Yamaha Aerox

Metropolitan Bandung Raya, untuk Siapa?

  Kamis, 08 Agustus 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Sejumlah anak berenang di kolam dangkal Taman Sejarah, Jalan Aceh, Kota Bandung, Rabu (26/12/2018). (Irfan Al-Faritsi/Ayobandung.com)

Terwujudnya kawasan metropolitan Bandung diharapkan dapat menjadi solusi bagi berbagai persoalan yang saat ini membelit Bandung dan sekitarnya sehingga kawasan Bandung Raya menjadi wilayah yang semakin layak huni dan membuat segenap warganya semakin sejahtera. Bukan malah sebaliknya.  

Pemerintah Kota Bandung dan Kementerian Perencanaan Pembanguan Nasional (PPN) Bappenas telah menandatangani nota kesepahaman terkait pengembangan kawasan metropolitan Bandung Raya.

Nota kesepahaman tersebut diteken langsung oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, dan Wali Kota Bandung, Oded M Danial, beberapa waktu lalu. Jika nanti sudah terwujud, metropolitan Bandung Raya mencangkup Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Sumedang. Untuk perkembangan selanjutnya, bisa saja daerah-daerah lainnya, seperti Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Garut dan Kabupaten Subang, masuk pula ke dalam kawasan metropolitan Bandung Raya.

Secara sederhana, metropolitan dapat didefinisikan sebagai suatu kawasan perkotaan yang relatif besar, baik dari ukuran luas wilayah, jumlah penduduk, maupun skala aktivitas ekonomi dan sosial.

Menilik perkembangan Bandung dan sekitarnya saat ini, Metropolitan Bandung Raya memang sebuah keniscayaan. Seiring dengan bergeraknya jarum waktu, perubahan Bandung, yang dulu cuma dusun kecil nan sunyi dikepung gunung-gunung, menuju sebuah metropolitan tampaknya memang tidak bisa ditunda-tunda lagi.

Kita sama-sama tahu, selain sebagai pusat pemerintahan provinsi Jawa Barat, Bandung juga menjadi pusat beragam jenis aktivitas sosial dan ekonomi dengan perputaran uang sangat tinggi, yang akhirnya menyedot banyak kalangan untuk datang dan bermukim di kota ini. Dampaknya, kota ini pun semakin sesak dan dari waktu ke waktu wajah Bandung terus berubah. Pada saat bersamaan, daerah-daerah lain di sekitar Bandung juga terkena imbas dari setiap jengkal perubahan yang terjadi di Bandung.

Persoalan-persoalan yang saat ini dihadapi Bandung dan daerah-daerah di sekitarnya umumnya hampir sama. Persoalan-persoalan itu antara lain yaitu: penyediaan rumah layak huni, penyediaan air besih, kemacetan lalu-lintas, peningkatan polusi, pengangguran dan penyediaan lapangan kerja, sampah rumahtangga dan limbah industri, pelestarian cagar budaya, ketahanan pangan, pertambahan jumlah lansia, akses pendidikan dan layanan kesehatan yang merata bagi segenap warga, meningkatnya kriminalitas serta bencana (baik yang alami maupun yang dipicu oleh perbuatan manusia).

Tentu saja, dengan terbentuknya metropolitan Bandung Raya, diharapkan persoalan-persoalan di atas dapat semakin tertanggulangi. Dengan demikian, metropolitan Bandung Raya menjadi sebuah wilayah yang bukan saja mampu mendorong segenap warganya semakin sejahtera, tetapi juga mendorong warganya semakin bahagia.

Kendatipun demikian, terdapat pula kehawatiran dari sementara kalangan bahwa terbentuknya metropolitan Bandung Raya bakal makin membuat lingkungan terdegradasi akibat pola pembangunan yang cenderung akan lebih memberat kepada aspek ekonomi, yang akhirnya dapat mengundang bencana ekologis semakin sering datang. Semoga saja kekhawatiran seperti itu tidak menjadi kenyataan.

Bagaimananapun, pembangunan dan pengembangan sebuah kawasan harus menjadikan segalanya semakin baik. Bukan malah sebaiknya. Untuk itu, upaya pengembangan metropolitan Bandung Raya wajib memprioritaskan aspek keberlanjutan demi terciptanya keseimbangan ekonomi, sosial, budaya maupun lingkungan, bagi generasi masa kini dan generasi masa datang

Yang tak kalah penting yaitu setiap kebijakan dan layanan publik di metropolitan Bandung Raya haruslah responsif terhadap tuntutan serta kebutuhan warga. Di samping itu, juga harus adil. Artinya, segenap warga, tanpa memandang jender, suku, warna kulit, tingkat pendidikan, status sosial, afiliasi politik, keyakinan maupun agama memeroleh akses yang sama bagi berbagai layanan kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan, pekerjaan, air bersih, sanitasi dan layanan-layanan publik lainnya.

Pada saat yang sama, partisipasi publik secara aktif -- termasuk partisipasi dari kelompok yang termarjinalisasi -- dalam proses pembuatan keputusan perlu terus diupayakan. Partisipasi publik ini perlu dibarengi pula oleh pengelolaan kawasan yang dilakukan secara transparan oleh semua pemangku kepentingan. Ini untuk menciptakan iklim keterbukaan dan keterpercayaan sekaligus menegakkan profesionalitas, integritas serta sebagai modal untuk membangun kolaborasi yang harmonis dari semua pihak dalam menghadapi berbagai persoalan di seluruh wilayah metropolitan Bandung Raya. 

Di luar hal-hal tersebut, faktor keamanan harus benar-benar terjamin sehingga hak-hak dasar seperti hak hidup, kepemilikan, dan kebebasan dapat dirasakan oleh semua warga, tanpa terkecuali. Untuk itu, pengelola metropolitan Bandung Raya mesti berusaha keras menghindari dan mengatasi terjadinya aneka konflik maupun bencana, sekecil apa pun.

Pada akhirnya, kita sangat berharap upaya pengembangan metropolitan Bandung Raya dapat berjalan mulus dan sekaligus menjadi solusi jitu bagi berbagai persoalan yang dihadapi Kota Bandung dan wilayah-wilayah di sekitarnya. Dengan begitu, metropolitan Bandung Raya menjadi kawasan yang kian layak huni dan membuat setiap warganya kian sejahtera dan kian bahagia, baik lahir maupun batin.

Djoko Subinarto

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar