Yamaha Mio S

Dua Peristiwa Itu

  Senin, 12 Agustus 2019   Dadi Haryadi
Stasiun Jatinegara. (Foto: Amran Hendriansyah Abenk)

Kereta api Argo Parahyangan yang saya tumpangi meninggalkan stasiun Bandung pukul 18.15, hari Minggu (11/8/2019) kemarin. Tepat sesuai yang tertera di jadwal. Berarti akan sampai di stasiun tujuan akhir, yakni Gambir pukul 21.45. 

Itu perjalanan saya menuju kota tempat berdinas, Jakarta. Kali itu saya bersama anak sulung, yang mau lanjut ke Bandara Soekarno-Hatta, lalu ke kota kerjanya, Jambi, esok paginya. 

Seperti biasa, saya berencana turun di stasiun pemberhentian sebelum Gambir, Jatinegara. Karena tempat kos saya lebih dekat dari stasiun yang terletak di Jakarta Timur itu ketimbang dari Gambir.

Tak berapa lama selepas melewati stasiun Cimahi, perut saya ini menagih untuk diisi makan malam. Maka saya makan nasi goreng di gerbong restorasi. Lokasinya melewati dua gerbong dari tempat gerbong yang saya tempati. 

Selesai makan, saya berencana bersantai di tempat makan itu. Mengingat tempat duduknya lebih nyaman daripada di seat saya. Maklum, kali itu saya kebagian kereta ekonomi. Sandaran kursinya tegak. Pun jarak antar seat lebih sempit. Meski saya siasati kekurangnyamanan itu dengan berfacebookria dan membaca novel "Bumi Manusia"nya mbah Pram. 

Restorasi sedang penuh. Saya lihat beberapa pengunjung yang sedang pesan makanan, pandangannya mencari-cari tempat duduk yang kosong. Rencana bersantai saya urungkan. Wadah bekas makanan segera saya bereskan. Bahkan, meja saya bersihkan dengan tisu. Lalu saya persilakan orang yang sedang mengantri itu untuk menempatinya. Saya perhatikan mukanya sumringah sembari berujar terima kasih. 

Ia seorang perempuan. 

Sampailah kereta di stasiun Jatinegara. Saya bergegas turun. 

Baru beberapa langkah dari pintu keluar kereta, saya menyadari ada sesuatu. Gawai saya. Saya cari di saku. Juga di tas slempang. Gawai keluaran BBK Electronics Corp itu tak ada. "Deg...!" Pasti tertinggal di kereta. Saya ingat selama perjalanan, sekali-kali gawai itu saya simpan di saku sandaran kursi. Bergantian dengan buku novel itu. 

Berniat mau balik lagi. Sayang kereta sudah perlahan meninggalkan stasiun. Saya panik. Tentu bukan karena nilai handphone-nya. Tapi perihal data-data. Ada akun fb, WA, dan medsos lain. Juga ada aplikasi e-Banking, yang biasa buat transaksi jutaan rupiah. Kalau sampai jatuh ke tangan orang yang tidak baik, bisa amat merugikan saya. 

Seorang petugas stasiun yang tahu saya sedang mencari sesuatu, menanyakan. Saya jawab, ketinggalan gawai. Kemudian saya diantar ke ruang Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska), melaporkan. 

Pak Polsus menyambut ramah. Ia lalu menelpon petugas jaga di stasiun Gambir. Menceritakan kejadian. Saya disuruh menunggu. Nanti begitu kereta tiba di Gambir, petugas akan segera mencarinya, katanya. Lalu di sana akan memberi kabar, lanjutnya. Saya menunggu dengan was-was. 

Kriiiing... Petugas Gambir memberi kabar. Tidak ada katanya. Jledug! Pak Polsus menyuruh kami untuk menghubungi nomor gawai saya itu. Anak saya melakukannya. Beberapa kali. Masih aktif. Tak ada yang mengangkat. 

Lalu, "Haloo..," suara di seberang sana. "Alhamdulillah...," saya menggumam. 

"Gawai ini ada di sini, tapi orangnya sudah tak ada," ungkap seseorang di seberang sana ketika saya ajak bicara. Saya meminta tolong untuk diserahkan ke petugas sembari menjelaskan bahwa sayalah pemilik gawai itu. 

Pak Polsus menyuruh kami ke Gambir, menghubungi Polsus di sana. Kami pamit. Kepadanya saya mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Kami meluncur ke stasiun yang berada di Jakarta Pusat itu dengan menggunakan taksi. 

Di ruang Polsus Gambir, saya disambut ramah. Saya mengutarakan maksud. Gawa saya sudah ada di tangan pak Polsus. Saya diminta membuka "kunci" gawai saya itu. Pula diminta menunjukkan tiket dan KTP. Kedua dokumen itu beliau taruh di atas meja, bersebelahan dengan gawai yang telah membikin petualangan malam itu berbeda dari biasanya. "Cekrek..! " pak Polsus memfotonya. Juga memfoto saya sambil memegang gawai butut itu. 

Sambil menyerahkan barang-barang milik saya, pak Polsus bercerita. Gawai itu jatuh di kolong kursi. Ditemukan oleh "seseorang". Itu sebabnya ketika dicari di saku sandaran tidak ada. 

Seseorang itulah yang menjawab panggilan dari Jatinegara, lalu menyerahkannya kepada petugas. 

Ia juga seorang perempuan. 

Saya tak tahu, apakah dua peristiwa itu saling terkait. Sebagai hubungan sebab akibat. Apakah karena saya telah sedikit meringankan kesulitan seseorang, walau seuprit, maka kesulitan saya pun diringankan. Sebagaimana sering saya baca tulisan dari para bijak bestari. Atau ucapan para pendakwah yang mengutip ayat-ayat Ilahi. 

Kalau pun betul seperti itu, sebenarnya "balasan" kebaikan itu tidak mesti dalam bentuk yang berkesesuaian. Membantu seorang perempuan, tak selalu dibalas oleh perempuan pula. Pun tidak mesti dalam waktu yang amat berdekatan seperti itu. 

Yang jelas, kata para bijak dan pendakwah pula, bahwa Tuhan akan membalas setiap perbuatan kita. Buruk akan dibalas buruk, baik dibalas baik. Walau sekecil biji "zarrah". Dalam waktu yang tak tentu. Dalam bentuk yang tak tentu pula. Itu janji Tuhan dalam Kitab-Nya. Dan janji Tuhan itu pasti. Tak mungkin teringkari. 

"Bravo PT KAI...!" berkata saya ketika meninggalkan ruangan Polsus Gambir.

 

Kalibata, 12 Agustus 2019
Ahmad Dahlan

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar