Yamaha Mio S

Perempuan dan Jejak Politik di Indonesia

  Sabtu, 10 Agustus 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi politik.(Pixabay)

Membaca realitas perempuan Indonesia teranyar, terlebih dalam ranah publik politik, cukup miris sekaligus ironis. Sekilas pintas perempuan Indonesia sekarang banyak yang manggung di tingkat lokal dan nasional cukup membanggakan. Tetapi kehadiran mereka secara umum masih menjadi pelengkap kuota saja. Bahakan tidak sedikit para perempuan itu menjadi sebab utama kemunduran bangsa. Terutama terkait tindak pidana korupsi.  

Adapun di gedung parlemen, perempuan politikus kurang terasa peran sertanya. Misal, dalam sidang terbuka para perempuan politikus ini lebih banyak duduk manis alias diam saja. Perannya baru terlihat nyata ketika mekanisme penghitungan suara terbanyak dilakukan.

Tentu saja fenomena itu kurang baik bagi proses demokratisasi dan masa depan bangsa. Oleh sebab itu ada baiknya para (calon) perempuan politkus ini membaca jejak sejarah politisi zaman baheula, terutama para pemudanya.

Peran pemuda sejak pra dan pascakemerdekaan sungguh luar biasa. Pelbagai tonggak sejarah bangsa banyak ditentukan oleh para pemuda. Meski usianya muda, tapi daya pikirnya panjang, tajam, dan mencerahkan.

 Atas dasar persamaan, meraih kesetaraan, dan kebebasan sejumlah pemuda menyatukan diri di antranya dalam wadah Sjarikat Islam (1905) dimotori H. Samanhudi dan kawan-kawan; Boedi Oetomo(1908) didirikan dr. Soetomo; serta pada tahun 1927 dimotori Sokarno lahir Partai Nasional Indonesia.

 Lalu, pada tahun 1920-an pergerakan pemuda berasa corak kedaerahan. Perkumpulan pemuda itu di antaranya Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Kaoem Betawi, serta Sekar Roekoen Sunda. Anggota perkumpulan yang tidak ratusan ini biasanya menyuntuki dan melestarikan seni dan bahasa daerah.

 Kesadaran mencintai seni dan bahasa daerah masing-masing mulai terbagi dua dengan kesadaran menumbuhkan bahasa persatuan, bahasa nasional. Kongres Pemuda I dilaksanakan dari tanggal 30 April - 2 Mei 1926. Kongres Pemuda I diketuai oleh Muhammad Tabrani.

 Dua tahun setelah itu, masih di Jakarta, pada  28 Oktober 1928, diselenggarakan Kongres Pemuda II dipimpin oleh Sugondo Joyopuspito (PPPI) dan wakilnya Joko Marsaid (Jong Java).  Hadir juga beberapa pemuda yang kelak juga mewarnai arah perjalanan bangsa. Di antaranya Mr Sartono dari Partai Nasional Indonesia, Kartosoewirjo dari Sarekat Islam, dan A.I.Z. Mononutu, yang mewakili Persatuan Pemuda Minahasa. Kongres Pemuda II menghasilkan Trilogi Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia.

 Jelas, dari pelbagai perkumpulan pemuda, juga perjalanan sejarah Indonesia, jarang sekali tokoh perempuan yang ditampilkan dalam posisi strategis. Peran perempuan cenderung tidak dihadirkan.

 Padahal di antara kaum adam, ada pula sejumlah perempuan yang menjadi saksi sejarah. Di antaranya Johanna Masdani, lahir 29 November 1910 dan meninggal 13 Mei 2006. Beliau menyaksikan Kongres Pemuda dan menjadi saksi pembacaan proklamasi kemerdekaan Indoneia.

 Karenanya sungguh beralasan pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta lahir Kongres Perempuan. Tonggak sejarah ini sekarang diperingati sebagai Hari Ibu. Dalam kongres ini, para pahlawan perempuan memperjuangkan semangat persatuan dan kemerdekaan Indonesia.

 Dalam kongres yang menggunakan bahasa Indonesia ini dihadiri perwakilan 30 organisasi perempuan dari seluruh Indonesia, di antaranya adalah Putri Indonesia, Wanito Tomo, Wanito Muljo, Wanita Katolik, Aisjiah, Ina Tuni dari Ambon, Jong Islamieten Bond bagian Wanita, Jong Java Meisjeskring, Poetri Boedi Sedjati, Poetri Mardika dan Wanita Taman Siswa.

Adapun yang menjadi panitia: Nn. Soejatin dari Poetri Indonesia sebagai Ketua Pelaksana, Nyi Hajar Dewantara dari Wanita Taman Siswa sebagai Ketua Kongres, dan Ny. Soekonto dari Wanito Tomosebagai Wakil Ketua.

Di antara bintang bersinar terang dalam kongres ini adalah Soejatin dan Siti Soenndari, yang menggebu-gebu menentang poligami dan perkawinan di bawah umur. Suatu isu yang hingga kini terus diperjuangkan agar hak dan kewajiban perempuan bisa setara dengan kaum pria.

Sungguh nyata bahwa, perempuan pun dari dahulu hingga sekarang mempunyai peran penting dalam menentukan bangsa dan ketatanegaraan Indonesia. Dan, hal seperti itu yang mesti digelorakan kepada generasi bangsa terkini. 

Neneng Ratna Suminar

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar