedangkan di belakangnya masyarakat miskin dengan dandanan gembel. Ini pun merupakan realitas kesenjangan sosial yang masih terjadi hingga saat ini.

Tidak hanya menyentil berbagai isu sosial, karnaval pun diikuti oleh beberapa sekolah unggulan. Yang pada kesempatan itu memamerkan tentang prestasi yang telah diraihnya, kegiatan eskul apa saja yang dimiliki, secara tidak langsung mencoba merebut hati orang tua (calon) siswa meski tahun ajaran baru (untuk tahun ini) sudah lewat. Tampilan marching band pun yang menjadi salah satu kebanggan utama sekolah juga dipertontonkan.

Tapi karnaval tidak melulu serius seperti yang telah disebutkan di atas. Lebih dari itu, karnaval lebih banyak mengandung unsur hiburan. Kesenian seperti pencak silat dan kuda lumping lengkap dengan orkesnya ikut berkeliling, menghibur para penonton. Mempertontonkan ilmu dan jurus dari padepokan masing-masing.

Keberagaman masyarakat Indonesia sebisa mungkin dicerminkan saat karnaval. Berbagai hasil bumi dan makanan khas masing-masing desa pun ikut dibawa berkeliling. Seperti desa Cidadap Batu Sumur, yang berkeliling sambil membawa opak, rengginang, kacang panjang dan berbagai hasil bumi lainnya. Galonggong, salah satu wilayah yang terkenal dengan kerajinan golok, ikut memamerkan beberapa golok dari Galonggong. Bahkan para peserta karnaval yang berasal dari Galonggong membawa replika golok, parang, gergaji  dan pisau raksasa. Ada juga parade busana daur ulang dari bungkus kopi sebagai representasi bank sampah yang ada di desa Cibeber. 

Selain membawa kemeriahan dan memperkenalkan kearifan masing-masing desa, karnaval 17-an seperti ini menunjukkan akan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Semua kostum dan konsep para peserta karnaval tidak akan terwujud tanpa adanya kekompakan antar warga. Kendaraan yang dihias serta atribut karnaval tidak akan selesai tanpa ada gotong royong dari para anggota masyarakat.

Maka karnaval tidak hanya sekedar hiburan. Tidak hanya sekedar acara peringatan HUT RI. Tidak hanya sekedar memperkenalkan potensi daerah. Lebih dari itu, karnaval membawa semangat gotong royong, kerja sama serta persatuan dan kesatuan antar warga yang memang sangat dibutuhkan di era globalisasi ini. Harus diingat bahwa kemerdekaan ini tidak akan tercapai dan bisa bertahan tanpa adanya persatuan dan kesatuan. Jauhi isu agama. Jauhi isu sara. Karena meski berbeda-beda, kita tetap satu jua. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Dirgahayu Republik Indonesia ke-74. Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Siska H

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar