Yamaha Mio S

Sengketa Korea Selatan dan Jepang

  Minggu, 11 Agustus 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Jepang-Korea Selatan

PM Shinzo Abe yang berpenampilan kalem, tiba-tiba seperti Donald Trump. Dia pada 4 Agustus 2019 memperketat ekspor tiga bahan penting, fluorinated polymide, resist dan hydrogen fluoride ke Korea Selatan. Ketiganya lazim dipakai untuk pembuatan semikonduktor, telepon pintar dan televisi.

Abe bahkan mengancam akan mengeluarkan Korea Selatan dari daftar negara yang produk ekspornya memperoleh perlakuan khusus. Daftar ini populer dengan sebutan white list dan mencakup seribu item ekspor Korea Selatan. 

Tidak cukup sampai disitu, Abe juga menolak bertemu dengan Presiden Moon selama KTT G-20 di Osaka, beberapa waktu lalu. Abe hanya menyalami Moon saat mengadakan foto bersama.

Mengapa Jepang bersikap keras? PM Jepang menyatakan negara tetangganya telah membatalkan secara  sepihak perjanjian kesepakatan tentang penyelesaian wanita penghibur atau comfort zone. Tambahan lagi, Mahkamah Agung Korea Selatan mewajibkan Jepang membayar lebih banyak kompensasi kepada para buruh Korsel yang bekerja pada militer Jepang selama Perang Dunia II. 

Mahkamah Agung menyatakan dapat memerintahkan penyitaan aset-aset perusahaan Jepang yang beroperasi di Korea Selatan. Tujuannya untuk mengkompensir hak-hak wanita Korea yang tidak diperlakukan secara manusiawi oleh tentara pendudukan Jepang.  Nippon Steel, Mistsubishi Heavy Industries dan Sumitomo Metal diwajibkan membayar kompensasi itu pada 1 Juli 2018.

Sebenarnya bukan kali ini saja Abe melancarkan kebijaksanaan yang bersifat menghukum. Empat tahun lalu, dia membiarkan persetujuan currency swap kedua negara berakhir begitu saja. Serangkaian peristiwa ini membuat kedua sekutu  Amerika Serikat itu tidak lagi seiring sejalan. Kondisi yang dapat membuat Asia Timur berubah. 

Bara memang rajin menyala menjelang peringatan berakhirnya Perang Dunia II. Upacara peringatan selalu diwarnai dengan peringatan kekejaman tentara Jepang di Semenanjung Korea, China, Vietnam, Myanmar sampai ke Indonesia. Jutaan wanita, di Korea Selatan saja berjumlah 100 ribu – 200 ribu, dipaksa melayani tentara-tentara pendudukan Jepang.  

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menolak kesepakatan negaranya dengan Jepang tentang comfort woman yang dibuat pendahulunya, Presiden Park Geun-hye pada Desember 2015 dengan Abe.  Moon pada tahun lalu juga berkilah, masalah comfort woman tidak bisa diselesaikan secara diplomatik, melainkan harus diatasi melalui peningkatan kesadaran global tentang tindak kekerasan seksual terhadap wanita. 

Moon menjadikan tanggal 14 Agustus sebagai hari libur baru untuk mengenang perlakuan terhadap perempuan Korea yang dijadikan wanita penghibur. Diapun mendirikan lembaga pengakajian khusus riset tentang wanita penghibur, yakni Institut Hak-hak Asasi Kaum Wanita. 

Menanggapi sikap keras Jepang, Moon minggu lalu menyatakan pembatasan ekspor telah mematahkan kerjasama ekonomi diantara kedua negara yang telah berlangsung lebih dari setengah abad. Kerjasama yang berdasarkan saling ketergantungan.

Ini persoalan sejarah yang tak ada hubungannya dengan politik. Kami membawa kasus ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), ujar seorang pejabat Korsel.

Tindakan Jepang pada awal bulan lalu mencemaskan putusnya rantai pasokan untuk produk-produk elektronik, tetapi tanpa alasan yang jelas Tokyo pada 8 Agustus 2019  mengizinkan kembali pengiriman kembali resist atau extreme ultraviolet (EUV) resist untuk semikonduktor ke Korea Selatan.

Meskipun Jepang mulai melunak, namun kalangan industri Korea Selatan mulai diingatkan dengan bahaya ketergantungan kepada pasokan asing. Kim Kyu-pan, periset pada Kebijaksanaan Ekonomi Internasional di Institut Korea menambahkan, kerjasama industri dengan Jepang di masa datang tidak lagi lunak. “Untuk itu perilaku Jepang perlu terus dimonitor.”

Siapa Yang Dirugikan?

Pengertian pengetatan ekspor itu adalah berkurang kemudahan dalam urusan kepabeanan. Eksportir diharus meminta izin dan sebagainya yang dapat menyebabkan pengapalan tertunda sampai 90 hari. Sebelum pengetatan berlaku, pengiriman dari Jepang ke Korea Selatan dapat tiba dalam sekejap mata.

Sudah pasti Samsung Electronics, SK Hynix dan LG Electronics mempunyai cadangan bahan yang diperlukan untuk membuat chip, namun bila pengketatan berkepanjangan maka produksi produsen dua pertiga chip dunia itu akan terganggu. 

Ketiga perusahaan sulit mencari pengganti sebab  90 persen fluorinated polyamide dan resist dunia dihasilkan JSR Corporation, Showa Denko, dan Shin-Etsu Chemical.) Produk tersebut digunakan untuk pembuatan layar LCD dan OLED untuk televisi dan bahan baku chip. Chip ini digunakan untuk bahan pembuatan handphone.

Adapun hidrogen fluorida atau cairan sangat murni asam fluorida dipakai untuk membersihkan chip tersebut.

Para analis memperkirakan, kebijaksanaan akan mempengaruhi mata rantai produksi HP, TV maupun produk-produk elektronik lainnya. Kebijakan tersebut juga akan membuahkan protes dan aksi saling balas. 

Rakyat Korea Selatan mulai memboikot mobil, pakaian jadi dan berbagai produk buatan Jepang lainnya. Toyota, Uniqlo sudah merasakan akibatnya. Friksi ini sudah mulai disebut perang dagang. 

Tidak cukup sampai di situ, Korea Selataon mengajukan protes karena memasukkan kepulauan yang disengketakan ke dalam peta dan situs web Olimpiade 2020. Jepang menyebutnya kepulauan Takeshima sedangkan Korea Selatan menamakannya Dokdo.

Tampaknya kelak Indonesia akan diminta menengahi sengketa ini sebab memiliki hubungan baik dengan kedua negara, walaupun wanita Indonesia juga pada 1940-an pernah dijadikan wanita penghibur.  

Farid Khalidi 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar