Yamaha Lexi

Sanjoto, Veteran yang Pernah Ikut Berjuang Bersama Jenderal Sudirman

  Sabtu, 17 Agustus 2019   Andres Fatubun
Sanjoto.

SEMARANG, AYOBANDUNG.COM -- Kisah veteran selalu lekat dengan peringatan hut kemerdekaan. Seperti yang dialami Sanjoto. Seorang pria renta yang sempat merasakan perjuangan zaman kemerdekaan. 

Pria kelahiran Solo tahun 1930 ini bercerita mulai ikut berjuang dan angkat senjata saat dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. 

Usianya baru sekitar 12 tahun saat bergabung dengan barisan angkatan muda Indonesia di Solo untuk melawan tentara Jepang pada 1942. Setelah itu, dirinya direkrut Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang merupakan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

“Mau bagaimana lagi? Saat itu semua teman sebaya saya juga mengangkat senjata untuk melawan penjajah Jepang. Saya juga ikutan,” jelasnya.

Meskipun saat ini usianya sudah menginjak 89 tahun, kakek 13 cucu itu masih memiliki suara lantang dan tutur bahasanya juga masih sangat jelas didengar.

Dirinya pun berkisah, saat dirinya bergabung dengan TNI pada tahun 1948, ia mendapat tugas khusus dari Panglima Kodam (Pangdam) Diponegoro Kolonel Gatot Soebroto. Tugas tersebut bisa dibilang bukan sembarang tugas. Tugas tersebut tentunya diperuntukkan bagi tentara yang mumpuni.

Tugas tersebut adalah mengawal Panglima Besar Jenderal Sudirman yang sedang melancarkan taktik gerilya dengan blusukan ke sejumlah hutan belantara.

"Pas tiba di Desa Biting, saya dapat berikan pengawalan Sudirman untuk melintasi jalan poros Wonogiri-Ponorogo", kisahnya.

Dirinya menjelaskan, bahwa akses yang dia tempuh cukup berat, melalui Desa Sidoharjo perjalanan pengawalan tersebut menembus ke wilayah Jatisrono. Siasat itu dilakukan agar dapat menghancurkan serangan musuh lewat gerakan bawah tanah.

Hal yang tak dia akan lupakan sampai kapanpun adalah saat dirinya melihat kondisi Jendral Sudirman kelihatan kurang prima. Sehelai kain tebal yang membalut pada pada leher sang Jendral selalu diingat dirinya. Dengan kesehatan yang melemah, sosok Jendral yang tak pantang menyerah untuk terus melancarkan serangan Gerilya membuat dirinya kagum.

"Saya akui sosoknya tak pernah pantang menyerah. Termasuk saat bergerilya menembus hutan-hutan dengan jalanan yang sempit. Sekitar dua jam akhirnya kami sampai ke lokasi tujuan," ceritanya.

Atas jasanya mengawal Jenderal Soedirman, Sanjoto pun mendapat tanda jasa Bintang Kartika Eka Paksi.

Selepas masa kemerdekaan, perjuangan Sanjoto terus berlanjut. Sejumlah tugas istimewa pun kerap diembankan kepadanya. Salah satu lagi tugas yang tak bisa dia lupakan ialah saat diminta menjadi pengawal Presiden Soekarno saat berkunjung ke Semarang pada 1957.

"Saya juga sempat bergabung dengan pasukan The Banteng Raiders pimpinan Jenderal Ahmad Yani untuk menumpas pemberontakan Darul Islam di Tegal pada 1952 silam", terangnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar