Yamaha Mio S

Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa

  Minggu, 04 Agustus 2019   Rizma Riyandi
Pancasila

Bangsa Indonesia sudah berusia 74 tahun, 13 hari lagi akan masuk pada usia yang ke 75 tahun. Namu, bangsa kita masih saja mempertentangkan antara pancasila dengan agama. Persoalan klasik ini yang melahirkan problem hubungan antara agama dan pancasila yang kadang naik ke atas permukaan, menjadi persoalan ideologi yang tak pernah padam.

Pada hal antara pancasila dan agama tidak ada persoalan yang harus diributkan lagi oleh kita, semuanyan telah selesai dan pancsila sudah menjadi ideologi dan dasar negara ini. Tetapi persoalan ini, setiap tahun selalu saja digoreng-goreng, seakan-akan antara pancasila dan agama merupakan musuh lama yang bangkit kembali yang ingin memperebutkan satu tahta dinegara ini.

Lahirnya pancasila sebagai dasar negara ini semata-mata untuk memnyatukan bangsa yang majemuk, yang terdiri dari berbagai golongan, suku, kebudayaan maupun agama. Pancasila bukan lahir untuk menindas satu golongan dan melindungi golongan yang lainnya.

Dalam tubuh pancasila sudah jelas mengandung nilai ketuhanan yang maha Esa, dan nilai persatuan dan kesatuan supaya kitas sadar bahwa tidak ada pertentangan antara pancasila dan agama maupun golongan-golongan yang ada. Semuanya sudah dilindungi dan disatukan oleh pancasila.

Bukankah para founding father kita sedari awal menyadari bahwa Sebagai bangsa yang majemuk dan plural, yang terdiri dari berbagai golongan, suku, etnis, kebudayaan, dan agama. Maka harus ada satu dasar negara yang diperlukan untuk menjaga kebersamaan agar nilai-nilai ini tetap terjaga secara utuh.

Sehingga dirumuskanlah pancasila sebagai dasar ideologi negara sekaligus sebagai pemersatu bangsa. Para pendiri bangsa yang terdiri dari kaum agamawan dan nasioanal telah menyepakati bahwa hanya dengan pancasila saja kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia ini akan terus terjaga.

Seandainya kala itu para agamawan menolak pancasila sebagai dasar negara untuk pemersatu bangsa, dan secara arogan menginginkan paham agama sebagai dasar negara, maka negara Indonesia yang seperti sekarang tentunya tidak kita jumpai.

Berkat kearifan lokal yang menempatkan kepentingan bangsa jauh di atas kepentingan golongan, suku dan agama maka Indonesia bisa eksis hingga sekarang ini. Tentunya kita sekarang ini harus berterima kasih banyak kepada para pendiri bangsa dan para agamawan kita dulu yang telah bersusah payah merumuskan pancasila ini sebagai dasar negara kita.

Sebagai dasar negara, pancasila memiliki posisi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab negara, yang merupakan institusi utama pengaturan masyarakat, tidak hanya mengatur aspek material tetapi juga mental.

Dengan mendasari negara sebagai nilai-nilai normative, pancasila juga semestinya menjadi pola dasar dari cara berpikir dan bertindak dari masyarakat. sehingga tidak ada lagi pertentangan mendasar antara negara dengan agama, maupun golongan-golongan yang ada.

Tapi mengapa bangsa kita yang sekarang ini masih saja mempersoalkan antara pancasila dan agama, pancasila dengan gerakan umat. Pada hal, masih banyak persoalan- persoalan lain yang harus diselesaikan secara bersama yang masih mengintai dan mengakar dalam kehidupan bangsa ini.

Seperti persoalan kemiskinan, ketimpangan sosial, korupsi yang semakin merajalela, konflik agrarian yang tak bisa dibendung lagi, dan kasus-kasus hukum yang sampai sekarang masih belum terungkap. Seharunya negara dan umat harus bersama-sama dan saling memegang tangan untuk menyelesaikan persoalan ini. bukan malah saling bermusuhan dan saling mempertentangkan antara satu sama lain.

Alimudin Sape

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar