Yamaha

Di Tangan Zaenal Mustofa, Pedang Bambu Jadi Senjata Mematikan untuk Penjajah

  Jumat, 02 Agustus 2019   Irpan Wahab Muslim
Komplek pemakaman Zaenal Mustofa. (Irpan Wahab/Ayotasik.com)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Sebagian masyarakat Tasikmalaya mengenal Zaenal Mustofa sebagai ulama kharismatik yang melakukan perlawanan kepada penjajahan Balanda dan Jepang. Keberanian melakukan perlawanan itu berbuah predikat pahlawan nasional dari pemerintah. Hanya berbekal pedang bambu dan semangat mengusir penjajah, sosok Zaenal Mustofa juga disegani penjajah.

Zaenal Mustofa lahir di kampung Bageur, Desa Sukarapih, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya. Beliau lahir dari keluarga petani yang taat beragama. Maka tidak heran, Zaenal yang saat kecil dipanggil Hudaemi itu mendapatkan ilmu agama di daerahnya.

Selama 17 tahun, Zaenal Mustofa menimba ilmu di berbagai pondok pesantren, salah satunya Pesantren Gunung Pari dan Cilenga Kecamatan Leuwisari. Karena kecerdasannya,  Zaenal Mustofa berhasil ke tanah suci Mekah dan Madinah untuk memperdalam ilmu agama sekaligus melaksanakan ibadah haji.

Sepulang dari Mekah tahun 1927, Zaenal Mustofa mendirikan Pesantren Sukamanah. Beberapa pembaharuan sistem pesatren pun dilakukan sektar tahun 1930 dengan mengadaptasikan pembelajaran tafsir alquran dalam bahasa sunda agar mudah dipahami. Tidak hanya itu, kemampuan berbahasa Belanda juga ia tularkan kepada sejumlah santri.

Gejolak Perlawanan

AYO BACA : Tasikmalaya Pernah Menjadi Ibukota Sementara Jawa Barat

Sikap kritisnya terhadap pendudukan Belanda muncul sekitar tahun 1940. Di usia 40 tahun, Zaenal Mustofa mengobarkan semangat masyarakat untuk bersatu mengangkat harkat martabat bangsa dari penjajahan. Karena beliau berkeyakinan, penjajahan oleh suatu bangsa terhadap bangsa lain adalah sebuah kemungkaran, dan kemungkaran harus dilawan. Sikap itu ia tunjukkan melalui pengajian-pengajian sebagai metode dakwah menumbuhkan nasionalisme di tengah masyarakat.

Melihat sepak terjang Zaenal Mustofa yang mengancam eksistensi para penjajah, pada tanggal 17 November 1941 beliau ditangkap Belanda dengan tuduhan penghasut rakyat. Namun dampak dari penahanan itu, santri dan masyarakat Sukamanah terus melakukan perlawanan.

Perlawanan demi perlawanan dari santri dan masyarakat kemudian memaksa Belanda melepaskan Zaenal Mustofa pada 10 Januari 1942. Hal itu dimaskdukan untuk meredakan resistensi dengan masyarakat. Namun berkebalikan, justru masyarakat semakin kuat hingga akhirnya Zaenal Mustofa ditangkap dan dipenjara di Ciamis pada Februari 1942.

Penahanan itu tak berlangsung lama. Pergantian kekuasaan dari Belanda kepada Jepang membebaskan Zaenal Mustofa dari penjara tepatnya pada Maret 1942. Pembebasan itu diharapkan agar perlawanan terhadap bangsa penjajah meredup, sekaligus bisa membantu Jepang.

Namun, dengan memegang teguh prinsip bahwa penjajahan adalah kemungkaran dan kemungkaran harus dilawan, Zaenal Mustofa melakukan perlawanan terhadap Jepang. Puncaknya yakni saat menolak melakukan perintah saikerai atau penghormatan kepada kaisar Jepang dengan membungkukkan badan ke arah Matahari. Beliau menilai, itu bertentangan dengan tauhid.

AYO BACA : Masa Depan Menurut Batu Keramat Situ Sanghiang

Perlawanan dengan cara berperang secara langsung pun direncanakan. Namun rencana itu tercium Jepang. Pada tanggal 25 Januari 1944, Jepang pun mengirim pasukan untuk berdialog, namun upaya itu ditolak mentah-mentah. Akhirnya pada bulan Februari 1944 pasukan Jepang menyerang Pesantren Sukamanah. Dengan persenjataan lengkap, Jepang memberondong Zaenal Mustofa dan santrinya.

Berbekal Senjata pedang bambu dan bambu runcing, Zaenal Mustofa dan santri melayani pertempuran dengan heroik. Meskipun akhirnya 89 santri gugur sebagai syuhada dan Zaenal Mustofa ditangkap dan dibawa ke Bandung. Selang beberapa bulan, pada tanggal 25 Oktober 1944 Zaenal Mustofa kemudian dieksekusi di Jakarta.

Pedang Bambu dan Bambu Runcing Jadi Senjata Mematikan

Cicit Zaenal Mustofa, Yusuf Hazim menuturkan, bukti perlawanan yang dilakukan kakek buyutnya dan santri menggunakan pedang bambu ada hingga saat ini. Pedang bambu dan sejumlah bambu runcing masih tersimpan sebagai bukti sejarah perlawanan terhadap penjajah.

"Masih tersimpan dengan baik, bahkan ada juga bayonet hasil rampasan dari Jepang dan pedang yang dipakai pak kyai. Ini kami simpan sebagai suatu kebanggaan pada kakek buyut kami," papar Yusuf, dijumpai ayotasik.com, Jumat (2/8/2019).

Secara sekilas, kata Yusuf, tidak masuk akal saat pedang yang terbuat dari bambu mampu melakukan perlawanan sengit kepada Jepang. Namun, lanjutnya, dengan izin Allah Swt, pedang bambu mampu membunuh serdadu Jepang yang hampir rata menggunakan peralatan perang kepalang canggih di masa itu.

"Mungkin ada doa khusus dari pak kyai, sehingga akhirnya pedang bambu bisa menghabisi serdadu jepang," papar Yusuf.

Yusuf menegaskan, sikap patriotik dan nasionalisme Zaenal Mustofa harus tetap menyala di kalangan generasi muda meski sosoknya terlampau lama telah meninggalkan dunia. Tiga di antara perbuatan baik yang selalu ditunjukkan Zaenal Mustofa dan patut ditiru adalah berbuat yang terbaik untuk masyarakat, agama, dan bangsa.

AYO BACA : Menelusuri Jejak Jalur Kereta Api Tasikmalaya - Singaparna

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar