Yamaha Mio S

Monumen Perjuangan Rakyat Jabar, Sajikan Potret Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

  Selasa, 13 Agustus 2019   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Monumen Perjuangan Rakyat Jabar. (Eneng Reni Nuraisyah Jamil/Ayobandung.com)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM--Monumen Perjuangan atau lebih di kenal sebagai Monju merupakan salah satu tempat wisata bersejarah yang memang sudah menjadi ikon penting kota Bandung. Bagaimana tidak? Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat menjadi bukti sejarah bagaimana perjuangan rakyat Jawa Barat mempertahankan kemerdekaan dari tahun 1945-1949.

Ketua Historia van Bandung, E. Ganda Permana menyampaikan, Monju juga merekam beberapa pertempuran penting yang terjadi pada masa itu melalui koleksi diorama yang dipajang di museum. Monju sendiri mulai resmi dibuka dan digunakan pada 23 Agustus 1995, dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, Raden Nana Nuriana.

AYO BACA : Apakah Indonesia Sudah Berdaulat?

Ganda mengatakan, Monju sendiri memiliki model bangunan yang menyerupai bambu runcing yang mana model dari bangunan ini dipadukan dengan gaya arsitektur yang modern.  

Monumen perjuangan Jabar mengisahkan tentang merebut, mempertahankan, dan melanjutkan kemerdekaan Indonesia di provinsi Jabar. Filosofi taas monumen berbentuk bambu runcing. Filosofinya dengan bambu runcing rakyat bahkan bisa merebut, mempertahankan, dan melanjutkan perjuangan, ungkap Ganda saat ditemui di monju, Selasa (13/8/2019).

AYO BACA : Geliat Penjual Bendera Sambut Hari Kemerdekaan

Sementara itu, Ganda juga menyampaikann Monju kini hanya memiliki tujuh koleksi saja di dalam museumnya. Tentu hal itu tidak sebanding dengan luasnya ruangan yang di gunakan tersebut. Alhasil, lanjut Ganda, berbagai koleksi replika dari sejarah perjuangan masih diinventarisir.

Di bawah monumen perjuangan ada museum, disana ada tujuh diorama jadi sebelum kemerdekaan masa-masa kerajaan, masa terbentuk nasionalisme, kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan dari serangan Belanda, dan melanjutkan kemerdekaan. Dan untuk koleksi lainnya sedang menginventalisir karena ada yang rusak dan sebagainya, lanjut Ganda.

Sementara itu tujuh diorama dari potret sejarah tersebut yakni Diorama Perjuangan Sultan Agung Tirtayasa Bersama Rakyat Menentang Kolonial Belanda Tahun 1658, Diorama Partisipasi Rakyat Dalam Pembangunan Jalan di Sumedang, Diorama Perundingan Linggarjati 1946, Diorama Bandung Lautan Api 24 Maret 1946, Diorama Long Mach Siliwangi Januari 1949, Diorama Konfrensi Asia Afrika di Bandung 1955, dan Diorama Operasi Pagar Betis (Operasi Brata Yuda) 1962.

Sementara itu, Komunitas Historia van Bandung (HvB), sebuah perkumpulan yang peduli terhadap sejarah bangsa dan memiliki visi untuk menjadikan Bandung sebagai kota wisata perjuangan. HvB pun selalu mengemas penyampaian edukasi dan informasi seputar peristiwa-peristiwa perjuangan bangsa melalui program yang dikemas dengan cara yang unik dan menarik. 

AYO BACA : Meneladani Semangat Juang Bandung Lautan Api di Museum Monju

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar