Yamaha Lexi

LIPKHAS GEMPA: Warga Bandung Desak Sosialisasi Potensi Gempa Sesar Lembang

  Rabu, 07 Agustus 2019   Nur Khansa Ranawati
Sesar Lembang. (Istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Saat ini, Kota Bandung dan sekitarnya tengah menghadapi ancaman potensi gempa Sesar Lembang yang disinyalir memiliki kekuatan bermagnitudo 6,5 hingga 7. Simpulan tersebut didapat dari serangkaian peneliti geologi dan kegempaan yang menyatakan sesar aktif yang membentang sepanjang 29 kilometer dari ujung barat hingga ujung timur Kota Bandung tersebut saat ini akan memasuki periode "ulang tahun gempa". Meskipun waktu persisnya tidak dapat diketahui.

Peneliti gempa dari LIPI, Mudrik Rahmawan Daryono menjelaskan, hingga saat ini, tercatat ada dua sejarah kejadian gempa besar di Sesar Lembang. Kedua gempa tersebut terjadi pada abad ke-60 SM dan abad ke-15. Meski demikian, dari penelitian tersebut belum dapat diketahui interval pasti kejadian gempa Sesar Lembang. Yang jelas, potensi kemunculan gempa tersebut hingga saat ini patut diwaspadai.

Namun, hingga saat ini, warga Kota Bandung masih menunggu sosialisasi yang komprehensif dari pemerintah kota maupun Provinsi Jawa Barat mengenai mitigasi dan antisipasi potensi bencana gempa tersebut.

Salah satu warga Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Mellysa Widyastuti mengatakan, mayoritas warga di daerah tersebut belum mengetahui bahwa daerah tempat tinggal mereka merupakan salah satu daerah yang berdekatan dengan jalur utama patahan Sesar Lembang. Selama 22 tahun tinggal di kawasan tersebut, dirinya belum pernah mendapat sosialisasi resiko bencana dan mitigasi soal Sesar Lembang maupun potensi bencana lainnya.

"Saya yakin sebagian besar warga komplek enggak pernah ada yang tahu bahwa kita bagian dari Sesar Lembang. Belum pernah ada sosialisasi, sekarang juga sedang ada pemilihan kepala desa dan belum ada yang bahas program-program soal penanggulangan bencana," ungkapnya pada ayobandung.com, Rabu (7/8/2019).

Dia mengatakan, salah satu hal yang membuatnya khawatir adalah perihal jalur evakuasi bila suatu saat gempa tersebut terjadi.

"Komplek tempat saya tinggal itu daerah padat banget, pintu keluar-masuknya cuma satu, sementara di dalamnya ada lima komplek. Setiap pagi di jam berangkat sekolah, antrean keluar komplek itu bisa sampai 300-500 meter. Kebayang deh kalau ada bencana, mau keluar dari jalan itu bagaimana," keluhnya.

AYO BACA : LIPKHAS GEMPA: Rumah Tahan Gempa, Sebuah Upaya Mitigasi Bencana

Hal serupa juga disampaikan Irfansyah, warga yang tinggal di bilangan Pasir Impun. Dia mengatakan, meskipun di daerah tempatnya tinggal diakui sudah cukup banyak warga yang paham akan adanya potensi gempa Sesar Lembang, namun mereka belum tahu harus melakukan apa bila gempa tersebut sewaktu-waktu terjadi.

"Warga Pasir Impun khususnya Jalan Cikawari tuh sering berinteraksi dengan warga Manglayang. Kalau kita lihat ke arah Oray Tapa, kelihatan bahwa daerah tempat kami tinggal memang ada di jalur Sesar Lembang," ungkapnya.

"Ya ada masyarakat yang sudah was-was, tapi belum pernah dapat penyuluhan atau sosialisasi. Orang yang tahu soal Sesar Lembang juga paling hanya warga yang sudah lama tinggal di sana, karena banyak sekali warga pendatang dari luar Pasir Impun yang kemungkinan belum paham hal tersebut," tambahnya.

Sementara itu, kondisi yang tak jauh berbeda juga dilami Naufal Hafidz, warga Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Dirinya yang tinggal tidak terlalu jauh dari Pasar Panorama Lembang mengatakan bahwa banyak warga di daerah sekitar rumahnya yang sudah mengetahui soal gempa Sesar Lembang. Namun, lagi-lagi, jarang yang memahami langkah-langkah yang harus diambil apabila hal tersebut terjadi.

"Ya secara umum sih menurut saya sudah pada tahu potensinya, tapi ketika ditanya soal antisipasi, ya pada diem aja. Mungkin sudah tahu (ada potensi gempa), tapi setelah itu enggak tahu harus ngapain," jelasnya.

Dirinya juga mengatakan, sepengamatan dirinya, belum ada tanda-tanda khusus yang disiapkan oleh pemerintah sebagai penanda kawasan mana saja yang dilewati Patahan Lembang dan kemana warga harus bergerak apabila terjadi gempa.

"Belum ada informasi jalur Patahan Lembang itu di mana saja, belum ada edukasi juga," ungkapnya.

AYO BACA : LIPKHAS GEMPA: Menengok Rumah Ramah Gempa Desa Jayapura Tasikmalaya

Minimnya sosialisasi yang komprehensif pada warga Kota Bandung dan sekitarnya, terutama yang tinggal di dekat jalur Patahan Lembang membuat informasi soal potensi bencana tersebut menjadi simpang siur. Akibatnya, rasa was-was dan resah yang tak perlu menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan.

"Warga Ngamprah saat ini was-was dengan jalur Cimeta yang katanya nyambung dengan Patahan Lembang. Tapi sampai saat ini belum ada klarifikasi dan penjelasan lebih lanjut soal hal tersebut. Saya kecewa, lah," ungkap Firdaus, salah satu warga Kecamatan Ngamprah, Bandung Barat.

Semuanya berharap, pemerintah dapat memberikan sosialisasi mitigasi bencana yang memadai agat masyarakat dapat mengetahui tahapan penyelamatan diri apabila bencana terjadi.

"Ya harapannya ada sosialiasi soal mitigasi bencana, minimal agar masyarakat tahu bahwa daerah kita masuk jalur Sesar Lembang," ungkap Mellysa.

Harus Dibangun Sistem

Peneliti resiko bencana ITB, Harkunti Rahayu mengatakan, guna membangun kesiapsiagaan gempa, diperlukan perumusan strategi mitigasi yang melibatkan seluruh unsur termasuk pihak pengembang hunian.

"Kita punya tiga patahan besar; Lembang, Balibis, dan Cimandiri. Sudah ada Perda yang dibuat bahwa bangunan harus tahan terhadap gempa. Tapi kan daya dukung dari masyarakt sendiri berat. Untuk punya rumah tahan gempa juga mungkin tak terpikirkan," ungkapnya ketika ditemui ayobandung.com belum lama ini.

"Seluruh aspek masyarakat perlu dipersiapkan betul-betul. Perlu dibangun suatu sistem dalam membangun kesiapsiagaan bencana," tambahnya.

Harkunti menilai, masyarakat Kota Bandung dan sekitarnya saat ini belum cukup memiliki persiapan yang memadai untuk dapat mengurangi resiko bencana apabila gempa tersebut terjadi.

"Jujur saja kalau itu terjadi, saya belum berani jawab kita siap. Enggak ada yang pernah siap. Apalagi dilihat bahwa gempa itu enggak membunuh kita, yang membunuh kita itu bangunan. Bagaimana kualitas dari bangunan masyarakat umum itu lah yang menjadi pertanyaan besar," ungkapnya.

AYO BACA : LIPKHAS GEMPA: Tasik Buat Sekolah dan Kampung Siaga Bencana

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar