Yamaha NMax

Kapal Rusak, 15 Warga Ethiopia Tewas

  Rabu, 31 Juli 2019   M. Naufal Hafizh
Imigran Ethiopia terlantar di tengah perang Yaman, duduk di lokasi penahanan menunggu repatriasi ke negara mereka, di Aden, Yaman, Rabu (24/4/2019). (ANTARA/REUTERS/Fawaz Salman/djo)

DUBAI, AYOBANDUNG.COM—Sedikitnya 15 warga Ethiopia tewas setelah kapal yang membawa 90 orang tersebut akan menyelundupkan mereka ke Yaman rusak. Hal itu menyebabkan mereka terdampar di laut tanpa makanan atau air selama seminggu, ujar Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Berdasarkan kesaksian korban yang selamat, sebagian besar korban meninggal karena kelaparan dan kehausan. Sementara yang lain menenggelamkan diri sendiri dan tidak mendapatkan bantuan medis.

Selama lebih dari empat tahun, perang saudara yang berlangsung di Yaman telah menelan korban hingga puluhan ribu orang.

Yaman saat ini di ambang bencana kelaparan akibat perang saudara yang tak kunjung usai.

Meski begitu, ribuan migran yang sebagian besar dari Afrika tiba di Yaman setiap tahun.

Ribuan migran tersebut berharap bisa pindah ke negara-negara Arab dan kawasan teluk yang kaya agar bisa keluar dari jerat kemiskinan dan pengangguran di dalam negeri.

"Para migran melakukan perjalanan dari Djibouti ke Yaman ketika kapal penyelundup itu rusak," kata IOM di akun resminya di Twitter Selasa (20/7/2019) malam.

AYO BACA : 6 Cara Mengontrol Rasa Lapar Berlebihan

"Mereka yang ada di kapal melaporkan bahwa mereka yang meninggal disebabkan kelaparan, kehausan, dan tenggelam, sementara beberapa orang meninggal di Yaman karena mereka tidak dapat mencapai fasilitas kesehatan tepat waktu," tambahnya.

Kapal penyelundup yang membawa 90 orang Ethiopia itu tiba di kota pelabuhan Aden, di bagian selatan Yaman, ujar Organisasi Internasional untuk Migrasi itu, tanpa memberikan perincian tentang bagaimana kapal itu sampai di Aden.

Sebagian besar keberadaan korban yang selamat tidak diketahui, tambah organisasi internasional itu seperti dikutip Reuters, Selasa.

Pada Mei 2019, organisasi internasional untuk migrasi menyerukan pembebasan lebih dari 3.000 migran, sebagian besar orang Ethiopia.

Berdasarkan laporan, para migran tersebut ditahan dalam kondisi tidak manusiawi di dua pusat penahanan di Aden dan Lahj, yang berada di bawah kendali pemerintah Yaman, yang didukung Saudi.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE) yang memimpin koalisi militer melakukan intervensi pada 2015 untuk melawan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Upaya intervensi ini dilakukan untuk mengembalikan kekuasan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diakui secara internasional.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar