Yamaha

Mbah Rono Soal Tangkuban Parahu : Meletus Itu Niscaya, yang Penting Mitigasinya

  Sabtu, 03 Agustus 2019   Nur Khansa Ranawati
Ahli Geologi, Surono alias Mbah Rono. (Nur Khansa/ ayobandung)

CIMENYAN, AYOBANDUNG.COM -- Surono atau Mbah Rono, ahli Geologi yang juga merupakan mantan Kepala Badan Geologi Kementrian ESDM angkat bicara soal peningkatan aktivitas Gunung Tangkuban Parahu Bandung selama sepekan ke belakang, yang juga menyebabkan sejumlah erupsi.

Dia mengatakan, dirinya lebih mengkhawatirkan masyarakat yang minim pengetahuan soal mitigasi ketimbang kemungkinan munculnya erupsi besar dari gunung tersebut.

"Tangkuban Parahu dari mulai abad 19 letusannya seperti itu aja, letusan freatik seperti yang terjadi di 2013 juga. Saya enggak menghawatirkan letusan freatik yang bisa membahayakan Bandung, tapi khawatir dengan pengunjungnya yang terlalu dekat," ungkapnya ketika ditemui di sela acara Ngobrol Serius Kebencanaan di Tahura Juanda, Sabtu (3/8/2019).

Erupsi Tangkuban Parahu, seperti juga gempa di kawasan Banten kemarin malam, dikatakan sebagai hal yang niscaya. Pasalnya, hal tersebut merupakan bagian dari tata geologi yang dimiliki Indonesia dimana terdapat zona penunjamam atau subduksi di antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia.

"Bagian barat Sumatera sama dengan kondisinya sebelah selatan Jawa itu ada zona penunjaman antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Kalau akumulasi energinya itu sudah sangat tinggi kan mesti dilepas," ungkapnya. 

"Pelepasan energi seperti kemarin adalah salah satu keniscayaan dari tata geologi Indonesia. Tidak ada yang aneh," tambahnya.

Oleh karena itu, karena Indonesia dikelilingi potensi bencana alam, dia mengatakan maka masyarakatnya harus belajar mengakrabi lingkungannya, mulai dari mengenali ciri-ciri gejala alam hingga memahami jalur evakuasi.

"Tangkuban Parahu sudah pasti akan meletus karena itu gunung api aktif. Sesar di sebelah barat Sumatera itu bisa jadi gempa besar karena merupakan kepastian. Dari dulu nenek moyang kita sudah terancam bencana seperti itu. Indonesia ini memang rawan terjadi gempa bumi dan letusan gunung api, yang harus kita perbuat adalah pendidikan masyarakatnya," paparnya. 

Khusus untuk Tangkuban Parahu, Mbah Rono mengatakan pihak pengelola idealnya dapat rutin berkoordinasi dengan Badan Geologi dan BPBD untuk mitigasi bencana.

"Seharusnya pengelola koordinasi dengan badan geologi dan pemerintah lewat BPBD, bagaimana kalau tiba-tiba terjadi letusan seperti kemarin. Bagaimana evakuasi dan mitigasi bencananya. Subjeknya kan bukan gunungnya, tapi masyarakatnya," jelasnya.

Salah satunya yang paling mudah dilakukan, ia mengatakan adalah mengunggah petunjuk mitigasi bencana hingga kondisi terkini dari gunung tersebut di laman web yang dimiliki.

"Paling enggak di website ada petunjuk. Di tempat wisata berbahaya orang seringnya hanya nyari tanda toilet kemana, bukan kalau ada bencana harus bagaimana. Di web juga nyatakan saja kalau Tangkuban Parahu aktivitasnya meningkat sehingga ditutup. Masyarakat harus tau tentang itu," jelasnya.

Pihak pengelola dinilai harus dapat terus terang dan transparan dalam menyampaikan hal-hal terkait aktivitas gunung tersebut pada masyarakat.

"Harus jujur mengatakannya kalau gunung api ini meningkat (aktivitasnya). Bukan buat provokasi atau merugikan pengelola, tapi agar seluruh masyarakat waspada," jelasnya. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar