Yamaha Mio S

Siaga Kekeringan di KBB Berlangsung 1 Agustus sampai 31 Oktober

  Selasa, 30 Juli 2019   Faqih Rohman Syafei
Warga mengambil air di sumur galian Situ Sipatahunan, Kampung Sipatahunan, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Rabu (24/7/2019). (Muhammad Dzikri/ayobandung.com)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) akan menetapkan status siaga kekeringan. Status tersebut berlangsung dari 1 Agustus-31 Oktober 2019.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD KBB, Dicky Maulana mengatakan penetapan status siaga kekeringan didasari hasil rapat koordinasi di BPBD Jawa Barat, dan surat edaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

AYO BACA : Pemkab Bandung Nyatakan Status Siaga Bencana Kekeringan

"Dinaikan statusnya siaga dari surat edaran BMKG terkait musim kemarau dan hasil rapat koordinasi di BPBD Jawa Barat dan hasil rapat BPBD KBB. Siaga kekeringan mulai 1 Agustus-31 Oktober," ujarnya, Selasa (30/7/2019).

Dia menyebutkan berdasarkan data yang dirilis oleh BMKG, pada tahun ini puncak musim kemarau terjadi pada Agustus sampai September dan akan berakhir di Oktober.

AYO BACA : Antisipasi Kekeringan, Jokowi Instruksikan Penyebaran Hujan Buatan

Sambungnya, untuk mengantisipasi permintaan air bersih, BPBD KBB pun sudah menyiapkan sejumlah armada untuk menyalurkan air. Selain itu, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mengatasi kebutuhan air.

"Sampai sekarang belum ada permintaan air bersih. Tapi kami sudah siapkan fasilitas yang kami punya satu unit tangki, UPTD Pertamanan ada empat unit, PMI ada satu unit tangki air. Selain itu Dinas PUPR dan Pertanian ada program pembuatan sumur bor," katanya. 

Dicky mengungkapkan sampai saat ini kekeringan di wilayah KBB baru terjadi di tiga kecamatan. Menurutnya, daerah yang terjadi kekeringan tidak berbeda dengan tahun sebelumnya.

"Hampir setiap tahun sama, dalam setiap kecamatan tidak semuanya hanya beberap kampung. Dari segi historis di 440 titik kalau sekarang belum ada laporam resminya, baru ada dari Cikalong Wetan, Cililin, dan Parongpong," ungkapnya.

AYO BACA : 20.269 Hektare Lahan Pertanian Berpotensi Puso

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar