Yamaha Mio S

Terpapar Abu Tangkuban Parahu, Kesehatan Pemetik Teh Sukawana Terganggu

  Rabu, 14 Agustus 2019   Tri Junari
Pemetik teh menggunakan masker karena terpapar abu Tangkuban Parahu di Perkebunan Teh Sukawana, Rabu (14/8/2019).(Tri Junari/ayobandung.com)

PARONGPONG, AYOBANDUNG.COM--Paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Tangkuban Parahu mengganggu kesehatan warga pemetik teh di sekitar Perkebunan PTPN VIII Kampung Sukawana, Desa Karyawangi Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Bukan hanya hinggap di ratusan hektare pohon teh, paparan abu juga menyebabkan warga mengalami sesak nafas, kulit gatal, dan kesat pada mata sejak dua pekan terakhir.

Seperti diketahui, gunung yang terletak di perbatasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat-Kabupaten Subang itu mengalami erupsi pada 26 Juli. Kemudian, erupsi lanjutan terjadi pada 1 Agustus.

Hingga saat ini, PVMBG belum menurunkan status level II atau waspada karena aktivitas kegempaan (tremor) Kawah Ratu masih berlangsung dengan amplitudo dominan 45 mm.

Yuyun Subarnas (51) pemetik teh yang tinggal di Kampung Sukawana berjarak tujuh kilometer dari sebelah barat Kawah Ratu mengaku, kiriman debu vulkanik yang terbawa dari Gunung Tangkuban Parahu sangat terasa bagi kesehatan sejak erupsi besar 26 Juli 2019.

"Kalau masuk kawasan rawan bencana (KRB) III suka batuk, sesak kemudian mata kesat," tuturnya saat ditemui di Perkebunan Sukawana, Rabu (14/8/2019).

Paparan abu bukan hanya mengganggu saluran pernapasan dan kulit saja, abu vulkanik juga banyak menempel di daun pohon teh dan rumput pakan ternak.

"Iya ini rumput hasil ngarit harus dicuci dulu, kan abunya nempel, kalau yang melakukan pemeriksaan kesehatan belum ada,"ujarnya.

Hingga saat ini, paparan abu kerap dirasakan warga dan mereka berinisiatif mengenakan masker saat beraktivitas.

Warga pemetik teh lainnya Saeful (45) tinggal di Kampung Sukawana RT05 RW12 Desa Karyawangi Kecamatan Parongpong mengaku abu vulkanik sampai ke halaman rumahnya. Padahal jarak dari Kawah Ratu ke tempat tinggalnya mencapai tujuh kilometer.

"Kalau pas pertama tebal abu di halaman rumah ada dua centimeter, genting dan pohon juga penuh abu," ujarnya.

Dia berharap erupsi Gunung Tangkuban Perahu segera mereda, pasalnya sebelum dinyatakan status normal warga sekitar khawatir dampak erupsi terus mengganggu kesehatan dan tidak was-was saat melakukan aktivitas memetik teh.

"Katanya kebawa angin sampai kesini. Ingin warga ya segera normal lagi," tandasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar