Yamaha Lexi

Perkebunan Teh Sukawana Terpapar Abu Vulkanik Tangkuban Parahu

  Rabu, 14 Agustus 2019   Tri Junari
Kondisi setelah erupsi di Kawah Ratu, Gunung Tangkuban Parahu, Subang, Sabtu (27/7/2019). Erupsi yang mengeluarkan abu vulkanik dengan tebal mencapai 10 cm ini mengakibatkan berhentinya seluruh aktivitas di kawasan tersebut selama 3 hari kedepan. (Kavin Faza/Ayobandung.com)

PARONGPONG, AYOBANDUNG.COM -- Warga pemetik teh di sekitar perkebunan PTPN VIII di Kampung Sukawana, Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terpapar abu vulkanik erupsi Gunung Tangkuban Parahu.

Bukan hanya hinggap di ratusan hektare pohon teh, paparan abu juga menyebabkan kesehatan warga terganggu. Mereka merasakan sesak nafas, kulit gatal, dan kesat pada mata sejak dua pekan terakhir.

Seperti diketahui, gunung yang terletak di perbatasan KBB-Kabupaten SUbang tersebut mengalami erupsi pada 26 Juli. Kemudian, erupsi lanjutan terjadi pada 1 Agustus.

AYO BACA : Gunung Tangkuban Parahu Masih Alami Erupsi

Hingga saat ini, PVMBG belum menurunkan status level II atau waspada karena aktivitas kegempaan (tremor) kawah ratu masih berlangsung dengan amplitudo dominan 45 mm.

Pantauan ayobandung.com di perkebunan teh Sukawana dan masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III masih terlihat abu vulkanik berwarna putih menyelimuti ratusan hektare kebun teh.

Mayoritas abu vulkanik menempel pada permukaan daun yang menghadap ke atas seperti bagian pucuk.

AYO BACA : Tangkuban Parahu Waspada, Obyek Wisata Milik Perhutani Aman Dikunjungi

Saepuloh (51), Mandor Besar PTPN VII Sukawana mengatakan, abu vulkanik menutupi kebun teh saat erupsi besar kali pertama. Jika dibiarkan abu menempel kuat di atas daun dan memaparkan debu saat di panen.

"Kalau yang pertama tebal sekali ada satu centimeter menutup daun, kalau sekarang relatif bersih sebagian terbawa angin. Tapi tetap mengganggu kesehatan," kata dia, Rabu (14/8/2019).

Akibat dampak erupsi berkepajangan itu, pemetik teh yang mayoritas bekerja sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) di PTPN VIII Sukawana disarankan untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas.

"Jarak dari kawah ratu ke pemukiman itu sekitar tujuh kilometer, tetapi mungkin saat erupsi angin membawa abu kesini," jelasnya.

Menurutnya, usai dipanen, pucuk teh harus melalui proses pembersihan dengan cara di cuci dengan cara di semprot air. Penyemprotan langsung di kebun pernah dilakukan namun abu tetap sulit hilang.

"Sempat juga menggunakan semprotan sebelum dipetik, tapi tetap nempel. Makanya saat teh masuk ke pabrik di cuci dulu pakai air bersih menggunakan kompresor," tandasnya.

AYO BACA : Status Waspada, Tangkuban Parahu Diminati Wisatawan Luar

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar