Yamaha Mio S

Ketika Alam Berguncang

  Rabu, 14 Agustus 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi seismik gempa

Gempa bumi terjadi akibat guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang disebabkan gelombang seismik. Gempa juga pada umumnya terjadi bisa disebabkan adanya pergeseran kerak bumi dari dasar bumi dan bisa pula terjadi karena efek letusan gunung berapi atau bahkan oleh ulah manusia sendiri.

Perlu diketahui gempa yang melanda bumi pertiwi ini dimungkinkan sinyal alam yang ingin berkomunikasi dengan manusia, agar lebih menghargai alam dan menjalankan hukum sesuai arahan Sang Pencipta alam.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menerangkan bahwasanya gempa yang melanda Indonesia baru-baru ini disebabkan oleh aktivitas sesar mendatar (sesar horizontal) dan zona megathrust (sesar vertikal) di bumi khatulistiwa ini.

Dilansir dari laman berita detik news.com gempa bermagnitudo 6,9 terjadi di Banten pada Jumat (2/8). Hingga kini tercatat lima orang menjadi korban jiwa yang diakibatkan serangan jantung serta kelelahan saat mengungsi ke tempat yang lebih aman dan sekitar 223 bangunan rusak akibat gempa yang tersebar di Kabupaten Pandeglang, Lebak, Cilegon, Serang Provinsi Banten. 

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menyatakan bahwa gempa terjadi di Banten tersebut terasa hingga Jakarta dan Lampung. Ia pun mengatakan ancaman megathrust riil, nyata di sepanjang pantai barat Sumatera, mungkin jaraknya sekitar 200-250 km di laut lepas.

Namun, bencana yang terjadi akhir-akhir ini bisa dikarenakan oleh banyaknya kemaksiatan yang terjadi di negeri ini. Prof. Otto Ongkosono menurut hasil risetnya menegaskan bahwa terdapat korelasi antara bencana dengan ulah tangan manusia dan (kemaksiatan).  Jadi semakin banyak kemaksiatan maka semakin banyak pula bencana alam yang terjadi.

Berdasarkan hasil riset ini Islam memandang bahwa bencana ini terkait dengan konsep pemahaman akidah yang benar, lebih khusus lagi dalam memahami pembahasan qadha dan qadar secara shahih. Perlu dipahami juga bahwa bencana adalah qadha Allah yang berada di area kuasa Allah. Sehingga sebagai manusia yang tidak bisa memprediksi kapan terjadinya.

Maka usaha yang bisa dilakukan adalah dengan tidak berbuat kerusakan di muka bumi ini serta berusaha meminimalisir dampak terjadinya bencana. Semisal dengan melakukan pembuatan tata kota, tata ruang yang berbasis mitigasi bencana serta mengembangkan keilmuan sains dan teknologi yang mampu melakukan analisa potensi bencana, tingkat risiko bencana, atau bahkan implikasinya. Walaupun, keterbatasan manusia tidak mampu secara pasti memprediksi kapan terjadi bencana ini.

Namun sangat disayangkan adanya ketidaksesuaian antara pelegalan perizinan pendirian bangunan oleh stakeholder setempat dengan hasil kajian ilmiah mengenai mitigasi bencana tersebut. Sehingga diperlukan penyadaran secara akidah Islam untuk mengubah paradigma pembangunan hari ini. Tak cukup hanya itu, tahap edukasi masyarakat seputar kesiapsiagaan bencana juga perlu karena belajar dari bencana-bencana sebelumnya.

Diperlukan pula koordinasi yang baik antar para stakeholder terkait teknis ini. Salah satunya adalah penekanan terhadap kehadiran dokumen tata ruang yang telah berbasis mitigasi bencana sebagai upaya teknis yang bisa mengurangi risiko walaupun belum kepada menghilangkan bencana. Keilmuan sains dan teknologi yang ada hanya mampu melakukan prediksi risiko bukan melakukan prediksi timing bencana.

Dengan demikian yang penting bagi orang beriman adalah meningkatkan taqarrub ilallah (mendekat pada Allah). Jangan sampai maksiat yang terjadi justru melanggengkan datangnya bencana.

Siti Aisah, S. Pd

Akademi Menulis Kreatif Regional Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar