Yamaha Mio S

Ciri Khas "Wuwungan" dan Pewayangan dalam Desain Arsitektur Soekarno

  Jumat, 16 Agustus 2019   Nur Khansa Ranawati
Wuwungan berbentuk gada di rumah Jalan Kasim nomor 6,8, dan 10. (Nur Khansa Ranawati/Ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Dalam sejarah karier kearsitekan presiden pertama Republik Indonesia, Ir.Soekarno, Kota Bandung memiliki peranan penting. Pasalnya, beberapa jejak karya desain arsitektur beliau hingga saat ini terangkum ke dalam kurang lebih 10 bangunan berupa rumah tinggal maupun bangunan komersil di kota ini.

Ilmu arsitektur tersebut didapat dari hasil perkuliahannya di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) jurusan Teknik Sipil 1926. Selain itu, Bung Karno muda juga sempat magang di biro arsitektur milik dosen sekaligus arsitek kenamaan, Prof. Schoemaker.

Dari bangunan-bangunan yang didesain Soekarno, terdapat sejumlah nilai khas yang dapat dikatakan merupakan ciri dari gaya arsitekturnya. Yuke Ardhiati dalam bukunya Bung Karno Sang Arsitek : Kajian Artistik Karya Arsitektur, Tata Ruang Kota, Kria, Simbol, Mode Busana dan Teks Pidato 1926-1965 (2005) menuliskan bahwa sejumlah ciri-ciri dari bangunan yang didesian Soekarno adalah adanya elemen atap tipe mansard tunggal dan ganda dengan jendela atap dormer windows, hiasan kemuncak atap menyerupai gada-gada, penggunaan ventilasi alami melalui lubang ventilasi silang, hingga pilar bentuk persegi polos dengan aksen kepala pilar berupa ornamen suku Inka-Maya.

Selain itu, detail kaca patri (stainedglass) pada jendela, pintu atau plafon,  serta penggunaan material alami seperti bebatuan juga kerap ditemui dalam bangunan yang didesain Soekarno. Gaya-gaya tersebut salah satunya banyak diadopsi dari filosofi desain Schoemaker. 

Namun, dari sekian banyak elemen yang kerap diaplikasikan Soekarno dalam bangunan yang didesainnya,  hiasan kemuncak atap rumah--atau kerap disebut 'wuwungan' dalam Bahasa Jawa--adalah salah satu yang paling menarik perhatian. Wuwungan ini seolah menjadi ornamen penanda serupa 'cap' bahwa bangunan yang ada di bawahnya merupkan hasil otentik buah tangan Soekarno. 

AYO BACA : Pesan Nasionalisme dalam Desain Arsitektur Soekarno di Kota Bandung

Dalam Bahasa Indonesia, wuwungan lebih dikenal dengan istilah 'bubungan', berasal dari kata 'bubung; yang artinya puncak rumah, balok pada puncak rumah atau deretan genting pada puncak rumah (KBBI). Pegiat komunitas sejarah Aleut, Ariono Wahyu alias Alex mengatakan bahwa di tanah Jawa, wuwungan ini kerap dijumpai dalam berbagai bentuk.

Biasanya di rumah-rumah Jawa banyak ditemui, ada yang bentuknya hewan, tokoh pewayangan, macam-macam. Mungkin dari sudut pandang modern, itu bisa berfungsi sebagai penangkal petir juga ya, ungkapnya ketika ditemui Ayobandung.com, Jumat (16/8/2019). 

Dalam sebagian besar bangunan yang didesain Soekarno di Kota Bandung, wuwungan ini dapat dilihat dalam berbagai bentuk, mulai dari persegi, berbentuk bundar hingga menyerupai palu gada. Salah satunya yang mudah dikenali adalah wuwungan di deretan rumah Jalan Kasim nomor 6,8, dan 10.

Berdasarkan pantauan Ayobandung.com, wuwungan di bangunan tersebut terdapat di setiap atap pada empat bangunan rumah utama. Ada tiga buah wuwungan dalam satu atap, berbentuk tumpukan tiga buah kubus pipih dengan sejenis tiang besi yang menjadi penyangga. Ornamen tersebut kerap diidentikan sebagai representasi bentuk gada atau senjata pemukul yang dimiliki sejumlah tokoh pewayangan.

Ini bisa dihubungkan dengan Soekarno yang memang sangat menyukai pewayangan. Nama 'Soekarno' pun diambil dari salah satu tokoh pewayangan, Adipati Karna, ungkap Alex.

AYO BACA : Menelisik Rumah \'Jadul\' Karya Bung Karno di Jalan Dewi Sartika Bandung

Alex memaparkan bagaimana Soekarno dibesarkan oleh kisah pewayangan yang kerap diceritakan sang Kakek. Hingga pada usia dewasa, Soekarno pun seolah tak dapat lepas dari kesenangannya terhadap dunia wayang sampai meminta rekannya dalam penjara untuk menceritakan kisah wayang padanya sebagai hiburan.

Karena dunia wayang sudah tertanam dari kecil, maka hal itu terbawa sampai Soekarno dewasa. Unsur pewayangan jadi salah satu trademark ketika beliau membuat karya, jelasnya.

Wuwungan itu selalu diidentikan dengan gada-nya Bima, namanya Rujak Polo. Salah satu senjata andalan Bima, ya gada itu. Filosofinya diambil dari situ, tambah Alex.

Hal ini, dia mengatakan, diperkuat penuturan yang menerangkan bahwa Soekarno kerap menulis di surat kabar Sarekat Islam 'Oetoesan Hindia' pada saat dirinya berada di Surabaya. Kala itu, tulisan-tulisan Bung Karno dimuat dalam nama samaran Bima.

Selain di rumah Jalan Kasim, wuwungan juga dapat dilihat di hampir seluruh bangunan rancangan Soekarno di Kota Bandung seperti di rumah Jalan Palasari nomor 5, Jalan Dewi Sartika nomor 107, bangunan belakang Pendopo Kota Bandung, rumah di Jalan Gatot Subroto, rumah di jalan Kaca-kaca Wetan nomor 8, rumah Jalan Pasir Koja nomor 25, rumah di Jalan Pungkur, dan sebagainya. Meskipun secara umum bentuk wuwungannya berbeda, namun bentuk keseluruhannya memang menyerupai sebuah senjata pemukul atau gada.

Namun, Alex mengatakan, filosofi gada tersebut hanya merupakan salah satu versi dari tafsiran hadirnya wuwungan dalam bangunan-bangunan hasil karya Soekarno. Versi lainnya mengatakan bahwa wuwungan tersebut merupakan representasi dari simbol Lingga dalam konsep Lingga dan Yoni, yakni simbolisasi penciptaan yang terdiri dari stilasi kelamin pria dan wanita pada mitologi Hindu.

Sementara lambang Yoni-nya direpresentasikan oleh air mancur yang ada di masing-masing bangunan, karena Yoni juga identik dengan air, jelas Alex.

Dalam salah satu rumah rancangan Soekarno, yakni yang terletak di Jalan Dewi Sartika nomor 107, sebuah air mancur memang hadir di bagian taman meski saat ini tak lagi difungsikan. Air mancur atau kolam ikan tersebut berbentuk setengah lingkaran dengan lengkungan cekung di bagian tengahnya.

AYO BACA : Soekarno di Bandung: Sebagai Arsitek Merangkap Direktur Taman Siswa

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar