Yamaha Lexi

LIPKHAS GEMPA: Gempa Banten Beri Pesan untuk Kota Bandung

  Minggu, 11 Agustus 2019   Tri Junari
Warga memungut tiang kayu rumahnya yang rusak akibat diguncang gempa di Kampung Karoya, Mandalawangi, Pandeglang, Banten, Sabtu (3/8/2019). (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

WASTUKENCANA, AYOBANDUNG.COM -- Bencana gempa Banten yang berkekuatan 6,9 skala Richter (SR) pada Jumat (2/8/2019) lalu memberi pesan mendalam untuk Kota Bandung. Potensi guncangan gempa bumi lebih besar dapat mengancam kota kembang ini jika pusat gempa berada di Sesar Lembang.

Pakar Geodesi Gempa Bumi ITB, Irwan Meilano, mengatakan pusat gempa bumi Banten di Selat Sunda memang berjarak ribuan kilometer dari Kota Bandung. Namun gempa itu menjadi pelajaran serius karena dampak guncangannya dirasakan hingga wilayah Bandung Raya.

"Dengan jarak dan kedalam pusat gempa jauh dari Kota Bandung saja guncangan cukup terasa. Jika gempa dengan kekuatan sama namun pusat gempanya Sesar Lembang yang jaraknya dekat tentu guncangan akan lebih besar," ungkap Irwan dalam Diskusi Terbuka Kejadian Gempa 2 agustus 2019 di Selat Sunda dan Implikasinya, di Auditorium Rosada Pemerintah kota bandung, Sabtu (10/8/2019).

Menurutnya, meski bencana gempa bumi sulit diprediksi waktunya, warga Kota Bandung harus tetap menyadari jika ancaman itu nyata. Menurut dia, dibutuhkan kesadaran bersama bahwa mitigasi bencana di Kota Bandung dalam kondisi darurat.

Kota ini berisiko tinggi saat gempa karena banyaknya permukiman, tetapi tingkat kesadaran masyarakatnya masih rendah.

"Banyaknya pemukiman menjadi ancaman serius jika gempa terjadi. Mayoritas bangunan rawan guncangan, tentu harus kita sadari bahwa ancaman itu ada dan langkah apa yang harus dilakukan warga itu sendiri dan pemerintah," katanya.

Di tempat sama, Peneliti Pusat Penelitian Mitigasi Bencana ITB, Aria Mariany, mengatakan berkaca pada kejadian gempa Lombok, bangunan permanen justru berpotensi mengalami kerusakan lebih tinggi dari rumah adat berbahan kayu.

Ia menjelaskan, salah satu upaya pengurangan risiko bencana gempa di Kota Bandung adalah dengan mengajak warga mengenali potensi dan dampak gempa di tempat tinggalnya.

"Untuk mengganti menjadi rumah tahan gempa tidak mungkin, upaya yang bisa dilakukan saya kira warga memiliki pengetahuan ruang aman di rumahnya. Ruang aman ini berarti tempat aman terdekat di dalam jika gempa terjadi, edukasi ini harus lebih gencar dilakukan," jelasnya.

Saat gempa, kata dia, guncangan akan melumpuhkan infrastruktur dan menghambat datangnya bantuan dari luar daerah bencana. Dengan demikian warga juga harus membekali diri dengan logistik pribadi.

"Siapkan satu tas darurat berisi kebutuhan pokok selama tiga hari, misalnya pakaian, makanan, dan obat yang akan membantu selama bantuan belum datang," ungkapnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar