Yamaha Lexi

Mempertanyakan Kualitas Udara Kota Bandung: Data Kerap Berbeda, AQMS Diklaim Akurat

  Kamis, 01 Agustus 2019   Nur Khansa Ranawati
Data kualitas udara Kota Bandung berdasarkan perhitungan AirVisual dan AQMS DLHK Kota Bandung pada Kamis (1/8/2019) malam pukul 20:40. (Nur Khansa Ranawati/Ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Belakangan ini, isu kualitas udara di Jakarta yang kerap diberitakan berada dalam kondisi yang buruk membuat warga khawatir. Sejumlah postingan warga di media sosial menunjukan buruknya angka kualitas udara ibukota melalui tangkapan layar sebuah aplikasi pengukur udara yang dapat diakses secara cuma-cuma. Sebagian lagi memotret visual udara yang nampak tak jernih dari balkon-balkon gedung tinggi.

"Maybe we should start calling this the air pollution *crisis* because it is getting out of hand. We are literally dying and the government isn’t really doing anything. Not even a circular to wear appropriate masks!,"

"Mungkin kita mulai harus menyebut polusi udara ini sebagai krisis karena mulai tak terkendali. Kita benar-benar tengah sekarat dan pemerintah tidak melakukan apapun, bahkan untuk sekedar imbauan penggunaan masker yang layak!" ungkap salah satu warga ibukota, Andhyta Firselly Utami dalam akun Twitternya @afutami, Selasa (30/7/2019).

Dalam unggahan yang mendapat 1,8 ribu retweet dan 1,2 ribu likes tersebut, Andhyta menunjukan tangkapan layar aplikasi AirVisual yang memperlihatkan bahwa kondisi udara di Jakarta berada dalam skala Air Quality Index (AQI) 216 dari 500, dan masuk ke dalam kategori very unhealty atau sangat tidak sehat. 

Sementara itu, bila dibandingkan dengan data pengukur kualitas udara AQMS yang terpasang di Jakarta, kualitas udara dengan skala yang serupa pada hari itu menunjukan angka 76,5 di Jakarta Pusat, masuk ke dalam kategori Moderate, atau Sedang dalam skala Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

Dari kedua data tersebut, dapat dipahami bahwa terjadi perbedaan label kualitas udara dari dua alat pengukuran yang tersedia, yakni AirVisual yang dapat diakses secara cuma-cuma dan AQMS yang diinstal secara nasional di sejumlah titik di berbagai kota di Indonesia oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Lantas, bagaimana dengan Kota Bandung? Perbedaan data serupa juga ternyata terjadi. 

Ayobandung.com membandingkan data kualitas udara yang ditangkap oleh AirVisual dan AQMS pada Kamis, (1/8/2019) pagi dan sore. Pada Kamis pagi pukul 9.02, data yang tertangkap oleh AirVisual menunjukan rata-rata kualitas udara di Kota Bandung mencapai angka 127 AQI dengan status unhealty for sensitive group atau tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Sementara itu, dari data AQMS yang terpasang di empat titik di Kota Bandung, meliputi Dago, Pajajaran, Ujungberung dan Gedebage masing-masing menunjukan kualitas udara berada dalam kondisi baik, yakni skala ISPU 39 (Dago) dan 11 (Pajajaran, Gedebage dan Ujungberung). Adapun data AQMS Kota Bandung dapat diakses melalui aqms.bandung.go.id.

Di sore hari pada pukul 16.35, data AirVisual Kota Bandung menunjukan angka AQI 130, lebih buruk dibanding data pagi hari namun masih berada dalam kategori yang sama. Sementara, data AQMS masih menujukan kualitas udara yang baik di masing-masing titik, yakni ISPU 38 (Dago), 11 (Ujungberung dan Pajajaran), serta 12 (Gedebage).

AYO BACA : Pantau Kualitas Udara di Bandung dengan Aplikasi UdaraKita

Sebagai perbandingan, Ayobandung.com sore ini juga mencoba mengakses web pengukur kualitas udara lainnya yang dapat digunakan cuma-cuma, yakni Breezometer. Alat pengukur tersebut dapat menghitung angka kualitas udara dari titik yang lebih spesifik, hingga tiap jalan dan kecamatan di masing-masing kota.

Untuk wilayah Dago, Gedebage, dan Pajajaran, Breezometer mengeluarkan angka ISPU 72. Sementara untuk Ujungberung berada di angka ISPU 75. Keseluruhannya berada dalam status "sedang". 

Membaca AQI dan ISPU

Air Quality Index atau AQI adalah standar pengkuran udara yang digunakan Amerika Serikat dan beberapa negara di dunia untuk mengukur kualitas udara di suatu tempat, dihitung dari jumlah kandungan beberapa partikel di dalamnya.

 AQI memiliki skala 0-500 untuk mengkategorisasi kualitas udara di suatu tempat, yakni Good (0-50), Moderate (51-100), Unhealthy for Sensitive Groups (101-150), Unhealthy (151-200), Very Unhealthy (201-300) dan Hazardous (301-500). 

Sedangkan ISPU atau Indeks Standar Pencemar Udara merupakan skala ukur serupa versi Indonesia, dengan kategorisasi Baik (0-51), Sedang (51-101), Tidak Sehat (101-199), Sangat Tidak Sehat (200-299), Berbahaya (300-50.000). 

Baik AQI maupun ISPU ditetapkan berdasarkan kadar 5 kategori pencemar utama di udara, yaitu karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), Ozon permukaan (O3), dan partikel debu (PM10).

Adapun komponen udara yang diukur untuk menghasilkan angka pada kedua skala tersebut adalah udara ambien, atau udara di lapisan troposfer yang dihirup sehari-hari oleh manusia. Udara ambien berbeda dengan udara emisi, yakni udara yang dikeluarkan oleh sumber gas emisi seperti knalpot kendaraan bermotor atau cerobong buangan pabrik. Udara emisi dapat mencemari udara ambien apabila tidak dikelola dengan tepat.

Berbeda Metode, Sama-sama Valid

Pihak DLHK Kota Bandung membenarkan adanya perbedaan data dari alat ukur yang resmi dimiliki pemerintah Indonesia dengan alat-alat ukur yang dapat diakses secara luas di internet, salah satunya AirVisual. Perbedaan tersebut dikatakan bersumber dari perbedaan metodelogi pengukuran yang diterapkan pada masing-masing alat.

AYO BACA : Jaga Kualitas Udara, DLH Cimahi Siap Uji Emisi Kendaraan

"Metode pengukurannya kan biasanya berbeda-beda, walaupun pada dasarnya sama, kita mengukur udara ambien. Alat yang kita miliki ini sama validnya, kita kurang tahu alat yang mereka pakai metode-nya apa, cara ukurnya bagaimana," ungkap Kepala Seksi Rehabilitasi Lingkungan Hidup DLHK Kota Bandung, Irene Irnamurti ketika dihubungi Ayobandung.com, Rabu (31/7/2019).

Meski berbeda, Irene mengatakan, perbedaan tersebut tidak akan terlalu jauh. Dirinya mengatakan hal tersebut boleh jadi disebabkan oleh metode pengukuran AirVisual yang dapat merekam kualitas udara dengan lebih peka.

"Tidak berbeda jauh sih sebenarnya, dari penilaian kami mungkin dia lebih detil, lebih canggih atau lebih ketat. Sehingga lebih sesitif hasilnya. Saya lihat sepintas di website-nya sih, metodelogi mereka tidak terlalu dijelaskan," ungkapnya.

Dia mengatakan, metode pengukuran yang diterapka AQMS mengacu pada standar yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Adapun teknologi yang diimplementasikan pada alat tersebut didatangkan langsung dari Jerman.

"Standarnya AQMS harus mengacu ke PP 41 Tahun 1999 itu. Teknologinya impor banget dari Jerman, sudah dapat standar dair ISO (International Standard Organization)," ungkapnya.

Berdasarkan keterangan yang tertera pada laman web AirVisual, dapat disimpulkan bahwa pihak AirVisual menggunakan perhitungan kualitas udara melalui data satelit.

"Kalau kita pakai sistem intranet, semua alat terintegrasi. Alat pemantau udara mengukur kualitas udara, kemudian ditarik data samplingnya dan diukur otomatis. Setelah itu hasil pengukurannya dikirim ke server kami setiap setengah jam sekali," ungkap Irene.

Meskipun alat tersebut mengukur udara tiap setengah jam sekali, namun data yang terpampang baru diperbaharui tiap pukul 15.00 setiap harinya. Dia mengatakan hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan teknologi yang dimiliki.

"Ya tidak sesederhana itu sistem IT-nya untuk bisa menampilkan realtime. Tiap pukul tiga sore juga cukup mewakili. Kita ambil data yang terburuk dari seharian itu," jelasnya.

Ketika ditanya apakah AQMS yang dicanangkan beberapa tahun lalu tersebut hingga saat ini masih berfungsi dengan prima, Irene mengatakan pihak DLHK Kota Bandung senantiasa melakukan perawatan dan kalibrasi secara berkala. Sehingga, data yang ditransmisikan oleh alat tersebut hingga saat ini dinilai tetap akurat.

"Kita rutin melakukan kalibrasi setahun sekali, kalau penggantian spare part yang sangat penting dan sifatnya besar itu tiap enam bulan sekali. Sehabis Lebaran kemarin kita juga baru lakukan kalibrasi. Jadi datanya dijamin akurat," ungkapnya.

AYO BACA : Kamis Siang Kualitas Udara Ibu Kota Negara Terburuk di Dunia

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar