Yamaha Mio S

Perajin Bata Merah Perbanyak Produksi Selama Kemarau

  Kamis, 15 Agustus 2019   Mildan Abdalloh
Ilustrasi produksi bata merah. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

NAGREG, AYOBANDUNG.COM -- Bata merah atau yang biasa disebut batako oleh masyarakat Bandung, menjadi bahan utama selain semen dan pasir untuk mendirikan bangunan. Di saat musim kemarau seperti sekarang, para perajin terus meningkatkan produksinya, mengingat pembuatan bata merah sangat mengandalkan sinar matahari.

Seperti yang terlihat di pabrik bata merah milik Uju Juhana (63) di Kampung Gurubut, Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung. Para pekerja di pabrik bata merah tersebut tanpa henti mencetak ribuan bata. 

"Kalau musim kemarau seperti sekarang, produksi lumayan banyak," ujar Uju kepada Ayobandung.com, Kamis (15/8/2019).

Produksi bata merah di sini memang masih menggunakan cara konvensional, bata yang baru dicetak, terlebih dahulu dijemur di bawah sinar matahari. "Memang mengandalkan cuaca, kalau musim hujan mah produksinya menurun karena susah menjemur," ujarnya.

AYO BACA : Wow! Ada Sekolah Merangkap Pabrik

Uju mengaku, saat musim hujan beban pekerjaan semakin berat. Menurut Uju, selain matahari jarang terlihat, hujan juga selalu mengintai sehingga pekerja harus selalu mengawasi proses penjemuran.

"Kalau hujan bata yang sedang dijemur harus ditutup pakai plastik. Jadi harus terus diawasi, kalau kehujanan penjemuran makan waktu lama," katanya.

Saat musim kemarau, kata Uju, pabrik bata miliknya bisa mencetak 8.000-10.000 buah bata merah. Bata yang dicetak tersebut, setelah dijemur akan dibakar menggunakan sekam atau cangkang biji padi.

"Kalau musim kemarau seperti sekarang, setiap pekan melakukan pambakaran. Kalau musim hujan, paling hanya sekali membakar, soalnya biasanya bata yang dicetak belum kering," paparnya.

AYO BACA : Hujan Turun di Bogor Saat Kemarau, Ini Penjelasan BMKG

Uju melanjutkan, pabriknya biasa membakar 50.000 bata dalam sekali waktu. Proses pembakarannya membutuhkan waktu dua pekan. "Memang lama karena pakai sekam, kalau mau cepat mah harus pakai kayu. Tapi harga kayu mah mahal," katanya.

Setelah proses pembakaran selesai, bata merah siap dijual. Setiap bata, kata Uju, dijual seharga Rp5000 jika diambil oleh pembeli dari pabrik. Namun, jika harus diantar, harga yang ditawarkan adalah Rp700 per bata tergantung dari jarak.

"Kalau yang beli banyak. Baik pengembang perumahan atau masyarakat yang sedang membangun," ungkapnya.

Proses pembuatan bata dimulai dari menggali bahan baku yakni tanah merah, setelah itu tanah dicampur dengan pasir dan air. Setelah itu, adonan bata dipres menggunakan mesin dan dicetak menggunakan cetakan.

Setelah dicetak, bata kemudian dijemur dalam terik matahari. Setelah penjemuran selesai, bata disusun membentuk kubus dan pada bagian tengah ditaburi sekam dan dibakar. Bata yang matang dan keras setelah proses pembakaran, sudah bisa dijual.

AYO BACA : Hujan Turun di Bogor Saat Kemarau, Ini Penjelasan BMKG

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar