Yamaha Mio S

Mengakhiri Kompetisi dan Mengawali Konsolidasi

  Kamis, 01 Agustus 2019   Dadi Haryadi
Ilustrasi Pilpres 2019. (Attia/Ayobandung.com)

Hampir enam bulan lamanya bangsa kita berada posisi tegang, masyarakat dibuat takut dan panik. Segala perbuatan serta pembicaraan masyarakat selalu dimonitoring, kalau ingin berbicara  harus  penuh kehati-hatian. Karena jangan sampai apa yang dibicarakan itu di anggap sebagai fitnah atau hoaks.

Begitupan dengan cara kita berinteraksi di media sosial, jika kita ingin menyebarkan sebuah gambar maupun video salah satu pasangan calon harus teliti jangan sampai gambar ataupun video yang kita sebarkan itu melanggar UU ITE. Sadar atau tidak, keadaan seperti inilah yang dirasakan oleh masyarakat kita selama kontestasi politik 2019 kemarin.

Pada pilpres 2019 kemarin Semua tim pemenangan diajak untuk saling berkompetisi, entah itu kompetisi untuk saling berlomba-lomba mencari suara maupun simptisan. Ataupun berkompetisi untuk saling mengawal maupun memonitoring segala interkasi serta ucapan lawan politik masing-masing, yang bisa dicurigai sebagai ucapan kebencian, hinaan, dan hoaks. Hingga pada akhirnya berujung pada saling serang menyerang dengan diksi-diksi kampret dan cebong.

Kompetisipun semakin sengit, setelah hasil perhitungan suara dari Komisi Pemilihan Umum yang menyatakan kemenangan terhadap pasangan Jokowi- Ma’aruf Amin. Karena kubu lawan tidak terima begitu saja hasil dari perhitungan tersebut, karena dianggap sarat dengan kecurangan dan manipulasi. Sehingga kompetisipun dilanjutkan dengan gugatan di Mahkama Konstitusi. Tapi sayang gugatan dari kubu prabowo-sandi ditolak oleh hakim MK. Dan akhirnya kompetisi itupun tetap dimenangkan oleh kubu Jokowi-Ma’aruf Amin.

Kompetisi berakhir setelah pertemuan antara presiden terpilih pak Jokowi dengan Pak Probowo di MRT pada 13 juli 2019 kemarin. Dan dilanjutkan pertemuan antara Pak Prabowo dengan Ibu Megawati di Menteng Jakarta, Rabu 24 Juli 2019 atau yang dinamakan pertemuan Teuku Umar dengan menu makanan nasi goreng atau disebut oleh para pengamat sebagai politik nasi goreng.

Pertemuan ini adalah akhir dari segala kompetisi itu, akan tetapi menurut para pengamat politik bahwa pertemuan ini merupakan awal dari sebuah konsolidasi. Banyak para pengamat politik yang mengatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan pertemuan untuk membagi jatah kue kekuasaan. Ada pula yang mengatakan pertemuan itu merupakan pertemuan untuk langkah politik tahun 2024 mendatang. Karena Pak Jokowi untuk tahun 2024 mendatang sudah tidak bisa lagi mencalonkan diri sebagai presiden karena sudah menjabat dua priode sesuai dengan aturan yang ada pada UUD 1945 dan Undang-Undang Pemilu.

Pendapat seperti ini wajar-wajar saja dilontarkan oleh seorang pengamat, bukan dikatakan pengamat kalau mereka tidak mampu membaca gerak-gerik dari para tokoh politik Nasional kita. Walaupun pada dasarnya pertemuan ini murni untuk mengembalikan marwah persatuan dan kesatuan serta keutuhan masyarakat, bangsa, dan negara, yang sempat terpolarisasi akibat dari kompetisi Pilpres 2019 kemarin itu.

Tapi sebagai rakyat Indonesia kita harus menghargai pertemuan dua tokoh politik kita tersebut, sebagai langkah untuk mempersatukan bangsa dan negara. Dan sudah saatnya masyarakat kembali pada posisi semula yang saling menghargai dan menghormati antara satu sama lain. Kita lupakan segala persoalan yang terjadi pada Pilpres kemarin, dan mari kita sama-sama mengawal dan mengontrol segala kebijakan pemerintah kita yang baru.

Apabila ada kebijakan yang tidak pro terhadap masyarakat, sebagai warga negara kita berhak untuk mengkritisi. Akan tetapi apabila ada kebijakan dari pemerintah yang pro terhadap rakyat marilah kita sama-sama membantu untuk mendorong kebijakan tersebut. Karena negara ini tidak bisa diurus hanya satu orang saja, tapi membutuhkan banyak orang termasuk kita sebagai warga negara.

Penulis Alimudin Sape

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar