Yamaha Aerox

LIPKHAS GEMPA: Rumah Tahan Gempa Tak Semahal Rumah Umumnya

  Kamis, 08 Agustus 2019   Firda Puri Agustine
Pekerja menyelesaikan pembangunan rumah Kuat Aman Cepat (Kumac) di Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Minggu (21/10/2018). Rumah tipe 36 berbahan dasar styrofoam dan serat fiber tersebut dijual R50 juta per unit dengan keunggulan lebih cepat pembuatannya, anti rayap, anti karat, anti jamur dan tahan gempa hingga 9 SR. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

BEKASI, AYOBANDUNG.COM -- Rumah tahan gempa menjadi salah satu solusi mitigasi bencana di Indonesia. Negara rawan gempa lain seperti Jepang sudah mewajibkan warganya membuat bangunan seperti itu sejak puluhan tahun lalu.

“Tidak bisa tidak, solusinya membuat bangunan atau rumah tahan gempa. Kita bisa contoh Jepang. Ini bisa meminimalisir jumlah korban,” kata Daryono kepada ayobekasi.net, Kamis (8/8/2019).

Banyak yang beranggapan bahwa membuat rumah tahan gempa butuh biaya mahal. Logika sederhana saja, bahan-bahan bangunan yang biasa digunakan saat ini, tak lagi bisa dibilang murah. Apalagi bahan yang diklaim tahan gempa. Tapi, benarkah demikian?

AYO BACA : LIPKHAS GEMPA: Catatan Gempa di Jawa Barat Akibat Sesar Baribis

Ditelisik ke situs resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), ternyata pembuatan rumah tahan gempa untuk tipe 36 misalnya, tidak sampai memakan ratusan juta Rupiah.

“Hanya sekitar Rp50 juta per unit tipe 36, sudah lengkap dengan kamar mandinya,” kata Kepala Pulitbang Perumahan dan Permukiman Kementerian PUPR Arief Sabaruddin seperti dikutip situs resmi Kementerian PUPR.

Kementerian PUPR melalui Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) menciptakan Risha yang merupakan kepanjangan dari rumah instan sederhana sehat. Baru diluncurkan akhir tahun 2018 lalu.

AYO BACA : LIPKHAS GEMPA: Sesar Baribis Arah Jakarta, Antara Ada dan Tiada

Risha adalah rumah dengan konsep knock down, di mana proses pembangunannya tidak membutuhkan semen dan bata, melainkan dengan menggabungkan panel-panel beton dengan baut.

Struktur bangunan Risha terdiri dari tiga jenis panel yang terbuat dari bahan beton bertulang, semacam paduan semen, pasir, dan kerikil. Panel pertama berukuran lebar 30 cm, tinggi 120 cm, dan tebal 2,5 cm. Panel kedua berukuran lebar 20 cm, tinggi 120 cm, dan tebal 2,5 cm.

Terakhir, panel ketiga sebagai penyambung sudut berukuran lebar 30 cm, tinggi 30 cm, dan tebal 2,5 cm. Semua panel dikelilingi bingkai berukuran 6X10cm. Berapa harga tiap panel?

Masing-masing panel satu, dua, dan tiga, yakni Rp110 ribu per meter persegi, Rp100 ribu per meter persegi, dan Rp90 ribu per meter persegi. Adapun panel dinding Rp160 ribu per meter persegi dan panel kusen Rp50 ribu per meter persegi.

Sebagai contoh konkret, rincian pembangunan rumah tipe 33 dengan lantai semen pelur, yakni panel struktur (gabungan P1, P2, dan P3) = 142 m2 (Rp14,2 juta), panel dinding = 44 m2 (Rp7,04 juta), panel kusen = 40 m2 (Rp2 juta), atap, kaca, sanitair, daun pintu, finishing, dan lain-lain sekitar Rp24 juta. Totalnya menjadi Rp47 juta.

Rincian harga di atas bisa lebih murah hingga menjadi Rp35 juta jika mengkombinasikan panel dinding beton dengan papan gypsum. Pun tidak mutlak karena disesuaikan juga dengan tipe bangunan, luas tanah, dan kondisi keuangan pemilik rumah.

AYO BACA : LIPKHAS GEMPA: Bukan karena Baribis, Ini Catatan Gempa Megathrust di Jakarta

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar