Yamaha Mio S

Jangan Salah, Dermatitis Atopik Pada Anak dan Dewasa Beda Penanganannya

  Kamis, 15 Agustus 2019   Istihanah Soejoethi
Ilustrasi (pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM--Dermatitis Atopik (DA) merupakan penyakit kulit kronis yang dapat menyerang semua usia, termasuk anak-anak.

“Prevalensi DA pada anak secara global 15-20% dari penderita DA, tetapi Insiden DA pada anak adalah yang tertinggi 85-95%. Di Indonesia, angka prevalensi kasus DA anak sekitar 23,67%," dr. Anthony Handoko, SpKK, FINDV, CEO Klinik Pramudia di Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019).

Dilansir dari ayojakarta.com, dia menerangkan pengobatan DA pada anak dan remaja juga tergantung dari keparahan penyakit dan fase penyakit. Apakah saat aktif atau fase maintenance.

“Obat yang dapat diberikan mulai dari Pengobatan Topikal, Oral, Penyinaran dan suntikan. Terdapat beberapa zat aktif yang sering digunakan dalam pengobatan DA,yaitu, Kortikosteroid, Tacrolimus, Pimecrolimus,” terangnya.

Ia juga mengemukakan tentang beberapa mitos dan fakta yang paling sering ditanyakan mengenai perawatan DA anak, antara lain harus mandi air panas, minum darah ular, memakai pakaian tebal dan pantang makanan.

“Secara teoritis lokasi kelainan kulit pada DA berbeda pada setiap fase usia anak/remaja dewasa/manula/geriatri. Lokasi klasik pada usia anak adalah lipat siku, lipat lutut, seputar bibir atau mata dan pipi. Yang perlu diperhatikan adalah penderita DA, biasanya memiliki gejala penyerta seperti hidung meler atau bersin pada pagi hari (rhinitis allergica), mata merah (Conjunctivitis allergica), dan asma," jelasnya.

Sementara itu, DA pada dewasa dan Geriatri biasanya disebabkan karena berbagai faktor, seperti udara panas, keringat dan tingkat stress.

“Umumnya faktor risiko yang menyebabkan DA pada geriatri dan dewasa yaitu faktor udara panas, sinar matahari, keringat tubuh, debu yang berlebih, bahan pakaian polyester dan wool, jenis kelembaban sabun, stress, pre-menstrual, makanan tertentu, bahan ditergent yang digunakan, dan menggunakan sesuatu dari bahan logam imitasi, karet dan plastik," dr. Ronny Handoko, SpKK, Spesialis Kulit di tempat yang sama.

Ia menerangkan, gelaja utama DA pada dewasa berupa gatal kronis yang menimbulkan ruam dan dapat ditemukan di muka, leher, punggung, tungkai dan lipatan lengan.

“Pada prinsipnya, pasien geriatri dan dewasa akan merasakan gejala dan lokasi luka yang sama. Gejala utamanya berupa gatal kronis dengan variasi ringan sampai berat yang menimbulkan ruam dan dapat ditemukan di muka, leher, punggung, tungkai, lipatan lengan. Hal ini tentunya sangat mengganggu bagi kehidupan sosial karena akan menimbulkan rasa gatal dan tidak nyaman bagi pasien, bahkan dapat menumbuhkan rasa minder karena luka yang ditimbulkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pasien geriatri atau orang tua lebih rentan terkena DA dibandingkan pasien dewasa. Karena kulit geriatri cenderung lebih kering.

"Jika dibandingkan, pasien geriatri lebih rentan terkena DA dibandingkan pasien dewasa, karena kulit yang lebih tipis dan menurunnya daya tahan kulit sehingga regenerasi kulit lebih rendah, ditambah dengan sistem imun yang rendah akan memperburuk DA," jelasnya.

Penanganannya untuk pasien geritari juga memerlukan penanganan yang berbeda. Selain itu, peran keluarga atau pengasuh yang memahami DA karena rutinitas yang higienis sangat penting untuk pasien DA.

“Namun penting diingat, Istilah Alergi adalah suatu istilah Umum yang paling sering digunakan secara luas tentang keluhan gatal di kulit, padahal yang dimaksud sebenarnya dengan Alergi adalah suatu respon tubuh terhadap satu/beberapa benda asing (Alergan), dan pada umumnya menimbulkan keluhan gatal di kulit," jelas dr.Anthony.

Faktanya, karena salah satu keluhan utama dari DA adalah gatal, maka penyakit DA sering disebut sebagai alergi, padahal tidak semua penderita Alergi adalah penderita DA, tetapi keduanya memang memiliki keluhan yang sama, yaitu gatal.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar