Yamaha Mio S

Hebat! Warga KBB Ini Buat Alat Deteksi Gempa, Lolos Uji BNPB

  Minggu, 11 Agustus 2019   Tri Junari
Ilustrasi gempa.(Ayobandung)

CIPEUNDEUY, AYOBANDUNG.COM--Alat deteksi gempa buatan Agus Ali alias Obrik (43) warga Kampung Hegarmanah, RT02 RW01 Desa Nyenang Kecamatan Cipeundeuy Kabupaten Bandung Barat (KBB) lolos uji Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Saya berinisiatif menguji Lini Bell ke BNPB, hasilnya bisa mendeteksi guncangan gempa bumi mulai dua magnitudo," ungkap Obrik, Minggu (11/8/2019).

Pada pengujian di BNPB, tutur pria tamatan SMK ini, Lini Bell di sandingkan dengan alat serupa buatan China berharga mahal.

Namun ternyata, Lini Bell dinilai lebih unggul lantaran alat deteksi gempa buatan China baru mampu bekerja jika kekuatan gempa minimal empat magnitudo.

Cara kerja Lini Bell sebetulnya sederhana, alat ini cukup di pasang pada dinding rumah dan sirine akan berbunyi saat sensor mendeteksi guncangan.

AYO BACA : Pakar Seismologi: Alat Kegempaan di Indonesia Masih Minim

Agar berfungsi, Lini Bell hanya membutuhkan dua buah baterai A3 sebagai sumber daya dan pemilik cukup rutin mengganti baterai agar fungsi daya Lini Bell tetap terjaga.

"Simpelnya cukup dipasang di tembok, jika terjadi guncangan dengan sendirinya sirine berbunyi memberi peringatan bahwa telah terjadi gempa. Yang sulit membuat sensor guncangan agar deteksinya sesuai keinginan," jelasnya.

Obrik mengemukakan, awal mula dirinya berinisiatif membuat Lini Bell setelah kejadian gempa tahun 2014 lalu. Saat itu ia merasakan getaran gempa kecil dan membuat panik warga kampung.

"Sejak saat itu saya terus mencoba membuat alat deteksi gempa yang murah, setidaknya dengan Lini Bell kita bisa segera mencari tempat aman," kata Obrik.

Pekan lalu, alat sederhana yang cocok diterapkan pada pemukiman rawan gempa ini mendapat peringkat pertama pada gelaran Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2019. 

AYO BACA : BMKG Tambah 22 Pendeteksi Gempa di Jawa Barat

"Saya jual Rp180 ribu, hanya kalau untuk produksi massal saya belum bisa. Terbatas modal dan pekerja,"cetusnya.

Terpisah Kepala Bidang Kerjasama dan Pengembangan Potensi Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) KBB Deni Ahmad, mengatakan saat ini pemerintah daerah sedang membantu Obrik memiliki badan usaha dalam bentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Hal itu di lakukan agar Obrik bisa memproduksi secara massal memenuhi permintaan yang datang dari instansi negara seperti BNPB.

"Pesanan sebenarnya sudah banyak, BNPB saja ingin 10.000 unit. Hanya masih belum cocok harganya dan Obrik masih terkendala badan usaha," papar Deni.

Saat ini, lanjut Deni, Lini Bell terus melakukan inovasi seperti multifungsi selain peringatan gempa juga dipadukan sebagai bel rumah.

"Terus dimodifikasi menjadi multifungsi dan terus menyempurnakan desain," tandasnya.

AYO BACA : LIPKHAS GEMPA: Rumah Tahan Gempa, Sebuah Upaya Mitigasi Bencana

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar