Yamaha Lexi

Program Kesehatan Reproduksi Perempuan Jadi Prioritas BKKBN

  Rabu, 31 Juli 2019   M. Naufal Hafizh
Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dwi Listyawardani saat menyematkan penghargaan kepada Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tengah saat peringatan Hari Keluarga Nasional XXVI Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah, di Palu, Rabu (31/72019). (ANTARA/Moh Ridwan)

PALU, AYOBANDUNG.COM—Saat ini program kesehatan reproduksi perempuan menjadi prioritas Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Hal ini sebagai langkah persiapan melahirkan generasi berkualitas.

"Jika ingin melahirkan generasi berkualiatas maka yang harus dijaga pertama, yakni kualitas kesehatan perempuan sejak awal kehidupannya hingga tumbuh dewasa," kata Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dwi Listyawardani saat menghadiri peringatan Hari Keluarga Nasional XXVI Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah di Palu, Rabu (31/7/2019).

AYO BACA : Kapan Ibu Hamil Mendeteksi Kelainan Bibir Sumbing pada Bayi?

Kesehatan reproduksi, kata dia, bagian penting yang harus menjadi perhatian setiap individu untuk melahirkan
keturunan guna membentuk suatu keluarga.

Dia memaparkan, banyak perempuan di Tanah Air ditemukan belum siap melaksanakan fungsi reproduksinya, di antaranya karena menikah dalam usia terlalu muda sehingga berdampak pada kondisi fisik dan organ reproduksi, termasuk kondisi mental.

AYO BACA : Stunting Bisa Dicegah Sejak 4 Bulan Masa Kehamilan

Menurut dia, pernikahan pada usia anak atau di bawah 20 tahun rentang terhadap risiko kematian ibu saat melahirkan.

Dari BKKBN pusat, proporsi kematian ibu saat melahirkan sekitar 25 hingga 30 persen, termasuk kekurangan
gizi kronis pada anak atau kekerdilan, separuhnya lahir dari ibu yang masih berusia muda.

"Melalui program generasi berencana dan pendewasaan usia perkawinan menjadi agenda utama BKKBN dan Kementerian Kesehatan, karena dengan kesiapan berumah tangga dan kesiapan melaksanakan fungsi reproduksi, khususnya bagi perempuan maka banyak persoalan yang dapat diselesaikan, terutama angka kematian ibu dan stunting (kekerdilan)," ungkap Dwi.

Dia mengatakan, secara nasional, angka kematian ibu saat bersalin masih cukup tinggi, yakni 305/100.000 kelahiran hidup atau sekitar 15.000 kasus, sedangkan persentase kekerdilan 27 sampai 30 persen atau sekitar sembilan juta balita mengalami kekurangan gizi.

AYO BACA : Ini Bahaya Konsumsi Kunyit Berlebih saat Hamil

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar